Oleh : Abner Wanggai )*

Bumi Cendrawasih kaya akan keindahan alam yang menakjubkan. Pemerintah makin mempercantik Papua dengan membangun infrastruktur, seperti jembatan Youtefa dan Jalan Trans Papua. Masyarakat sangat mengapresiasi pembangunan di sana, karena Bumi Cendrawasih makin maju dan tertata dengan apik.

Dulu saat mendengar kata Papua atau Irian Jaya (nama daerah itu pada era orde baru), maka yang terbayang adalah daerah yang dipenuhi hutan belantara. Namun saat ini keadaannya berbeda jauh, karena Bumi Cendrawasih sudah modern dan cantik. Bahkan Jayapura tak kalah majunya dengan kota lain seperti Jakarta dan Surabaya.

Modernitas yang ada di Papua adalah hasil kerja keras pemerintah dalam membangun daerah tersebut. Sejak 2001, ada program otonomi khusus yang membuat wajah Bumi Cendrawasih makin cantik, berkat pembangunan infrastruktur di sana. Dibangunlah Jembatan Youtefa, Jalan Trans Papua, Bandara Internasional Sentani, dan bangunan lain.

Yane Ansanay, akademisi dari Universitas Cendrawasih, merasa puas dengan pembangunan di Bumi Cendrawasih. Namun ada kekurangan pada bidang pendidikan. Dalam artian, putra Papua bisa kuliah berkat program otsus. Namun mereka seharusnya juga bisa belajar di kampus di Papua, tak hanya di Jawa. Sehingga sebaiknya diciptakan Perpres tentang pembukaan jurusan baru di kampus Papua.

Menurut Yane, jurusan yang mendesak untuk dibuka adalah perikanan dan pertanian. Dalam artian, mahasiswa bisa belajar dan menjadi petani modern. Karena ia tak hanya bercocok tanam, tapi membuat bisnis agro dan mengolah hasil bumi Papua, seperti sagu, ubi, pisang, dll. Sementara sarjana perikanan bisa mengolah ikan, dan mengekspornya, serta mendapat hasil yang lebih banyak.

Dalam bidang pendidikan, pemerintah memang sudah menggelontorkan dana melalui otsus. sebanyak 20% anggaran program ini dikhususkan untuk beasiswa kepada para putra Papua. Sehingga mereka bisa belajar hingga perguruan tinggi, tak hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri. Selain itu, beasiswa ini juga diberikan kepada mereka yang ingin mendaftar jadi anggota TNI.

Selain bidang pendidikan, pemerintah juga menggenjot pembangunan infrastruktur di Papua. Jembatan Youtefe tak hanya jadi pajangan, namun memudahkan transportasi hingga ke perbatasan dengan Papua Nugini. Makin banyak turis lokal yang mampir ke jembatan berwarna merah ini, sehingga membuat parawisata di Papua jadi ramai.

Jalan Trans Papua membentang sepanjang lebih dari 4.000 KM membuat transportasi penduduk makin mudah. Mereka tak harus berjalan melintasi hutan atau mengandalkan pesawat yang amat mahal. Namun bisa melintasi jalan ini dengan aman. Bahkan ketika diresmikan, Presiden Jokowi langsung mengetes kekuatan jalan ini dengan sepeda motor trail.

Di Papua juga dibangun stadion dan venue lain seperti kolam renang untuk pekan olahraga nasional. Walau PON XX diundur setahun, namun bangunan ini sudah selesai dan siap dipakai sewaktu-waktu. Setelah acara ini selesai, masyarakat bisa memanfaatkannya untuk berolahraga sekaligus refreshing. Pemilihan Papua sebagai tuan rumah PON menunjukkan bahwa di sana sudah sangat modern.

Masyarakat sangat mengapresiasi pembangunan di Papua, baik di bidang pendidikan maupun infrastruktur. Mereka merasa senang karena Presiden Jokowi begitu memperhatikan wilayah Bumi Cendrawasih, bahkan tercatat sebagai kepala negara yang paling sering mengunjungi Papua. Presiden ingin agar pembangunan di wilayah timur tak berbeda jauh dengan wilayah barat.

Setelah Papua dibangun sedemikian indahnya, masyarakat diharap bekerja sama dengan pemerintah daerah, dengan ikut merawatnya. Jangan ada yang iseng dan melakukan vandalisme pada bangunan yang baru selesai. Selain itu, jangan ada kalangan yang melarang anak-anaknya untuk mengambil beasiswa otsus, karena sangat berguna bagi masa depan mereka.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Presiden Joko Widodo benar-benar memenuhi janjinya untuk mengembangkan berbagai potensi yang berada di wilayah Papua. Pembangunan yang secara sustainable terus dilakukan agar warga Papua tidak merasa terus dianaktirikan oleh Pemerintah pusat. Bahkan Presiden menunjukan langsung Wapres, Ma’ruf Amin sebagai penanggungjawab Tim Koordinasi percepatan Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Didalam Rapat pertama Dewan Pengarah Tim Terpadu Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Papua Barat di Istana Wapres, Ma’ruf Amin menegaskan bahwa pemerintah menaruh perhatian yang besar pada Papua.

Ma’ruf menjelaskan, salah satu isu di Papua yang harus diselesaikan adalah tingkat kemiskinan yang tinggi. Karenanya, dia meminta agar dalam pembangunan Papua, dibutuhkan semangat baru, paradigma baru, dan cara kerja baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

“Saya perlu menegaskan kembali bahwa dasar pemikiran dan tujuan penetapan ini adalah dengan mengedepankan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua dan Papua Barat,” katanya.

Sementara itu, Staf Khusus Presiden, Billy Mambrasar memberikan tanggapan tegas kepada orang-orang yang meragukan komitmen Presiden Jokowi dalam membangun Bumi Nusantara Paling Timur ini, Tanah Papua.

“Sejak menjabat presiden, data menunjukkan terbanyak dibanding Presiden yang lain, setidaknya sudah 11 kali Presiden Joko Widodo tercatat mengunjungi Papua dan Papua Barat. Coba siapa Presiden yang dengan niat dan kerja kerasnya melakukan hal tersebut, kalau tidak benar-benar cinta,” kata Billy.

Dalam strategi pembangunan Nasional, lanjut Billy, Presiden juga mengeluarkan Inpres No. 9 tahun 2020, dan Kepres no. 20 tahun 2020 untuk mendorong percepatan kesejahteraan di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Hal tersebut tentu untuk mewujudkan masyarakat Papua dan Papua Barat yang maju, sejahtera, damai dan bermartabat di dalam negara Republik Indonesia.

“Pak Jokowi akan membangun Papua dengan sepenuh hati, demi terwujudnya Papua yang didalamnya terdapat pemerataan pembangunan, sehingga terciptanya masyarakat yang sejahtera dan terciptanya masyarakat yang unggul dalam sektor mana pun, berhenti untuk menanyakan komitmen beliau!” tegasnya.