PKS Minta Petinggi KAMI Dibebaskan, Polri : Kita Punya Bukti Tersangka Menebar Kabar Hoaks

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid menilai penangkapan sejumlah tokoh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) oleh polisi tidak beralasan. Mereka tidak akan mengarahkan massa untuk berbuat anarki dalam aksi unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja. Untuk itu PKS meminta polisi membebaskan mereka.

“Lebih baik polisi segera membebaskan delapan anggota KAMI. Tidak mungkin mereka akan mengarahkan massa agar berbuat anarki. Tokoh KAMI yang ditangkap merupakan aktivis senior yang kritis,” ucap Hidayat Nur Wahid.

Namun tudingan itu langsung dibantah oleh pihak kepolisian. Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Argo Yuwono, mengatakan petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Syahganda Nainggolan terbukti memberikan dukungan kepada para demonstran dengan provokasi serta menyebarkan gambar yang tidak sesuai dengan peristiwa sebenarnya (hoaks).

“Modus yang dilakukannya ini, seperti ada foto kemudian dikasih tulisan, dikasih keterangan yang tidak sama kejadiannya. Contohnya ini salah satu poin, ini kejadian di Karawang, tapi gambarnya berbeda,” ujar Argo.

Menurutnya, tujuannya penyebaran provokasi dan gambar hoaks ini adalah supaya peserta unjuk rasa bertindak anarkis. Argo menegaskan, dengan motif yang dilakukan oleh tersangka SN ini membuat para demonstran tertipu dengan hoax.

“Motifnya mendukung dan men-support para demonstran dengan menyebarkan berita yang tidak sesuai dengan gambarnya dan tulisannya yang bersangkutan,” pungkasnya.

Hal itu juga diungkapkan oleh Pengamat Intelijen, Stanislaus Riyanta. Ia mengatakan penahanahan para petinggi KAMI bukan karena konteks mengkritisi Omnibus Law Cipta Kerja, namun karena mereka terbukti melakukan penyebaran haoks sehingga menjadi penyebab pecahnya aksi vandalisme dan aksi kekerasan di sejumlah daerah.

“Jadi bukan dalam konteks ditangkap dan menjadi tersangka karena mengkritik Omnibus Law. Mereka ditangkap dan ditahan karena menyebarkan hoax yang akhirnya menimbulkan aksi massa, vandalisme dan aksi kekerasan,” kata Stanislaus.

Tinggalkan Balasan