Provokasi Gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) mendapat penolakan dari masyarakat di sejumlah daerah. Publik menilai gerakan yang dideklarasikan Din Syamsuddin dan beberapa tokoh lain cenderung memecah belah bangsa.

Satu diantara kelompok masyarakat yang menolak yakni Kesatuan Aksi Milenial Indonesia. Mereka menilai deklarasi KAMI hanya untuk memprovokasi masyarakat dan memecah belah bangsa untuk membenci Pemerintah saja. “Deklarasi yang dilakukan oleh Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia merupakan bentuk kebencian terhadap pemerintah yang sah,” ujar Koordinator Kesatuan Aksi Milenial Indonesia, Ali Ibrahim.

Penolakan terhadap KAMI juga datang dari Aliansi Masyarakat Pesisir (AMP) Kota Makassar. Koordinator Aksi AMP, Andi Nasrul Rewa, kecewa dengan tokoh-tokoh yang tergabung didalam KAMI. Ia mengatakan kemunculan kelompok itu sangat tidak tepat disaat Pemerintah tengah berupaya melawan penyebaran virus Covid-19. Terlebih kelompok yang diinisiasi Din Syamsudin dkk ini bernuansa gerakan politik.

“Kemunculan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di tengah Pemerintah sedang dalam posisi berjuang melawan pandemi Covid-19 sangat tidak tepat. Apalagi gerakan ini diketahui sarat kepentingan politik untuk menjatuhkan kredibilitas Pemerintah,” kata Nasrul Rewa.

Publik pun terus mempertanyakan niatan para deklarator dan simpatisan KAMI muncul ditengah pandemi. Politisi PDIP, Kapitra Ampera menyebut Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) merupakan gerakan politis yang memanfaatkan situasi pandemi. Kapitra menyayangkan aksi tersebut, sebab diawal kemunculannya KAMI menyebut sebagai gerakan moral, namun seiring berjalannya waktu terlihat ini gerakan politik.

“Sangat disayangkan gerakan yang mengaku berlandaskan moral, namun kenyataannya menunjukan tidak bermoral karena memanfaatkan bencana Pandemi COVID-19 sebagai tanjakan politik, dibandingkan memilih bekerjasama dengan Pemerintah menanggulangi penyebaran virus, dan memberikan ketentraman kepada masyarakat,”ujar Kapitra.