Terduga Teroris Pernah Berbaiat ke Ormas Terlarang

Oleh : Ahmad Kurniawan )*

Penangkapan terhadap kelompok teroris terus dilakukan secara intensif oleh Densus 88. Saat ada terduga teroris yang ditangkap, terungkap fakta bahwa ia pernah berbaiat di markas ormas terlarang. Hubungan antara ormas dan kelompok teroris masih diselidiki. Sehingga diharap akan terungkap di mana saja jaringan terorisme di Indonesia.

Penangkapan anggota teroris semakin intensif dilakukan oleh Densus 88. Pasalnya, mereka mencegah agar tidak ada lagi korban jiwa dari warga sipil, saat ada pengeboman atau penembakan oleh kelompok teroris. Berkaca dari peristiwa pengeboman di Makassar dan penyerangan di Mabes Polri, kelompok teroris makin nekat dan seolah mengejek aparat agar mereka mengejar-ngejar mereka.

Setelah pengeboman dan penyerangan oleh teroris, maka Densus 88 menangkap terduga teroris di daerah Condet. Dari hasil interograsi, didapatkan fakta bahwa ia pernah dibaiat di tempat yang ternyata menjadi markas FPI yang dinyatakan sebagai ormas terlarang. Hal ini makin dikuatkan dengan penemuan bawang bukti berupa atribut FPI di rumah mereka.

Penemuan ini membuat publik menghubungkan antara ormas terlarang dengan kelompok teroris. Mereka memiliki motif serupa untuk membentuk negara khilafiyah dan selalu menentang pemerintah. Apalagi setelah rekening FPI dibekukan, ditemukan fakta bahwa ada transferan masuk dari seseorang di luar negeri yang terkenal sebagai penyandang dana kelompok teroris.

Meskipun FPI mengelak, tetapi mereka tetap mendapat cap buruk di masyarakat. Karena bukan kali ini saja mereka dihubungkan dengan kelompok teroris. Pada penangkapan anggota teroris di Jawa Timur, tersangka mengaku bahwa saat dibaiat oleh ISIS, ia melihat sosok Munarman yang notabene petinggi FPI. Munarman bukan tamu biasa tetapi dekat dengan sejumlah petinggi di kelompok teroris tersebut.

FPI memang sudah dibubarkan tetapi aparat berusaha agar mereka tidak membuat Neo FPI atau mengadakan aktivitas yang berbahaya, seperti membantu aksi terorisme. Karena perbuatan ini sangat tercela dan merugikan banyak orang. Teroris sangat kejam dengan berani mengambil nyawa saudara setanah airnya sendiri. Bahkan mengorbankan dirinya sendiri dengan menjadi pengantin bom.

Baiat pada anggota teroris adalah proses di mana seorang anggota baru dicuci otaknya dan dimasukkan ajaran radikalisme, ekstrimisme, dan terorisme. Pemikiran mereka jadi melenceng karena menganggap pemerintah itu zalim dan aparat itu taghut. Padahal polisi adalah sahabat rakyat, tetapi malah dianggap musuh. Sehingga ada anggota teroris yang nekat menyerang Mabes Polri seorang diri.

Ali Imron, eks narapidana terorisme kasus bom Bali, menyatakan bahwa proses baiat cukup cepat, hanya 2 jam. Provokasi dilakukan dengan kilat, karena anggota yang direkrut sudah punya basic pemikiran yang sama tentang jihad. Dalam artian, mereka tinggal diarahkan untuk berjihad dengan cara menyerang musuh, yang notabene adalah warga asing atau aparat.

Pemikiran ini tentu sangat mengerikan, karena Indonesia menjunjung tinggi pluralisme. Sedangkan teroris hanya mengakui sistem negara khilafiyah dan tidak mengakui perbedaan keyakinan di negeri ini. Kengototan mereka sangat salah, karena dasar negara adalah pancasila dan tidak cocok dengan sistem khilafiyah.

Ketika ada baiat yang terungkap, maka Densus 88 berusaha agar mencegah peristiwa ini terjadi lagi. Teroris amat mudah menyamar menjadi warga sipil biasa. Oleh karena itu masyarakat diminta untuk membantu kerja aparat dengan melaporkan jika ada orang yang mencurigakan. 

Baiat anggota teroris yang dilakukan di dalam markas FPI membuka tabir, sehingga ormas terlarang ini terbukti berafiliasi dengan kelompok terorisme. Pembubaran mereka sudah tepat karena banyak merugikan masyarakat Indonesia. Pembaiatan anggota baru kelompok teroris berusaha dicegah dan Densus 88 bekerja dengan sangat intensif, untuk membasmi terorisme di Indonesia.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Tengerang Selatan

Tinggalkan Balasan