Sarat Kepentingan Politik, Masyarakat Khawatir KAMI Rusak Demokrasi Indonesia

Kekhawatiran masyarakat terhadap aktivitas Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) terus berkembang. Koalisi ini dituding masyarakat sarat akan kepentingan politik praktis. Bahkan tokoh-tokoh yang tergabung didalam koalisi itu, merupakan barisan yang nyatanya masuk dalam koalisi pemenangan paslon capres 2019. Sehingga kekhawatiran masyarakat itu pun wajar adanya.

Sejumlah kelompok masyarakat pun diketahui menolak deklarasi serta manuver politik yang dilakukan oleh KAMI. Aksi penolakan itu terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu kelompok masyarakat yang menolak langkah KAMI, yakni Serdadu Merah Putih. Mereka merasa bahwa KAMI memiliki kepentingan untuk menciptakan persoalan politik.

Koordinator Serdadu Merah Putih, Daryanto, mengungkapkan bahwa kepentingan politik dibalik narasi yang digaungkan KAMI berbahaya bagi sistem demokrasi Indonesia. “KAMI ini kan gerakan politik yaa, kita khawatir gerakan ini dapat mengancam demokrasi kita. Kita kan gamau hal ini terjadi,” tegas Daryanto.

Selain itu, lanjut Daryanto, keberadaan KAMI ini berpotensi memunculkan gesakan sesama anak bangsa, yang ujungnya akan memecah belah dan membuat keributan saja. “Keberadaan KAMI juga berpotensi memunculkan gesekan antar sesama anak bangsa, jika terus dibiarkan. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi benih-benih perpecahan di Indonesia,” pungkasnya.

Di tempat lain, Aliansi Satukan Langkah Untuk Negeri juga menyatakan diri menolak KAMI berserta provokasinya di wilayah Pemalang. Koordinator Aliansi Satukan Langkah Untuk Negeri, Andi Rustono, mengatakan KAMI memanipulasi masyarakat untuk membenci Pemerintah. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat tidak mendukung kebijakan-kebijakan Pemerintah. “KAMI memprovokasi masyarakat, memecah-belah bangsa untuk membenci Pemerintah yang sah. Hal ini yang akan mengancam sistem demokrasi Indonesia,” kata Andi.

Andi meminta masyarakat untuk mengantisipasi provokasi-provokasi yang disampaikan oleh kelompok-kelompok politik terselubung, seperti KAMI. Dirinya juga menyebut KAMI ini hanya barisan sakit hati yang terbuang dari birokrasi maupun kalah dalam kontestasi Pemilu 2019 lalu. “KAMI merupakan kumpulan orang-orang yang tersingkir atau tidak terpakai dalam pusaran kekuasaan. Jangan sampai manuver KAMI membawa polarisasi residu dari Pilpres lalu,” tutupnya. (JS)

Tinggalkan Balasan