Makna Pancasila sebagai ideologi bangsa indonesia adalah bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi pancasila dicerminkan lewat visi atau arah dari penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, yakni terwujudnya kehidupan yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang bersatu, yang berkrakyatan, dan yang keadilan.

Dalam Pancasila diangkat dari nilai-nilai, adat istiadat, kebudayaan, nilai-nilai moralitas yang terdapat dalam pandangan hidup bangsa indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa, budaya dan agama serta norma-norma kehidupan masyarakatnya. 

Kemajuan zaman tidak terhindarkan, namun keyakinan dan penerapan nilai-nilai Pancasila tidak boleh hilang tersapu era yang makin modern, dimana digitalisasi mampu membuka keterbatasan-keterbatasan negara di dunia. Pancasila sudah terbukti mempersatukan bangsa. Di saat generasi muda sangat erat berhubungan dengan kemajuan IT, maka nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila mampu menciptakan generasi muda emas yang bukan hanya maju dalam IPTEK tap juga memiliki nilai moral yang tinggi sehinggga disegani dunia luar.

Dalam rangka turut serta menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda penerus bangsa, BEM Universitas Jakarta (Unija) bakal menggelar Zoom Meeting pada hari Senin, 28 September 2020 pukul 13.00 sd 14.00 WIB, dengan mengangkat tema “Perkuat Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa”. 

Acara tersebut akan menghadirkan narasumber atau pembicara Rektor Unija, Ibu Shafiria Sada Manaf, SH., MM., dan Cendekiawan Pancasila Bapak Yudi Latif MA., Ph.D.()

JAKARTA – Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) mengklaim prihatin atas kebangkitan komunisme dan PKI gaya baru di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Hal itu disampaikan dalam surat KAMI yang dikirimkan kepada Presiden Jokowi. Didalam surat itu, KAMI meminta agar Presiden bertindak serius terhadap munculnya komunisme dan PKI gaya baru yang sudah merambah di jajaran eksekutif dan legislatif.

Langkah KAMI mnegirim surat itu Presiden memunculkan polemik. Berbagai pihak menilai tudingan itu terlalu bias. Bahkan tidak sedikit yang menduga langkah itu merupakan bagian politik koalisi yang dipimpin Din Syamsuddin. Salah satu yang cukup kritis terhadap langkah KAMI, yakni Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. Ia mengungkapkan bahwa isu komunis dan PKI merupakan bahasan yang sudah usang.

“Isu komunis dan PKI merupakan propaganda usang yang terus digaungkan ke tengah publik dari masa ke masa. Penggunaan isu PKI oleh KAMI terbukti hanya untuk kepentingan politik,” ujar Karyono.

Lanjutnya, strategi yang digunakan KAMI ini tidak kreatif untuk mencari simpati dan dukungan dari masyarakat. “Mereka kurang kreatif dan inovatif dalam membuat propaganda yang lebih efektif dan simpatik. Semestinya masih banyak isu yang bisa disuarakan KAMI,” katanya.

Kritik terhadap langkah KAMI, juga disuarakan Pengamat Komunikasi Politik, Ari Junaedi. Ia bahkan menyebut alasan KAMI kembali mengungkit isu komunis dan PKI tidak beralasan. Hal itu karena isu ini sudah tidak menarik dan sudah usang.

“Tuntutan KAMI terkait bangkitnya PKI dan komunisme sangat tidak beralasan. Sebab komunisme sejak lama tidak mendapat tempat di Indonesia. Komunisme yang ditakutkan mereka sebuah fatamorgana, seperti berita hoaks yang diterima dengan sadar,” ujar Ari.

Wasekjen DPP PPP, Achmad Baidowi bahkan mendesak KAMI bisa membuktikan bahwa memang adanya PKI gaya baru di internal Pemerintahan. Jika tidak dikhawatirkan akan menjadi fitnah. “Sebaiknya dilampirkan bukti-buktinya untuk bisa melakukan tindakan lebih lanjut. Karena kalau tidak disertai bukti maka arahnya menjadi fitnah,” tegas Baidowi.