Masyarakat Mengecam Demo Rusuh Papua Merdeka

Oleh : Rebecca Marian )*

Demo yang rusuh di Sorong dan Manokwari menggegerkan wilayah Bumi Cendrawasih pada 27 November 2020. Mereka menuntut agar Papua merdeka dari Indonesia. Massa mulai beringas dan melempari anggota brimob dengan batu dan botol. Demo ini sangat disesalkan karena mengapa ada yang masih pro dengan kaum separatis.

OPM adalah kelompok separatis yang selalu ingin memerdekakan Papua. Mereka menggunakan berbagai cara, mulai dari kekerasan dengan mengutus kelompok kriminal bersenjata, sampai melakukan provokasi di dunia maya. Jelang ulang tahun OPM 1 desember, mereka kembali menggencarkan aksinya untuk membelot dari NKRI.

Kumpulan oknum yang pro OPM juga mendukung dengan cara melakukan demo di Sorong dan Manokwari. Kegiatan itu dilakukan karena mereka menuntut kemerdekaan Papua sambil mengibarkan bendera bintang kejora. Mereka berunjuk rasa sambil berteriak dan menyampaikan aspirasi yang sayangnya salah besar.

Pada peristiwa itu terjadi kerusuhan, karena para pendemo tak terima saat aksi protesnya ditertibkan oleh aparat. Sebanyak 2 anggota Brimob Polda Papua Barat terluka karena kena lemparan batu oleh ulah pendemo, sehingga aparat terpaksa mengeluarkan gas air mata. Situasi makin tak kondusif karena mereka melempar apa saja, mulai dari botol sampai batu untuk melawan.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Barat AKBP Adam Erwindi menyatakan ada 36 orang yang ditangkap setelah demo. Mereka ditertibkan karena melakukan unjuk rasa tanpa izin. Para pengunjuk rasa juga melanggar pasal 6  UU nomor 9 tahun 1998, karena menghalangi orang lain di jalan dan mengganggu ketertiban umum.

Unjuk rasa seperti ini memang terjadi setiap jelang 1 desember. Massa yang merupakan simpatisan OPM selalu menuntut Papua merdeka. Lantas mengajak orang lain untuk ikut bergabung dengan kaum separatis dan mendirikan Republik Federal Papua Barat. Padahal negar tersebut tidak sah karena tidak ada yang namanya negara di dalam negara.

Para pendemo juga menutup mata dengan kemajuan Papua. Sudah jelas Bumi Cendrawasih sudah dimakmurkan oleh pemerintah pusat, berkat program otonomi khusus. Ada pembangunan infrastruktur yang pesat sehingga wilayah Papua jadi modern. Ada pula pemberian beasiswa sehingga putra Papua makin cerdas.

Penangkapan pendemo separatis ini hendaknya dilihat dengan cermat. Jangan malah ada negara lain yang mendukung kemerdekaan Papua, padahal mereka tidak berhak mencampuri urusan internal Indonesia. Urusan Papua memang agak pelik sehingga cukup menyita perhatian dunia internasional.

Masyarakat juga wajib wapada dengan berita yang beredar, terutama di media sosal. Karena bisa saja setelah ini muncul hoax bahwa pemerintah Indonesia tidak memperbolehkan rakyatnya menyampaikan aspirasi. Padahal itu hanya berita palsu yang dibuat oleh OPM, yang sengaja dibuat agar mereka playing victim dan menyalahkan pemerintah.

Jika ada separatis yang berdemo, amat wajar jika ditangkap. Apalagi mereka berunjuk rasa sambil mengibarkan bendera bintang kejora. Para pengunjuk rasa terbukti tidak cinta NKRI, sehingga hukuman di bui menanti. Ini bukanlah pelanggaran hak azasi, melainkan sebuah pelajaran penting agar setiap WNI mencintai negerinya dan jangan mau ikut kaum separatis.

Aparat makin waspada dalam berjaga di Papua, karena detik-detik jelang 1 desember selalu mendebarkan. Masyarakat juga diminta untuk bekerja sama. Jangan malah sengaja mengibarkan bendera bintang kejora pada tanggal itu, karena sama saja dengan menghianati kedaulatan NKRI.

Demo menuntut kemerdekaan Papua sangat disayangkan karena mayoritas warga asli di sana sudah cinta NKRI. Mereka tak mau diajak bergabung dengan OPM meski ditakut-takuti oleh KKB. Papua sudah sangat istimewa di hati pemerintah dan masyarakat di Bumi Cendrawasih bangga jadi bagian dari Indonesia. Jangan ada lagi yang berdemo dan mengajak orang lain untuk membelot. )* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Tinggalkan Balasan