Kejam, KKSB Kini Serang Pelajar di Papua

Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw, mengatakan terdapat dua pelajar menjadi korban penembakan orang tak dikenal (OTK) di Sinak, Kabupaten Puncak. Seorang di antaranya meninggal dunia. Penyelidikan kasus penembakan ini akan diserahkan ke Polres Puncak.

“Memang benar ada laporan dua pelajar menjadi korban penembakan OTK (Orang Tak Dikenal) pada hari Jumat (20/11) di Sinak, salah seorang di antaranya meninggal dunia,” kata Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw. Karena lokasi yang jauh dan kondisi geografis yang sukar, menurut Paulus, penyelidikan akan membutuhkan waktu.

Penembakan terhadap pelajar ini juga disorot oleh Advokat Papua Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK HAM). Direktur PAK HAM, Matius Murib, mengungkapkan penyerangan terhadap dua pelajar Papua, Atanius Murib dan Manus Murib, tidak pernah dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Pelaku telah melakukan pelanggaran HAM berat dengan memilih tindakan kekerasan yang mematikan. “Pelaku telah memilih tindakan kekerasan yang mematikan sebagai cara untuk mencapai tujuannya,” kata Direktur PAK HAM Matius Murib.

Matius Murib berkata bahwa mengambil nyawa manusia adalah otoritas Tuhan, dan menyerang Atanius Murib dan Manus Murib, dua siswa lokal, tidak pernah bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Dalam kaitan ini, pelaku telah melakukan pelanggaran HAM berat.

Sebelumnya, Kapen Kogabwilhan III, Kol CZI I.G.N. Suriastawa, mengatakan bahwa KKSB yang menjadi pelaku penembakan terhadap pelajar di wilayah Sinak. Saat ini korban Amanus Murib dalam kondisi kritis, sementara Atanius Murib meninggal dunia.

“Keduanya dilarikan ke Puskesmas Ilaga oleh masyarakat sekitar tempat kejadian. Korban meninggal dunia dengan luka parah sempat ditangani oleh petugas Puskesmas, namun nyawanya tidak tertolong karena terlalu banyak mengeluarkan darah,” kata Suriastawa.

Dari informasi yang beredar dan analisa sementara, dia mengungkapkan, pelaku penembakan diduga KKB. Aksi brutal KKB ini bermotif intimidasi kepada masyarakat karena tidak mendapat dukungan dari warga setempat.

“Aksi KKSB ini bermotif intimidasi kepada masyarakat karena tidak mendapat dukungan dari warga setempat serta sebagai upaya memutarbalikkan fakta dengan menuduh aparat keamanan sebagai pelakunya. Pemutarbalikan fakta dan playing victim melalui media massa selalu menjadi trik dari kelompok pro-KKB dan pendukungnya untuk menyudutkan pemerintah Indonesia,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan