KAMI Ciptakan Kegaduhan Melalui Isu PKI

Langkah Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) menyuarakan ancaman adanya neo komunisme dan PKI gaya baru memunculkan berbagai sentimen negatif. Mereka yang menolak langkah itu umumnya merasa bahwa isu itu hanya “gorengan politik” KAMI untuk mendapatkan simpati masyarakat. Isu tersebut dinilai tidak jelas dan hanya untuk ciptakan kegaduhan politik saja.

Politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, mengatakan sebaiknya KAMI lebih mengedepankan program jelas ketimbang mempergunakan isu PKI yang hanya akan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. “Saya sarankan agar KAMI merubah cara-caranya berpolitik. Kalau mau jadi presiden sebaiknya jualan program yang jelas, bukan jualan PKI yang nyata-nyata sudah mati dan tak akan bangkit,” ujar Ferdinand.

Berbagai pengamat politik pun tidak kelewatan untuk mengomentari langkah KAMI itu. Pengamat Politik, Karyono Wibowo, mengatakan langkah petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) mempergunakan isu PKI hanya untuk menimbulkan kegaduhan dan sentimen negatif masyarakat terhadap pemerintahan Joko Widodo. Bahkan, kata Karyono, wajar saja jika masyarakat melihat strategi KAMI memiliki relevansi dengan kepentingan politik praktis 2024.

“Wajar juga jika dikatakan manuver KAMI memiliki relevansi dengan kepentingan Gatot di pilpres 2024 karena gelagatnya menunjukkan hasrat yang kuat untuk maju dalam kontestasi pilpres,” kata Karyono.

Meski demikian, Karyono menyebut narasi yang dibangun untuk mendapatkan panggung politik tidak salah. Hanya saja, Karyono menilai isu komunis atau PKI sudah kehilangan momentumnya karena kondisinya telah berubah, sehingga tidak sesederhana itu dalam mengkapitalisasi isu tersebut untuk kepentingan politik kontemporer.

Ditempat terpisah, Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti, mengatakan langkah KAMI menyuarakan isu PKI dan komunis dapat menguntungkan posisi mereka. Selain untuk menarik perhatian publik, juga dapat mendapatkan suara politik masyarakat dengan cara yang relatif murah. Namun penggunaan isu ini dapat menimbulkan kegaduhan di masyarakat karena khawatir dugaan munculnya PKI gaya baru.

“Naikkan isu PKI maka akan terkumpul perhatian dengan seketika. Apakah suara ini besar? Saya kira tidak. Mungkin tidak sampai 15% dari rakyat Indonesia. Tapi bagi mereka yang memang membutuhkan perhatian dan suara, angka 15% itu cukup menggiurkan. Apalagi didapatkan dengan cara yang relatif mudah dan meriah,” tegas Ray. Maka dari itu, langkah dan strategi yang digunakan KAMI yang menciptakan kegaduhan di masyarakat tidak akan lepas dari adanya tudingan kepentingan politik didepannya.

Tinggalkan Balasan