Dinilai Mengancam Persatuan Bangsa, Kelompok Pemuda dan Masyarakat Tegas Menolak KAMI

Aksi unjuk rasa damai yang dilakukan oleh Gerakan Masyarakat Maros (Gemar) Menolak gerakan dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Aksi unjuk rasa tersebut digelar di lampu merah patung kuda jl. Poros Maros-Makassar Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. Koordinator Gemar, Amar Ma’ruf, mengatakan bahwa kelompknya tegas menolak KAMI, karena gerakan tersebut mengarah pada makar.

“Kebebasan dan sistem demokrasi telah dijadikan alat bagi kelompok tertentu, seperti Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) untuk merongrong legitimasi Pemerintah, bahkan menciptakan keretakan dalam kehidupan sosial dan memperbesar ruang konflik di tengah masyarakat,” ujar Amar.

Padahal, lanjut Amar, persoalan penting yang harus menjadi perhatian masyarakat adalah mencari solusi agar penanganan Covid-19 dapat maksimal. Namun yang terjadi, katanya, malah ada kelompok-kelompok yang berusaha membangun pesimistis terhadap upaya Pemerintah.

“Kondisi Indonesia saat ini yg tengah berjuang melawan pandemi Covid-19, justru oleh oknum tertentu dijadikan momentum untuk mewacanakan kegagalan pemerintah yang sama sekali tidak beralasan,” tegasnya.

Tidak hanya Gemar saja yang melakukan aksi penolakan. Komunitas Pemuda dan Mahasiswa Sumatera Selatan juga menggelar aksi penolakan KAMI di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang.

Koordinator Aksi Dodi Hari mengatakan, wilayah Sumsel ini terkenal dengan “Zero Konflik”. Dengan kehadiran KAMI di Sumsel ini, dia menilai akan membuat kegaduhan di Sumsel. Sehingga hal tersebut tidak diinginkannya.

“KAMI hanya akan membuat kegaduhan dan mengancam persatuan. Selain itu khawatir akan merusak konstitusi di Indonesia,” kata Dodi.

Untuk itu, Dodi berharap tidak ada rekan-rekan mahasiswa dan pelajar yang ikut dalam deklarasi KAMI di Sumsel tersebut. Pemuda Sumsel diharapkan bersatu menjaga bangsa agar tidak dipecah belah oleh kelompok kepentingan yang mengancam bansa. “Pemuda Sumsel tetap satu, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, (NKRI),” tutupnya. (NA)

Tinggalkan Balasan