Di hari pahlawan tahun 2020, Presiden Joko Widodo memberikan anugerah Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh di Istana Negara. Penganugerahan itu berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 117 TK Tahun 2020.

Ketua DPD-RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan penganugerahan gelar pahlawan Nasional kepada tokoh Papua menunjukkan bentuk penghormataan Presiden Joko Widodo kepada daerah. Hal ini pun juga dapat dikatakan sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat yang ikut menjaga kedaulatan bangsa.

“Saya mengapresiasi Presiden Jokowi yang menganugerahkan gelar pahlawan nasional untuk tokoh-tokoh daerah. Ini membanggakan bagi daerah,” kata La Nyalla. Ia menilai gelar itu menjadi kebanggaan masyarakat dan menjadikan publik merasa diapresiasi Pemerintah pusat.

Salah satu dari keenam tokoh itu adalah almarhum Machmud Singgirai Rumagesan, seorang tokoh yang pernah menjadi Raja di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengaku bangga bahwa Raja Machmud Singgirei Rumagesan masuk dalam daftar pahlawan nasional.

Pemberian gelar pahlawan bagi Machmud Rumagesan adalah sebuah kehormatan besar, karena baru kali ini Papua punya pahlawan nasional. Hal ini menunjukkan perhatian dari pemerintah pusat, dan menepis anggapan bahwa Papua dianaktirikan.

“Kami patut berbangga Papua Barat punya tokoh besar dan hari ini Pak Presiden akan menganugerahkan gelar sebagai pahlawan nasional,” ucap Machmud Rumagesan.

Enam tokoh yang dinobatkan sebagai pahlawan Nasional ditahun 2020, yakni Sultan Baabullah dari Provinsi Maluku Utara, Raja Sekar dari Provinsi Papua Barat Macmud Singgirei Rumagesan, dan Jenderal Polisi Purnawirawan (Purn) Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo dari Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.

Kemudian tokoh lainnya adalah Arnold Mononutu dari Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), MR. SM. Amin Nasution dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut), dan Raden Mattaher Bin Pangeran Kusen bin Adi dari Provinsi Jambi.

Oleh : Rebecca Marian )*

Di hari pahlawan, Presiden Jokowi memberi gelar pahlawan, termasuk kepada tokoh asli Papua, yakni Machmud Rumagesan. Pemberian gelar ini adalah sebuah kehormatan bagi warga Bumi Cendrawasih. Mereka merasa pemerintah pusat memperhatikan Papua dan memberi perhatian besar kepadanya.

Presiden Jokowi menganugerahkan gelar pahlawan kepada 6 orang, yakni Alm Sultan Baabullah, alm Jenderal Polisi purnawiraan Raden Said Soekanto, alm Arnold Mononutu, alm Sutan Mohammad Amin Nasution, alm Raden Mattaher, dan terakhir alm Machmud Rumagesan. Mendiang Machmud Rumagesan adalah pahlawan nasional dari Papua.

Pemberian gelar pahlawan bagi Machmud Rumagesan adalah sebuah  kehormatan besar, karena baru kali ini Papua punya pahlawan nasional. Hal ini menunjukkan perhatian dari pemerintah pusat, dan menepis anggapan bahwa Papua dianaktirikan. Tiap daerah sudah punya pahlawan nasional dan saat ini giliran Bumi Cendrawasih memilikinya.

Mendiang Machmud Rumagesan diangkat jadi pahlawan karena ia sangat berjasa melawan penjajah di era perjuangan. Walau berstatus Raja di Kerajaan Sekar, namun ia tidak mau jadi pemimpin boneka. Machmud malah tegas menentang penjajah dengan gagah dan turun langsung ke medan pertempuran. Walau memiliki resiko tinggi namun ia menghadapi kompeni dengan berani.

Kerajaan Sekar dulunya terletak di daerah Fakfak, Papua Barat. Perjuangan mendang Machmud Rumagesan untuk melindungi segenap rakyatnya sangat patut membuatnya digelari pahlawan nasional. Beliau tidak mau warga Papua menderita akibat kekejaman kompeni.

Bahkan ketika Indonesia merdeka dan Papua belum resmi jadi wilayah NKRI (karena permainan politik Belanda), Machmud Rumagesan bertemu Bung Karno. Beliau menyatakan akan bergabung dengan Indonesia, dengan senang hati. Sikapnya yang heroik dan nasionalisme yang tinggi membuat gelar pahlawan begitu pantas disandang.

Pemberian gelar pahlawan kepada tokoh asli Papua tentu membuat warga sipil di sana sangat bahagia. Berarti ada warga yang dibanggakan karena prestasinya yang gagah berani melawan penjajah. Warga asli Papua makin cinta NKRI dan berusaha meniru perbuatan Machmud Rumagesan yang tidak mau kompromi dengan musuhnya.

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengaku sangat bangga akan pemberian status pahlawan nasional kepada Machmud Rumagesan alm. Menurutnya, gelar ini sangat tepat karena beliau sangat berjasa melawan penjajah dan ikut berjuang memerdekakan Indonesia. Pemberian ini juga jadi anugerah bagi pemerintah dan warga di Papua Barat.

Saat pemerintah memberi gelar pahlawan nasional pada Machmud Rumagesan, juga menunjukkan atensi terhadap Papua. Tak perlu ada yang menuduh bahwa Bumi Cendrawasih hanya diabaikan, padahal sudah memberi banyak keuntungan melalui bisnis pertambangan emas. Presiden Jokowi menepati janjinya untuk jadi pemimpin yang adil.

Presiden Jokowi memang memberi perhatian lebih kepada wilayah Papua. Beliau ingin Bumi Cendrawasih makin maju, karena memiliki potensi sumber daya alam yang sangat tinggi. Maka itu, dibuatlah Jalan Trans Papua dan infrastruktur lain untuk mendukung modernitas di Papua. Bahkan Jokowi tercatat sebagai satu-satunya Presiden yang paling sering mengunjungi Papua.

Ketika ada pahlawan nasional dari Papua maka anak-anak muda akan bangga lalu otomatis meneladani tingkah lakunya. Mereka akan senang lalu bersikap penuh patriot, serta menignkatkan rasa nasionalisme. Akan ada perubahan positif di Bumi Cendrawasih berkat pemberian gelar ini, dan diharapkan para remaja dan anak-anak akan meniru perbuatan baiknya.

Pemberian gelar pahlawan nasional kepada Machmud Rumagesan menunjukkan perhatian dari pemerintah, dan tak lagi dianggap pilih kasih serta hanya pro pada rakyat di Jawa. Warga Papua juga sangat bangga karena akhirnya mereka punya tokoh dengan gelar pahlawan nasional.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Aditya Akbar )*

Warganet di Indonesia masuk 5 besar dalam pengguna terbanyak di media sosial. Alangkah baiknya kemudahan interaksi di Instagram dan Facebook kita gunakan untuk menyokong program pemerintah. Baik di bidang ekonomi maupun kesehatan. Kampanye positif akan memiliki efek positif juga dan membawa kemajuan bagi Indonesia.

Pemerintah terus membuat berbagai program untuk menangani masalah kesehatan dan ekonomi akibat badai corona. Ada omnibus law UU Cipta Kerja, program pemulihan ekonomi nasional, BLT, dan lain-lain. Untuk mensukseskan program tersebut, warganet diharap mendukung dengan cara kampanye positif di media sosial.

Kekuatan di media sosial sangat besar karena 1 status di Facebook bisa dibaca ribuan orang dan 1 foto di Instagram bahkan dilihat jutaan netizen di seluruh dunia. Kemudahan koneksi dengan warganet lain sebaiknya kita gunakan untuk kampanye positif. Program pemerintah didukung penuh, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Jika warganet terus mendukung program pemerintah di media sosial, maka akan berefek positif. Ketika kita jadi ‘corong’ pemerintah, akan lebih banyak lagi orang yang paham apa saja isi Undang-Undang terbaru. Misalnya ketika omnibus law UU Cipta Kerja diluncurkan, banyak yang paham mengapa pemerintah membuatnya dan apa alasan untuk mempermudah investasi asing.

Warganet juga mempromosikan kebijakan ekonomi pemerintah yang lain, misalnya peogram pemulihan ekonomi nasional. Mereka tahu bahwa sekarang ada banyak kemudahan bagi pengusaha, karena nominal pajak berkurang dan ada penurunan bunga pinjaman. Kemudahan-kemudahan ini untuk menolong masyarakat yang keadaan finansialnya lesu.

Selain itu, akan lebih banyak lagi warganet yang tahu apa saja bantuan pemerintah untuk mengatasi masalah kesehatan akibat corona. Misalnya biaya pasien covid-19 yang ditanggung BPJS dan gratis tes rapid di Puskesmas. Para tenaga kesehatan juga dapat gaji ekstra. Isu positif ini hendaknya terus didengungkan di media sosial.

Masyarakat jadi terhindar dari hoax dan tak serta-merta menuduh bahwa semua pasien akan kena corona pada waktunya, karena tahu faktanya. Oleh karena itu sebagai warga negara Indonesia yang baik maka kita wajib mendukung gerakan narasi positif di media sosial. Juga terus mempromosikan UU serta kebijakan pemerintah, agar tidak ada lagi yang terjebak berita palsu.

Billy Mambrasar, Staf Khusus Presiden menyatakan bahwa adanya pandemi covid-19 merupakan sebuah tantangan. Oleh karena itu, masyarakat hendaknya mendukung kebijakan pemerintah, agar muncul sikap optimis. Jika semua berpikiran positif dan optimis maka masyarakat akan makin produktif dan tak lagi mengalami penurunan finansial.

Billy melanjutkan, hendaknya masyarakat bijak dalam bermedia sosial dan jangan sampai termakan hoax, khususnya mengenai omnibus law. Dalam artian saat ini banyak yang kena berita palsu dan marah-marah di Twitter, padahal bisa jadi mereka belum membaca seluruh pasal dalam naskah UU tersebut. Namun sudah percaya akan infografis hoax tentang Omnibus Law.

Kampanye positf tentang kebijakan pemerintah akan membawa dampak positif juga. Program pemerintah seperti anjuran untuk belanja dilaksanakan oleh masyarakat. Ketika daya beli naik maka kita akan selamat dari krisis ekonomi jilid 2. Program pemulihan ekonomi nasional akan lekas berhasil dan kondisi finansial negara akan bangkit lagi.

Begitu juga dengan kebijakan di bidang kesehatan. Ketika semua orang mengkampanyekan 3M dan terus memakai masker, maka jumlah pasien corona akan berkurang. Semua orang tertib dan mau cuci tangan serta menjaga jarak. Karena selalu diingatkan oleh status positif netizen lain di media sosial, jadi mereka akan mematuhi protokol kesehatan dengan senang hati.

Sebagai warganet yang bijak, hendaknya kita terus mendukung program pemerintah dengan kampanye positif di media sosial. Ketika ada omnibus law dan program lain, maka kita turut mengapresiasinya dan  membuat status positif di Facebook. Jangan malah terjebak hoax bahkan ikut menyebarkannya, karena bisa terkena UU ITE. Bijaklah dalam bermedia sosial.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Jakarta

Oleh : Raditya Akbar )*

Pandemi memaksa kita untuk waspada dan menjaga imunitas serta higienitas. Namun kita tak perlu jadi paranoid dan takut tertular corona. Virus covid-19 bisa dilawan asalkan semua pihak mulai dari masyarakat, tim satgas, pemerintah, hingga tenaga medis bekerja sama.

Selama 7 bulan ini kita dalam masa pandemi dan sudah mulai terseok-seok karena gempuran corona. Kadang bertanya-tanya kapan cobaan ini akan berakhir? Kita tentu berharap agar semua pasien covid-19 sembuh dan tidak ada lagi yang tertular. Namun doa dan harapan tentu harus diimbangi dengan usaha untuk mendukung program pemerintah.

Dokter Reisa Broto Asmoro menyatakan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Karena pemerintah yang dibantu oleh tim satgas penanganan covid tidak bisa bekerja sendiri, jika tidak ada dukungan dari masyarakat. Dalam artian, jangan jadi orang yang egois, ingin bebas corona tapi malas melakukan protokol kesehatan.

Protokol kesehatan terus dikampanyekan ke seluruh lapisan masyarakat, melalui SMS, iklan, maupun postingan di media sosial. Mengapa gerakan 3M (mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak) terus didengungkan? Karena kenyataannya masih ada saja yang nakal dan malas pakai masker, serta hanya mengandalkan face shield.

Memakai face shield memang praktis tapi tak bisa menahan laju virus covid-19. Karena menurut penelitian WHO, corona bisa menular lewat udara, jadi harus pakai masker. Masyarakat perlu diajak untuk mematuhi protokol kesehatan dan memakai masker standar (medis atau kain), bukan yang model scuba atau buff, karena tak efektif dalam menahan laju droplet.

Penggunaan masker juga wajib diluruskan, jangan hanya digunakan saat perjalanan jauh. Walau Anda hanya belanja ke warung tetangga, wajib pakai masker, karena kita tak tahu siapa OTG yang akan ditemui di jalanan. Masker juga masih wajib dipakai di kantor dan jangan hanya dikenakan dalam perjalanan.

Perlindungan ganda dari masker dan faceshield juga bagus, apalagi jika Anda memakai sarung tangan. Namun pastikan sarung tangannya bersih, dan jika memakai yang sekali pakai, sobek sebelum dibuang agar tak dimanfaatkan orang lain. Jika risih memakai sarung tangan, pastikan jemari selalu bersih dan bawa hand sanitizer ke mana-mana.

Patuhilah semua protokol kesehatan dan beli masker kain hingga 2 lusin untuk stok di rumah. Karena masa pemakaiannya maksimal hanya 4 jam. Jadi bawa 2 lembar masker cadangan di dalam tas saat bepergian. Tas Anda memang jadi penuh dengan masker dan hand sanitizer tapi lebih baik begitu, daripada tertular corona.

Kerja sama antara masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan karena jika semua orang tertib, corona akan minggat secepatnya. Namun salah satu protokol kesehatan yang paling sering dilanggar adalah jaga jarak. Belakangan sudah ada masyarakat yang mengadakan pesta pernikahan. Mereka mengundang hingga ribuan tamu, seakan lupa bahwa masih pandemi.

Walau di depan gedung ada tempat cuci tangan dan dibagikan hand sanitizer namun seharusnya tidak usah mengundang banyak orang, karena yang diperbolehkan hanya maksimal 30 tamu. Seharusnya mereka mengikuti tren resepsi zaman sekarang, yakni disiarkan langsung lewat channel Youtube. Sehingga teman dan kerabat bisa menyaksikannya.

Kalau ingin berbagi bahagia kepada sahabat dan saudara, kirim saja bingkisan makanan dan suvenir ke rumah mereka. Jalinan silaturahmi tetap erat dan Anda sekeluarga aman dari bahaya corona. Semua ada solusinya, jadi jangan memaksakan untuk pesta namun melanggar protokol kesehatan.

Jika semua orang mau mematuhi protokol kesehatan, maka penularan corona akan berhenti. Jumlah pasien covid-19 menurun dan semua yang sakit akan lekas sembuh. Kita optimis pandemi akan lekas berakhir, ketika masyarakat mau bersinergi dengan pemerintah.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Dodik Prasetyo )*

Bahaya corona masih mengintai dan masyarakat diminta untuk makin waspada. Sayangnya ada kalangan yang malah nekat berunjuk rasa, dengan alasan memprotes UU Cipta Kerja. padahal Presiden Jokowi sudah menyarankan mereka untuk menggugat lewat MK, alih-alih berdemo. Sayangi diri sendiri daripada berunjuk rasa lalu kena corona.

Unjuk rasa untuk menentang UU Cipta Kerja yang dilakukan buruh dan warga sipil benar-benar mengkhawatirkan. Mereka melakukannya tak sekali dua kali, namun hingga berjilid-jilid. Yang ditakutkan dari demo adalah keselamatan buruh sendiri, karena saat berunjuk rasa rawan tertular corona dari orang tanpa gejala.

Setelah demo, diadakan tes rapid pada para buruh di Tangerang. Dari 9 orang yang wajib tes, hasilnya 13 orang positif corona. Hal ini membuktikan kekhawatiran para tenaga medis dan ahli epidemiologi tentang terbentuknya klaster corona baru. Karena mereka yang hasilnya reaktif benar-benar tertular saat sedang asyik berdemo.

Di Jakarta, para pendemo yang terdiri dari remaja anarko juga ditangkap dan diwajibkan ikut tes rapid. Hasilnya 12 orang dari mereka menunjukkan hasil reaktif. Mereka diamankan di Polda Metro Jaya dan wajib dites swab agar hasilnya lebih akurat. Tak bisa mengelak dari kejaran aparat, namun malah menunggu giliran tes dan takut hasilnya positif.

Sayang sekali mereka jadi korban keganasan corona hanya karena nekat berdemo. Padahal sejak awal kegiatan itu dilarang keras oleh aparat dan massa berusaha dihalau. Namun mereka malah emosi saat akan dibubarkan, bahkan berani membakar kantor polisi. Saat kena virus covid-19, mereka baru kena batunya. Sudah lelah berdemo malah terancam kehilangan nyawa.

Itu baru sebagan kecil massa yang tertangkap dan dites. Bayangkan jika ada pendemo lain yang lolos dari kejaran aparat dan lari ke rumah. Jika ternyata positif corona, maka berpotensi menularkan kepada orang tua, adik, dan tetangganya. Korban lain adalah orang yang ditemui di jalan, seperti penjual makanan dan minuman atau sopir angkot.

Kalau sudah ada klaster demo, bagaimana bisa status pandemi lekas berakhir? Masyarakatnya tidak mau tertib, namun saat kena corona malah menyalahkan pemerintah dan tidak percaya jika terjangkiti virus covid-19. Padahal itu adalah kesalahan mereka sendiri, karena sudah dilarang tapi ngotot.

Jika ditilik ke belakang, para pendemo tertular corona saat bergerombol dan melihat orasi. Jika orang yang berpidato melepas masker, maka droplet melayang di udara. Ketika ia berstatus OTG maka akan menularkan virus covid-19 ke banyak orang. Sayang sekali, kemampuannya untuk berorasi malah membawa petaka bagi ribuan pendemo.

Pendemo juga tertular corona saat jam break makan siang. Tidak mungkin mengunyah nasi tanpa membuka masker. Mereka jadi ceroboh, melepas perlindungan dari masker lalu makan bersama. Ketika ada OTG di sebelahnya, maka berpotensi menularkan corona. Apalagi ketika dalam 1 kelompok saling berbagi air mineral, hasilnya bisa ambyar.

Hentikan segera rencana demo susulan karena sudah banyak mantan pengunjuk rasa yang jadi korban. Jangan malah menyepelekan dan terancam kematian, tapi ngotot berdemo karena ingin menyampaikan aspirasi. Bagaikan menyetor nyawa ke malaikat izroil.

Gunakan akal sehat sebelum nekat berdemo. Jangan sampai keinginan unjuk rasa muncul karena ingin terlihat kekinian. Atau malah berdemo karena ikut-ikutan dengan alasan solidaritas, tapi tidak tahu apa sebenarnya UU Cipta Kerja yang dipermasalahkan. Apa mau hanya membebek tapi malah kena corona?

Jangan lagi ada demo susulan karena membahayakan diri sendiri dan keluarga. Daripada lelah berunjuk rasa, lebih baik menuruti Presiden Jokowi untuk menuntut UU Cipta Kerja melalui MK. Karena saat demo resiko untuk kena corona sangatlah tinggi. Sayangi nyawa Anda dan jangan sampai kena corona.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)