Oleh : Dimas Robiansyah )*

UU Cipta Kerja merupakan solusi efektif dalam memangkas regulasi penghambat investasi. Dengan adanya produk hukum ini, UMKM dan industri rakyat lainnya diharapkan dapat berkembang dan memperkokoh perekonomian bangsa di masa pandemi Covid-19.
Game Changer undang-undang Cipta Kerja (Ciptaker) dinilai mulai nendang, setelah peraturan pelaksanaan berupa 51 PP dan Perpres rampung diterbitkan pada Desember hingga Februari lalu.
Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang lahir dari omnibus law ini telah dibentuk dengan setoran modal pemerintah sebesar Rp 75 triliun, yang diproyeksikan menarik investasi asing maupun dalam negeri Rp 225 triliun untuk tahap pertama.

Menko perekonomian Airlangga Hartarto memastikan UU Cipta Kerja tidak hanya mendorong investasi sektor jumbo, tetapi juga usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Tanah Air..

Senada, Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad menilai, dari PP dan perpres pelaksana UU Ciptaker tersebut, yang paling efektif dan paling berpengaruh positif untuk pemulihan ekonomi adalah aturan-aturan mengenai perizinan terutama untuk UMKM, serta pengambilan keputusan berkaitan dengan masalah lahan.

Hal yang menghambat UMKM adalah regulasi, dengan adanya UU Cipta Keerja maka perihal regulasi sudah dipermudah. Selain itu UMKM juga memerlukan dukungan dari sisi implementasi regulasi untuk pemberdayaan, akses ke pasar dan pembiayaan. Implementasi untuk mengawal hal tersebut tentu saja membutuhkan konsistensi dari pemerintah, karena butuh alokasi anggaran pemerintah, serta dukungan perbankan dalam hal kredit.

Di sisi lain, ada juga yang akan menjadi batu sandungan dalam implementas, misalnya terkait dengan lahan.

Tauhid menjelaskan, jika pemerintah daerah tidak segera mempersiapkan keputusan terkait tata ruang dan sebagainya, penanganan akan diambil alih pemerintah pusat. Jika hal itu terjadi, implikasinya akan terjadi penolakan di lapangan, karena daerah tidak dilibatkan dalam proses itu. Sehingga, intinya adalah problem eksekusi, karena Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTK) menjadi syarat untuk kewajiban penempatan dan lokasi di mana yang diperbolehkan untuk digunakan.

Dirinya juga menjelaskan, biaya pembuatan RDTK juga tidak murah. Selain itu, keputusan-keputusan mengenai penggunaan lahan untuk ditetapkan dalam peraturan daerah yang perlu dibahas di tingkat legislatif pada umumnya membutuhkan waktu.

Tauhid menuturkan, ada juga tantangan dalam UU Cipta Kerja mengenai perburuhan. Menurunya, masih ada 7 poin yang perlu segera diperbaiki.

Sehingga nantinya yang perlu dipermudah tidak hanya soal upah, tetapi hal lainnya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan juga perlu diselesaikan terlebih dahulu. Misalnya, turunan dari UU Cipta Kerja ada perpres dengan banyak lampiran, lampiran pertama berkaitan dengan fasilitas atau insentif yang diberikan pemerintah, kedua berkaitan dengan UMKM, dan ketiga adalah persyaratan tertentu. Meski demikian, yang akan menjadi masalah adalah persyaratan tertentu, karena hal tersebut membutuhka persiapan, tidak cukup apabila hanya dengan perpres.

Beleid tersebut menurut Tauhid juga memerlukan petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk pelaksanaan (juklak). Ini artinya tetap harus ada peraturan menteri (permen) dan harus menunggu sampai nanti permen diterbitkan.

Sebelumnya, Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto memastikan, UU Cipta Kerja yang telah disahkan DPR RI akan memberi banyak kemudahan serta manfaat bagi pelaku usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

UU Cipta Kerja yang disahkan pada 5 Oktober 2021 lalu ternyata mampu memberikan aspek legal dari UMKM, dimana selama ini hal tersebut tidak memiliki legal standing atau landasan hukum usaha bagi UMKM dengan biaya yang murah dan tanpa akte notaris.

Disahkannya UU Cipta Kerja ini tentu saja diharapkan mampu mengembangkan UMKM dan terealisasi dalam aturan yang mewajibkan adanya fasilitas infrastruktur publik minimal 30 persen untuk tempat promosi, tempat usaha dan pengembangan usaha mikro dan kecil.

Darmadi menilai, UU Ciptaker ini telah memberikan banyak perlindungan dan peluang kepada penguatan UMKM di Indonesia terutama dalam kegiatan UMK.

UU Cipta Kerja ini juga memungkinkan agar pelaku UMKM dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja serta pembentukan koperasi bisa lebih mudah. Tentu saja hal ini akan mengurangi jumlah pengangguran dan memperkuat perekonomian skala mikro.

Geliat UMKM di Indonesia memang patut mendapatkan perhatian, karena dengan adanya UMKM maka roda perekonomian suatu daerah akan berputar sehingga akan berdampak multiplyer effect terhadap banyak sektor yang memiliki keterkaitan dengan proses produksi UMKM.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Dodik Prasetyo )*

Pemerintah mencanangkan gerakan mencintai produk dalam negeri, agar sektor UMKM selamat. Karena saat pandemi, merekalah yang paling jatuh saat kehilangan pelanggan, setelah daya beli masyarakat menurun drastis. Jika UMKM selamat maka perekonomian Indonesia akan selamat, karena merekalah tulang punggung finansial Indonesia.

Selama ini, kita sering melihat iklan produk impor yang terkesan indah. Memang banyak artis yang memakai produk buatan luar negeri dengan harga fantastis. Bahkan sebuah tas ada yang harganya puluhan hingga ratusan juta rupiah. Padahal bentuknya sangat kecil, sehingga tidak bisa memuat banyak benda di dalamnya.

Sayangnya mindset bahwa barang buatan luar negeri itu lebih bagus, masih bercokol di kepala banyak orang. Ada pula yang membelinya karena alasan gengsi. Padahal produk buatan dalam negeri juga tak kalah bagusnya dan kualitasnya hampir sama. Selain itu, harganya juga jauh lebih murah, karena tak perlu bayar pajak dan biaya kirim yang mahal.

Presiden Jokowi mengkampanyekan cinta produk dalam negeri. Karena membeli produk dalam negeri adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap masyarakat lainnya. Caranya dengan belanja di sektor mikro, ultra mikro, dan membeli barang buatan dalam negeri. dalam artian, jika buatan anak bangsa banyak yang membeli, maka perekonomian kita akan terangkat.

Presiden Jokowi menambahkan, barang buatan dalam negeri juga tak kalah bagusnya dengan buatan luar negeri. Dalam artian, sebenarnya kualitas produk asli Indonesia juga baik, hanya saja mungkin promosinya kurang. Ketika presiden menginstruksikan untuk membeli produk buatan Indonesia, maka secara tak langsung akan memviralkan bahwa kualitas barang asli Indonesia sangat bagus.

Sudah banyak produk asli Indonesia yang kuat dan desainnya memukau. Misalnya produsen UMKM tas dan dompet kulit dari Jogjakarta. Mereka membuat desain dompet kulit yang eksklusif dan memiliki motif batik, sehingga berkesan etnik dan sangat menarik. Bahkan produk ini juga diminati oleh wisatawan asing, karena sangat eksotis, menarik, dan tidak pasaran.

Selain itu, ada pula produsen UMKM sandal dan sepatu dari Bali. Produknya sangat unik dan eye catching, sehingga cocok dikenakan oleh perempuan yang menyukai mode. Sandal ini sudah masuk ke ranah internasional dan sudah diekspor, sehingga kualitasnya tidak perlu diragukan. Hal ini menunjukkan bahwa barang buatan Indonesia juga menjaga mutu dan tidak kalah dari produk luar negeri.

Ada pula gaun yang jadi incaran artis di luar negeri, padahal dirancang oleh desainer asli Indonesia. Pakaian yang unik itu menunjukkan cita rasa seni dari perancang mode di negeri kita, dan menunjukkan bahwa baju buatan kita juga tak kalah indahnya. Malah lebih unggul, karena ada sisi etnis, yang tidak dimiliki oleh produk luar negeri.

Lagipula, beberapa produk luar negeri ternyata dibuat di Indonesia, untuk alasan efisiensi baya produksi dan ongkos kirim. Pembuatnya juga orang Indonesia. Namun dibikin dengan standar internasional. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih keblinger akan barang impor, padahal sama saja dibuat di Indonesia.

Ketika ada gerakan untuk mencintai produk dalam negeri, maka akan menyelamatkan UMKM. Karena mereka bisa berproduksi, saat ada konsumen yang setia menunggu peluncuran barang baru. UMKM akan selamat karena bebas dari ancaman pailit, karena sepi order. Jika kita menyukai produk Indonesia, maka bisa juga memviralkannya, agar UMKM tetap jaya.

Mencintai produk dalam negeri akan membuat kondisi perekonomian negara membaik. Karena jika UMKM yang membuat produk asli Indonesia membuat barang, lalu diserbu para pembeli, akan naik omzetnya. Akibatnya roda perekonomian akan berjalan dengan kencang. UMKM juga tulang punggung dari finansial Indonesia, karena mayoritas pedagang berlevel kecil dan menengah. Oleh karena itu wajib dibantu oleh program ini.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

Oleh : Gerry Iskandar )*

Tanggal 11 maret 2021 ada libur dalam rangka Isra Miraj. Masyarakat diminta untuk stay at home dan jangan traveling untuk sementara. Ingatlah bahwa saat ini masih masa pandemi, sehingga mobilitas harus dibatasi. Jangan sampai nekat liburan lalu pulang membawa penyakit corona.

Saat pandemi belum selesai, malah ada klaster corona baru pasca libur panjang. Klaster liburan ini sangat mengerikan, karena akan menambah jumlah pasien corona di Indonesia. Menurut data dari tim satgas covid, pasien corona bertambah hingga 5.000 orang per harinya. Sementara jumlah orang yang terkena virus covid-19 di Indonesia lebih dari 1 juta orang.

Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 meminta masyarakat untuk tidak keluar kota saat libur isra miraj. Tujuannya agar mengendalikan covid dan tidak menimbulkan lebih banyak korban. Dalam artian, sebagai warga negara yang baik, kita harus taat peraturan dan menahan diri untuk tidak jalan-jalan saat masih masa pandemi. Peraturan bukan untuk dilanggar, tapi untuk dipatuhi.

Memang ada libur saat long weekend karena dari tanggal 11 sampai tanggal 14 maret 2021 tanggal merah, karena ada pula hari raya Nyepi. Namun itu bukan jadi alasan untuk nekat holiday ke luar kota, apalagi luar negeri. Daripada ngotot liburan dengan alasan refreshing, tetapi pulang dan langsung kena corona. Ingatlah pepatah lama, lebih baik mencegah daripada mengobati.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menghimbau agar masyarakat berada di rumah saja saat long weekend april ini. Pasalnya, pasca liburan panjang selalu ada lonjakan kasus covid. Dalam artian, klaster liburan nyata adanya. Karena saat mobilitas manusia naik, penyebaran corona akan makin menggila. Apalagi jika kita berada di wilayah berzona merah.

Hal ini tentu akan merepotkan pada nakes yang sedang berjuang di Rumah Sakit. Janganlah egois dan seenaknya berlibur, lalu memamerkan fotonya di media sosial, seolah-olah perjuangan nakes tiada artinya. Padahal di balik baju APD, para dokter dan perawat sangat kelelahan karena bekerja ekstra keras, bahkan menambah jam kerja di luar shift.
Sehingga mereka juga rentan tertular corona.
Jika nakes tertular corona lalu tidak sengaja menularkannya pada kita, maukah kita menahan sakitnya tubuh, merasa demam, sesak nafas, dan tak mampu membaui aroma apa-apa? Akan jadi lingkaran setan dan pasiennya terus bertambah. Tidak ada orang yang mau terkena penyakit berbahaya ini. Oleh karena itu, jangan sampai traveling dengan alasan bosan di rumah, pada liburan isra miraj ini.

Saat akan diajak berlibur oleh teman-teman, ingatlah mereka yang sedang menahan derita di Rumah Sakit, karena sedang terjangkit corona. Kita wajib berempati kepada para pasien yang sesak nafas dan merindukan kondisi tubuh yang sehat. Bukannya malah nyelonong dan bepergian, serta lupa kalau sekarang masih masa pandemi.

Seharusnya masa pandemi menjadi masa prihatin, dan bukannya berfoya-foya saat liburan. Jika ada kelebihan uang, lebih baik ditabung saja, bukannya dihabiskan saat traveling. Kita tak tahu kapan pandemi akan berakhir, dan harus mengencangkan ikat pinggang. Mumpung masih kuat bekerja dan punya pekerjaan tetap, karena di luar sana banyak yang jadi korban PHK saat pandemi.

Sabarlah saat masa pandemi belum usai dan nikmati liburan di rumah saja saat long weekend isra miraj maret 2021 ini. Berlibur di rumah tidak ada salahnya, apalagi saat ini sudah banyak hiburan yang bisa diakses dari rumah. Lebih baik melanjutkan stay at home, daripada berangkat liburan lalu pulangnya merana karena corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Halimatusya’diyyah (Warganet Kota Tangerang Selatan)

Hingga saat ini Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua terus dimatangkan. Setelah sempat tertunda pada 2020 karena adanya wabah Covid-19, PON akan dilaksanakan pada 2 Oktober 2021 mendatang. Meskipun sempat tertunda selama setahun, namun kegiatan ini sangat dinanti oleh kalangan masyarakat.

PON 2021 Papua yang mengusung tagline “Torang Bisa” merupakan wujud dari penyemangat khas Papua. Pelaksanaan PON ke-XX Tahun 2021 yang akan berlangsung di Papua akan diselenggarakan di 4 wilayah, yakni kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Merauke dan Kabupaten Mimika. Keberlangsungan gelaran ini akan menunjukkan kemajuan pembangunan Papua.

Banyaknya informasi simpang siur yang tersebar di media, membuat sebagian masyarakat kebingungan untuk akses informasi seputar kebenaran berita PON XX Papua. Dalam sejarahnya, PON memang ajang yang banyak dinantikan oleh khalayak, sehingga wajar jika masyarakat mencari tahu seputar pelaksanaannya.

Dengan banyak persiapan yang ada, masyarakat diminta untuk tidak menyebarkan informasi yang salah seputar PON XX ini. Masyarakat harus bisa melawan hoaks dan konten provokatif tentang PON XX tahun 2021 demi membangun optimisme bangsa. Bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi di sosial media juga termasuk bentuk dari mencintai Tanah Air.

Masyarakat Indonesia harus mahir mengecek sumber kevalidan berita seputar PON XX tahun 2021, agar tidak menimbulkan perpecahan dengan adanya provokasi-provokasi di media sosial. Menjadi bangsa yang maju berarti mampu membedakan hal yang benar dan salah, khususnya untuk negara sendiri. Tumbuhkan rasa kepedulian terhadap kemajuan bangsa Indonesia.

Tak hanya itu, suksesnya acara ini juga berasal dari masyarakat yang saling bahu-membahu mendukung PON XX demi menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Selain itu, adanya PON juga merupakan ajang lompatan anak bangsa dalam menunjukkan prestasi untuk Indonesia agar dapat berprestasi di kancah internasional serta dapat membawa merah putih di podium tertinggi.

Dengan memiliki jiwa yang positif, maka masyarakat Indonesia tidak akan termakan oleh adanya konten hoaks dan provokatif oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, masyarakat juga harus selalu mengakses informasi seputar PON XX dengan hati-hati atau dari sumber terpercaya demi mewujudkan optimisme bangsa menuju Indonesia Maju.

Oleh : Moses Waker )*

Pekan olahraga nasional yang akan dilaksanakan di akhir 2021 menjadi kebanggaan bagi warga asli Papua. Menjadi tuan rumah adalah sebuah kehormatan, karena baru kali ini acara sebesar PON diselenggarakan di Papua. Selain itu, saat acara ini dilangsungkan di Bumi Cendrawasih, rasa nasionalisme mereka akan meningkat.

Masyarakat Papua sangat bangga karena mendapatkan kesempatan jadi tuan rumah PON XX. Kesempatan emas ini sangat langka, karena baru kali ini acara berlevel nasional diselenggarakan di Papua, yang notabene sangat jauh dari ibukota. Mereka senang lalu ikut meramaikan timeline Facebook dan Twitter dengan konten berupa logo PON dan foto-foto venue olahraga di Papua.

Nowela Elizabeth, penyanyi asli Papua mengaku senang akan penyelenggaraan PON di Papua. Ia merasa bertanggungjawab secara moral akan suksesnya penghelatan acara olahraga ini. Menurutnya, acara sebesar PON masih kurang gaungnya, oleh karena itu ia berusaha agar mempopulerkannya, agar semua orang tahu bahwa ada ajang olahraga berlevel nasional di Papua.

Nowela bersama Edo Kondologit dan penyanyi asli dari Bumi Cendrawasih yang lain membuat proyek dan menghasilkan single berjudul Papua Bangkit. Dengan harapan, PON XX akan menjadi momen untuk membangkitkan wilayah Papua. Dalam artian, PON bukan sekadar ajang olahraga, tetapi juga kesempatan untuk membuat perekonomian di Bumi Cendrawasih bangkit lagi.

Kebangkitan ekonomi di Papua memang harus dilakukan, agar kondisi finansial warganya tak lagi terpuruk akibat efek pandemi. Saat ada PON, maka ribuan atlet, pelatih, dan suporter akan mengunjungi Jayapura dan kota lain yang jadi lokasi pertandingan. Otomatis mereka akan butuh makanan, dan mencari hidangan khas Papua. Akan banyak konsumen baru dan meningkatkan omzet dari pedagang makanan.

Selain itu, PON XX juga akan meningkatkan komitmen berbangsa dan bernegara, serta rasa nasionalisme bagi warga asli Papua. Selama ini, mereka sudah cinta NKRI dan merasa bahwa wilayahnya adalah bagian dari Indonesia. Namun sayang ada hasutan dari kelompok separatis, sehingga perdamaian dan persatuan di Papua terancam.

Ketika ada PON XX, maka seluruh rakyat bersatu untuk mendukung timnas Papua. Mereka tak menghiraukan bujukan kelompok separatis untuk berpisah. Karena merasa lebih baik menjadi bagian dari Indonesia. Papua dan Papua Barat adalah provinsi di Indonesia yang sah di mata hukum, dan rakyatnya tidak mau jika diajak membelot.

Keberadaan PON meningkatkan rasa nasionalisme warga Papua. Karena mereka akan menonton pertandingan sambil bersatu dengan suporter lain dari seluruh provinsi, dan merasakan persatuan dalam arti yang sebenarnya. Inilah Indonesia, bangsa yang terdiri dari banyak suku, tetapi tetap bisa bersatu dan menjunjung tinggi toleransi. Serta mengutamakan perdamaian dan tidak saling mem-bully.

Penunjukan Papua sebagai tuan rumah PON adalah suatu anugerah, karena pemerintah pusat mempercayakan provinsi tertimur di Indonesia untuk meng-handlenya. Berarti mereka merasa bahwa orang Papua sanggup jadi panitia dan mampu menyelenggarakan acara berlevel nasional.

Orang asli Papua juga dianggap cerdas dan bisa menyelenggarakan acara akbar. Berarti rumor bahwa warga di Bumi Cendrawasih dianggap sebelah mata, salah besar. Karena masyarakat Papua adalah warga Indonesia juga, dan sangat pantas diberi kesempatan untuk jadi panitia PON. Agar ada asas keadilan di seluruh Indonesia.

PON XX menjadi ajang untuk bersatu walau mendukung tim dari provinsi yang berbeda.  Para suporter tetap sportif dan tetap solid, walau pertandingan telah usai. Mereka tak lagi bertikai, tetapi mau bekerja sama dan saling menolong. Masyarakat Papua sangat bangga akan penyelenggaraan ini di Papua, karena dipercaya oleh pemerintah pusat. )* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo