Mengapresiasi Upaya Pemerintah Menekan Penyebaran Covid-19

Oleh : Andy Setyo )*

Pemerintah terus melakukan berbagai cara untuk menekan penyebaran Covid-19. Dari tahun 2020, PSBB telah dilakukan hingga dua kali. Selain itu, ada pula program sosialisasi perubahan perilaku, agar masyarakat sadar dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Tujuannya agar mereka disiplin mandiri menaati protokol kesehatan.

Pemerintah saat ini tengah fokus dengan program vaksinasi Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Dalam program tersebut, Pemerintah juga telah menganggarkan dana khusus vaksinasi yang menembus angka 74 triliun rupiah untuk memvaksin seluruh masyarakat Indonesia secara bertahap. Namun, kehadiran hoax di tengah masyarakat bisa menggagalkan program vaksinasi ini. Pemerintah dan masyarakat perlu berkolaborasi untuk memerangi hoax agar Indonesia segera keluar dari pandemi.

Di Indonesia, gerakan antivaksin menguat berdasarkan aliran kepercayaan. Kondisi tersebut tentu membuat resah dan menjadi kekhawatiran masyarakat yang mudah percaya, lalu ikut menyebarluaskan tanpa memastikan kebenarannya. Padahal, pengadaan, distribusi, dan pemberian vaksin tersebut telah diatur secara ketat oleh pemerintah. Sehingga, vaksin Covid-19 sudah dijamin aman untuk diberikan kepada masyarakat.

Vaksinasi adalah solusi bagi masyarakat untuk melindungi diri dan keluarga guna menekan laju penularan virus Covid-19 di Indonesia. Jika hoax tidak ditangani dengan serius, tentunya membuat sejumlah pihak khawatir dan akan semakin sulit untuk mengakhiri pandemi ini karena akan mempengaruhi opini masyarakat agar tidak mau menerima vaksinasi tersebut.

Akhir-akhir ini pemerintah aktif melakukan vaksinasi kepada masyarakat. Namun, banyak ditemukan berita-berita hoaks terkait vaksinasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab dengan tujuan untuk menyerang pemerintah.

Kelompok kepentingan juga banyak memanfaatkan program vaksinasi nasional sebagai bahan berita hoaks. Mereka seakan berlomba-lomba menciptakan kekeruhan pada air bening yang mengalir dengan tenang. Media sosial seharusnya digunakan sebagai media literasi untuk menyampaikan kabar baik dan informatif namun saat ini telah banyak disalahgunakan untuk menyebarkan berita hoaks.

Perkembangan pesat teknologi melalui internet seharusnya digunakan untuk mengakses informasi valid dan terferivikasi, namun perkembangan tersebut justru disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai alat penebar kebencian, provokasi, serta hoaks. Sementara itu, berita hoaks merupakan kabar berita, informasi, dan pesan penting yang sudah direkayasa sedemikian rupa dan disebarkan di media, khususnya di media sosial.

Terkait hoax yang beredar salah satunya adalah dugaan vaksin AstraZeneva menyebabkan pembekuan darah pada beberapa orang. Sehingga beberapa negara pun menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca, seperti Thailand dan Denmark. Padahal, pemerintah Indonesia melalui BPOM dan Kemenkes telah memastikan bahwa Vaksin yang akan digunakan di masyarakat telah melalui tahapan pengembangan serta serangkaian uji yang ketat, sehingga terjamin kualitas, keamanan, dan efektivitasnya serta memenuhi standar internasional.

Oleh karena itu, Masyarakat diharapkan mendukung dan menyukseskan vaksinasi Covid-19 dengan mencegah dan melawan hoaks terkait vaksinasi melalui kampanye positif di media sosial. Kampanye di media sosial ditujukan untuk menyebarluaskan informasi yang memuat manfaat pentingnya vaksinasi Covid-19, sekaligus menepis hoaks vaksinasi Covid-19 yang banyak tersebar di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, edukasi terkait vaksin harus terus digencarkan agar masyarakat tidak termakan hoax, sehingga upaya pemerintah dalam menekan laju penyebaran covid-19 dapat berjalan sukses.

Sudah semestinya rakyat mengapresiasi upaya pemerintah menangani penyebaran Covid-19 dan menghindari hoaks yang dapat menimbulkan hal kontraproduktif, sehingga percepatan penanganan Covid-19 sulit tercapai. Sekarang saatnya bersama lawan hoaks dan konten negatif seputar kebijakan protokol kesehatan.

Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Tinggalkan Balasan