Narasi Perjuangan Dinilai Sangat Kontradiktif, Sejumlah Elemen Masyarakat Tegas Menolak KAMI

Berbagai tokoh publik menilai kehadiran Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) tidak akan memunculkan perubahan yang signifikan karena narasi perjuangan yang disuarakan tidak jelas. Hal itu juga menjadi alasan sejumlah elemen masyarakat melakukan aksi unjuk rasa menolak kelompok yang diinisiasi oleh Din Syamsuddin itu.

Para organisasi kepemudaan di Nusa Tenggara Barat yang tergabung di dalam Aliansi Pemuda dan Mahasiswa NTB (PM NTB) Bersatu melakukan aksi unjuk rasa di depan gedung Bank Indonesia (BI) Mataram, menolak manuver Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang ingin mendeklarasikan diri di wilayah mereka.

Koordinator Lapangan PM NTB, Isnaini, mengatakan langkah KAMI yang ingin melakukan deklarasi di tengah situasi pandemi COVID-19 sangat kontraproduktif dengan upaya pencegahan penyebaran virus tersebut. “Sampai saat ini bangsa Indonesia masih mencari cara agar Covid-19 tidak meluas penyebarannya, akan tetapi malah KAMI justru melakukan deklarasi. Inikan sangat kontraproduktif,” ujar Isnaini.

Bahkan menurut Isnaini, kehadiran KAMI juga menjadi sumbangsih dari kegaduhan masyarakat. Atas dasar itu, ia dan sejumlah masyarakat menolak hadirnya KAMI di Indonesia, terutama di Nusa Tenggara Barat. “Mahasiswa dan Pemuda NTB siap bersatu menolak deklarasi KAMI karena hanya akan mengundang kegaduhan di tengah-tengah masyarakat NTB,” tegasnya.

Tidak hanya di NTB, warga Kota Tasikmalaya juga ikut menolak berbagai konspirasi dan manuver KAMI. Ratusan orang yang tergabung dalam Paguyuban Warga Tasikmalaya Bersatu turun ke jalan melakukan aksi penolakan. Mereka menggelar aksinya di kawasan Taman Makam Pahlawan Karoeng, Jalan Sutisna Senjaya Empangsari, Kec. Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Koordinator aksi, Sugiyanto menyatakan, unjuk rasa dilatarbelakangi kekhawatiran warga karena deklarasi KAMI ini dilakukan di masa pandemi covid-19. Tak cuma itu, alasan penolakan yang tak kalah penting yaitu deklarasi KAMI di Tasikmalaya berpotensi memecah belah keutuhan warga Kota Tasikmalaya.

“Gerakan KAMI yang menggelar deklarasi di sejumlah daerah ini bukan lagi gerakan moral tapi politik. Bahkan gerakan politik KAMI sudah terindikasi makar, karena terus mendiskreditkan Pemerintahan yang sah. Bahkan mereka terus memprovokasi rakyat untuk melawan Pemerintah,” kata Sugiyanto.

Untuk itu, Sugiyanto, mengajak seluruh elemen bangsa untuk menolak berbagai macam provokasi dan penggiring opini yang dilakukan oleh KAMI. Hal itu agar persatuan dan kesatuan bangsa tidak mudah terpecah sehingga menyebabkan konflik baru di masyarakat. (GR)

Tinggalkan Balasan