Sejumlah kelompok anti-Pemerintah terus menyuarakan sentimen negatif terkait situasi terkini di wilayah Papua. Mereka umumnya menyebut Pemerintah Indonesia sama sekali tidak memperhatikan nasib warga Papua. Mereka menuding Negara hanya mengekploitasi sumber daya di wilayah Papua demi kepentingan Jakarta.

Namun hal itu rupanya tidak didukung oleh sejumah pihak, terutama dari tokoh Papua. Tokoh Agama dan Adat Tabi dan Seireri, Pendeta Herman Yoku, mengatakan bahwa penggiringan opini negatif terhadap situasi di Papua hanya diinisiasi oleh gerakan separatis dan politik semata.

Dia menegaskan bahwa bumi cenderawasih mutlak masuk bagian dari kedaulatan NKRI. Hal itupun tidak bisa dibantah oleh provokasi-provokasi yang tidak substantif. “Kami tetap dalam bagian NKRI dan membangun tanah ini menjadi tanah yang diberkati dan sejahtera. Jangan terprovokasi gerakan yang menyesatkan. Yang membuat kita tidak bisa berkembang,” ucap Herman Woku.

Sementara itu, Mantan Miss Pupua 2018, Ludia Amaye Maryen, menuturkan bahwa mahasiswa Papua pada umumya memiliki kecintaan yang tinggi terhadap negara Indonesia, sama seperti pemuda lainnya. Dirinya pun bersyukur melihat pesatnya perkembangan Papua dari hari ke hari.

“Mahasiswa Papua di Jakarta sangat mendukung pemerintah pusat dan derah membangun Papua yang lebih baik. Puji Tuhan saat ini sudah ada kemajuan dalam perkembangan di Papua dari insfrastuktur dan juga peran pemerintah dalam keamanan,” kata Ludia.

Lebih lanjut, Mantan Miss Pupua 2018 dan Miss Indonesia Persahabatan 2018 itu mengatakan, Papua membutuhkan SDM milenial yang kreatif dan inovatif untuk membangun Papua dengan keterampilan di mana saja dan kapan saja.

“Kita disini diberikan Golden Ticket untuk mengejar impian kita, mengejar untuk menggali lagi ilmu pegetahuan dan eksplor di tanah rantau. Jadi jangan pernah kita sia-siakan kesempatan itu,” lanjutnya.

Oleh : Josua Napitu )*

Papua merupakan bagian tidak terpisahkan dari Indonesia. Mahasiswa Papua sebagai salah satu elemen penting pembangunan pun ikut mendukung kedaulatan NKRI di Papua.

Papua merupakan salah satu daerah yang mendapat perhatian besar Pemerintah. Deputi Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) mengatakan Wawan Hari Purwanto selaku Deputi Kominfo Badan Intelijen Negara (BIN) memprediksi peluang pemuda-pemuda Papua menjadi pemimpin masa depan Indonesia sangatlah besar.

Dirinya pun merujuk nama seperti Barack Obama, seorang Afro-Amerika yang pernah menjabat sebagai Presiden Amerika. Sehingga bukan tidak mungkin, suatu saat nanti anak-anak Papua bisa menjadi Presiden.

            Wawan menyampaikan pembangunan di Papua membutuhkan percepatan dan dikerjakan secara holistik menuju ke arah keadilan sosial di tanah Papua. Upaya ini dilakukan dalam rangka mewujudkan kedaulatan bagi NKRI.

            Presiden RI Joko Widodo sebelumnya sempat menegaskan bahwa kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Presiden juga telah memerintahkan seluruh jajaran Kemenhan, TNI dan Polri agar bekerja secara sungguh-sungguh dalam menjaga kedaulatan NKRI dan berdiri paling depan dalam memperkokoh kedaulatan NKRI.

            Dalam menjaga kedaulatan NKRI, tentu peran mahasiswa tidak dapat dikesampingkan, karena merekalah yang akan memegang kendali bangsa ini 20 tahun kedepan.

            Mahasiswa adalah potensi bagi negara dalam kemajuan bangsa. Peran mahasiswa sangatlah penting dalam mengisi pembangunan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa. Mahasiswa adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi.

            Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa tentu memiliki kewajiban dalam menjaga negara dengan baik. Situasi era globalilasi yang semakin tumbuh dan berkembang, menuntut peran aktif mahasiswa dalam menghadapi perubahan segala aspek, menjadi inovator perubahan ke arah yang lebih baik. Mahasiswa harus pandai menggunakan kesempatan dan peluang yang diberikan.

            Para mahasiswa Papua juga harus mengetahui bahwa masih ada kelompok separatis bersenjata Papua di Pegunungan Tengah seperti salah satu contoh peristiwa di Nduga, penyanderaan warga di Timika, tewasnya anggota TNI, kontak tembak dan beragam eksistensi kelompok muda di media sosial.

            Berkembangnya isu rasisme dan demonstrasi di berbagai wilayah sampai berkibarnya bendera bintang kejora membuat banyak pihak bertanya bagaimana kedaulatan negara di tanah Papua.

            Pada kesempatan berbeda, Korem 172/PWY menggelar seminar sehari dengan tema Jadilah Generasi Muda Kreatif Penentu Masa Depan Bangsa.

            Tercatat puluhan mahasiswa dari 16 universitas di Jayapura menghadiri seminar tersebut yang menampilkan pembicara Danrem 172/PWY Brigjen TNI Izak Pangemanan dan Ketua Pemuda Dewan Adat Papua Yan Christian Arebo.

            Pada kegiatan seminar tersebut, Danrem menyatakan bahwa kegiatan seminar ini bertujuan untuk meningkatkan dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tanah air dan menyadari akan peran pentingnya generasi muda (mahasiswa) dalam pembangunan serta untuk lebih memahami ideologi bangsa yaitu Pancasila.

            Dirinya mengatakan, bahwa pihaknya ingin memberikan pemahaman tentang apa itu NKRI dan juga menyampaikan tentang bagaimana konflik Papua yang sampai saat ini masih terus diupayakan untuk diselesaikan.

            Keberadaan Mahasiswa tersebut tentu diharapkan bisa menjadi salah satu unsur yang akan membantu segala upaya penyelesaian konflik di tanah Papua.

            Kedaulatan NKRI di Papua haruslah dibangung di dunia Internasional. Banyaknya pemberitaan miring tentang Indonesia terhadap Orang Asli Papua dan beredarnya berita hoax maupun hate speech terhadap aparat baik TNI dan Polri belum diimbangi dengan narasi positif atas kinerja Pemerintah dalam menangani Papua.

Pada kesempatan berbeda, Kapolda Papua, Irjen Pol. Paulus Waterpauw telah meminta kepada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Cenderawasih Jayapura untuk dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

            Paulus mengingatkan kepada seluruh Mahasiswa untuk dapat mengikuti perkembangan dan situasi yang ada karena konflik Negara – Negara besar untuk saling membantai dan jangan terpengaruh dengan berita-berita hoax yang berkembang.

            Para mahasiswa juga harus memahami bahwa kedaulatan Papua sebagai bagian dari NKRI telah berlangsung lama, hal ini dibuktikan dengan kalimat pembuka pidato bung Karno dimana hampir di setiap Pidato Ir Soekarno yang disiarkan melalui RRI, kalimat dari Sabang sampai Merauke amat kerap dikumandangkan sebagai bukti kedaulatan NKRI.

            Penting kiranya bagi mahasiswa asal Papua untuk memahami akan pentingnya persatuan dan menjaga kedaulatan NKRI. Apalagi Pemerintah telah memberikan dukungannya dengan adanya otonomi khusus yang menjadikan putra Papua dapat melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. )* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Solo

Oleh : Putu Prawira )*

Habib Rizieq terus mengadakan safari ceramah setibanya di tanah air. Rupanya ia rindu dengan jamaahnya. Namun sayang dalam acara tersebut, tidak memenuhi protokol kesehatan dan banyak orang berjubel. Masyarakat pun menolak ceramah Habib Rizieq yang terbukti terus memprovokasi warga dan menghambat penanganan Covid-19.

Gerombolan massa terlihat di seputar Petamburan, tanggal 14 november lalu. Mereka ingin pergi ke kediaman Habib Rizieq yang akan mengadakan acara mantu sambil merayakan maulid nabi. Masyarakat ingin mendengar ceramahnya setelah 3 tahun ia pergi ke Arab. Namun sayang dalam acara yang dihadiri 10.000 orang, semuanya melanggar protokol kesehatan.

Bukan kali ini Habib Rizieq berceramah dan menarik kerumunan massa. Pada acara peringatan di Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, tanggal 12 november lalu, banyak orang datang dan lupa untuk tidak menjaga jarak. Bahkan yang lebih parah, ada yang tidak mengenakan masker. Besoknya ada acara serupa di Bogor dan lagi-lagi ribuan orang menyemut, hanya karena ingin melihat wajah Habib Rizieq dan mendengarkan ceramahnya dari dekat.

Miris sekali ketika kita melihat masyarakat berjubel dan sampai rebutan tempat duduk, karena ingin menyimak ceramah Habib Rizieq. Padahal kegiatan ini bisa membentuk klaster corona baru. Namun masyarakat abai akan aturan physcal distancing. Terbukti Lurah Petamburan dinyatakan positif covid-19 setelah ia mendatangi acara resepsi sekaligus ceramah Habib Rizieq.

Jika sudah ada  bukti seperti ini, masihkah mereka mengelak? Habib Rizieq dan ormasnya terus saja melakukan playing victim dan beralibi bahwa acara itu bersifat privat dan hanya mengundang 30 orang. Sementara mereka tak bisa menolak puluhan ribu anggota ormas yang hadir. Padahal beberapa hari sebelumnya, pengacara FPI Aziz Yanuar menyatakan undangannya 10.000 orang.

Kebohongan itu membuat masyarakat geram karena dengan entengnya mereka  menyalahkan tamu yang hadir. Meski telah membayar denda karena melanggar protokol kesehatan, sebesar 50 juta rupiah, namun tidak ada kata maaf dari mereka. Padahal Habib Rizieq bisa saja berstatus OTG, karena habis bepergian ke luar negeri.

Ketika diwawancarai, pengacara FPI Aziz Yanuar juga menyalahkan acara lain yang dianggap melanggar protokol kesehatan. Padahal perbandingannya tidak apple to apple, karena pada acara yang dihadiri Habib Rizieq, sang penceramah menolak untuk melakukan karantina mandiri. Jadi resiko menularkan corona jauh lebih besar kepada segenap anggota ormas yang menghadiri acaranya.

Tamu yang datang saat acara ceramah selain melanggar protokol kesehatan juga lupa bahwa Habib Rizieq menolak untuk tes swab ulang, karena tidak percaya dengan tenaga kesehatan di Indonesia. Padahal bisa saja ia tertular corona di perjalanan. Ketika misalnya ia positif covid-19 dan menularkannya ke 10.000 tamu, apa mau membiayai obat dan kamar perawatannya?

Dokter Wiku Adisasmita, juru bicara tim satgas covid-19, mengingatkan agar jangan jadi orang yang egois. Karena saat ada kerumunan, maka akan membawa malapetaka di masa pandemi. Apalagi jika ada orang di situ yang tidak memakai masker. Dalam artian bisa saja ia berstatus OTG dan akan menularkan corona melalui droplet.

Pernyataan Dokter Wiku seharusnya disimak baik-baik oleh Habib Rizieq. Karena jika 1 saja orang yang kena corona, akan menular ke keluarganya dan banyak orang lain yang berkontak dengannya. Terlebih, dalam acara ceramah akan sulit untuk melakukan tracing. Bisa jadi ada buku tamu tapi alamatnya kurang lengkap, sehingga menyulitkan kerja tim satgas.

Ceramah di masa pandemi harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan dan dilakukan di lingkup kecil. Tujuannya agar tidak ada pembentukan klaster corona baru. Jangan marah jika ada kerumunan massa di acara ceramah yang dihalau aparat, karena mereka hanya melaksanakan tugasnya. Seharusnya Habib Rizieq melakukan evaluasi. )* Penulis aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Dea Anggraini )*

Saat pemerintah mengeluarkan UU atau kebijakan baru, maka netizen hendaknya bijak serta menanggapinya dengan status positif di media sosial. Dukungan mereka sangat diperlukan agar kemajuan Indonesia dapat segera terwujud.

Sejak era reformasi tahun 1998 kebebasan berpendapat menggema di seluruh Indonesia. Kemerdekaan itu terus dilanjutkan sampai era media sosial booming. Sayangnya ada yang menyalahartikan kebebasan itu lalu membuat status di Facebook atau tweet di Twitter yang intinya menyalahkan pemerintah. Padahal bisa jadi mereka hanya termakan hoax mentah-mentah.

Banyaknya berita palsu memang memusingkan karena netizen cenderung terburu-buru membacanya lalu menyebarkannya, karena emosi dengan caption yang disertakan. Padahal hoax memang sengaja diproduksi untuk mempengaruhi masyarakat. Sebagai warganet yang bijak, sebaiknya kita memeriksa kebenarannya sebelum memencet tombol share dan jangan terpancing kemarahan.

Untuk mencegahnya, maka diadakan gerakan sebar konten narasi positif di media sosial. Tujuannya agar masyarakat memperoleh informasi yang valid dan mendukung kebijakan pemerintah. Serta membangun rasa optimis dan memberangus efek negatif hoax di masyarakat.

Forum Pegiat Media Sosial Independen (FPMSI) mengadakan acara untuk mendukung program pemerintah, termasuk penanganan corona di Indonesia. Juga me-launching gerakan sebar konten positif di masyarakat. Dalam acara podcast siaran langsung tersebut, netizen, terutama generasi muda, diajak untuk tetap optimis  dan berpikiran terbuka.

Rusdil Fikri, Ketua FPMSI menyatakan bahwa organisasinya membangun kerja sama antar netizen dan generasi muda. Tujuannya agar mereka bersatu dalam mendukung setiap kebijakan pemerintah. Dalam artian, jika bukan warga negara Indonesia yang mendukung pemerintahnya, siapa lagi?

Gerakan narasi positif sangat diperlukan untuk mendukung program pemerintah, karena kekuatan media sosial sangatlah besar. Jika ada 1 saja yang membuat status berisi pro kebijakan pemerintah, misalnya mendukung UU Cipta Kerja, maka akan di-share dan  dibaca lebih banyak orang. Pembaca status itu akan membludak dan mereka akan ikut mendukung juga.

Selain itu, sikap optimis sangat diperlukan di tengah pandemi. Karena pikiran positif akan menghasilkan aura positif. Perasaan jadi bahagia dan muncul semangat untuk hidup sehat dan rajin bekerja. Jika kita terus optimis maka akan meningkatkan rasa bahagia. Hormon kebahagiaan akan memberi efek baik pada tubuh dan membuat antibodi meningkat.

Kebalikannya, jika kita terus berpikiran negatif dan mudah percaya hoax, maka wajah akan penuh dengan aura gelap. Perasaan jadi berat dan tubuh dipenuhi dengan ion negatif. Padahal menurut Dokter Masaru Emoto, air berubah sesuai dengan perasaan. Jika manusia berpikiran negatif maka molekul dalam cairan darahnya bisa berubah dan berefek negatif pada kesehatan.

Oleh karena itu kita wajib berpikiran positif dan membuat status positif juga. Selain bisa meningkatkan imunitas tubuh dan menolak serangan virus covid-19, status positif akan berpengaruh ke mindset. Ketika selalu memelihara positive thinking, akan menarik keberuntungan dan hidup jadi penuh berkah.

Status positif pada program pemerintah juga dilakukan untuk mendukung Presiden beserta stafnya. Kita percaya beliau mengambil keputusan terbaik bagi masyarakat dan tidak pernah bermaksud untuk mencelakakan rakyatnya. Seluruh Perpres, PP, dan UU dibuat dan diputuskan dengan hati-hati serta matang, demi keadilan dan kesejahteraan bersama.

Hendaknya netizen terus membuat status positif di  Facebook atau Twitter, karena rasa optimis bisa membuat imunitas tubuh lebih kuat. Selain itu, dukungan warganet dengan membuat tweet positif dan pro pemerintah sangat bermakna, karena mereka menunjukkan kiprahnya sebagai warga negara yang baik. Ayo dukung terus program pemerintah di media sosial. )* Penulis adalah pegiat literasi digital di Semarang