Rakyat Papua Menolak KSP

Oleh : Saby Kossay )*

Kelompok Separatis Papua (KSP) yang kerap memprovokasi dan meresahkan masyarakat Papua, rupanya mendapatkan penolakan dari sebagian besar rakyat Papua. Hal ini dikarenakan gerakan KSP senantiasa mengajak rakyat Papua untuk memisahkan diri dari Papua.

Aksi kekejaman KSP kembali terjadi. Pada 25 April 2021, KSP menyerang Kabinda Papua Brigjen I Gusti Putu Danny saat terjun langsung menemui masyarakat. Dua hari berselang, KSP menembak anggota Polri bernama Bharada Komang. Gugurnya kedua pahlawan tersebut menandakan jika KSP adalah gerombolan teroris yang pantas dibasmi.

Beragam hal yang dilakukan oleh KSP untuk memprovokasi adalah dengan membuat keonaran, memunculkan kerusuhan, dan berkampanye tentang kemerdekaan di luar negeri. Apalagi mereka menyadari bahwa perjuangan mereka tidak mungkin terwujud tanpa melibatkan pihak asing.

            Kelompok ini juga tidak bekerja sendiri, melainkan ada kelompok lainnya yang turut aktif menuntuk kemerdekaan bagi Papua.

            Mereka kerap membawa narasi tentang pelanggaran HAM oleh pemerintah Indonesia, namun nyatanya kelompok kriminal inilah yang kerap melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Penolakan sempat digelorakan oleh Mahasiswa Papua di Sulawesi Utara, yang secara tegas menolak setiap aksi gerakan separatis yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

            Hal tersebut ditegaskan oleh Aktifitas Papua di Manado, Tadeus Wenda pada Februari 2021 lalu, dirinya menilai bahwa gerakan separatis hanya akan merongrong keutuhan NKRI. Mahasiswa Papua di Sulawesi Utara secara tegas menolak setiap aksi separatis baik di Papua maupun di Sulut.

            Ia juga menghimbau kepada rekan-rekan mahasiswa Papua yang sedang menimba ilmu di Sulut agar tidak terpancing oleh isu-isu provokasi yang digencarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab.

            Dirinya juga berharap agar mahasiswa Papua di Sulut bersama elemen masyarakat lainnya untuk terus mendukung program pemerintah untuk kesejahteraan rakyat. 

            Di masa pandemi Covid-19 ini, dirinya mengajak kepada rekan-rekannya untuk memberikan dukungan kepada pemerintah yang tengah berupaya memutus mata rantai penyebaran virus corona.

            Kelompok separatis di Papua terus menggaungkan provokasinya agar warga di Bumi Cenderawasih berkenan bergabung dengan kelompoknya. Kelompok tersebut-pun menghalalkan berbagai cara, mulai dari intimidasi, hingga provokasi di dunia maya. Namun sepertinya masyarakat Papua masih lebih memilih untuk memeluk bendera Merah Putih.

            Kelompok kriminal ini juga telah mengetahui begitu kuatnya pengaruh sosial media. Mereka memanfaatkan akses internet untuk menyebarkan berita bohong bahwa misi pemerintah Indonesia adalah memberantas ras melanesia, sehingga seluruh warga asli Papua diminta untuk tidak bergabung dengan NKRI.

            Tentu saja narasi tersebut tidaklah benar sekaligus nirnalar, jika memang pemerintah Indonesia ingin memberantas ras melanesia, mana mungkin pemerintah menggelontorkan dana Otsus hingga membuat anak muda di Papua dapat menempuh pendidikan hingga ke luar negeri.

            Mana mungkin pula pemerintah ingin memberantas ras melanesia, apalagi pemerintah telah berusaha menetapkan BBM satu harga dari sabang sampai merauke.

            Selain itu, fitnah dengan topik SARA sengaja dibuat agar masyarakat Papua antipati terhadap pemerintah pusat. Karena OPM paham, topik tersebut sangat sensitif dan membuat banyak orang menjadi emosional. Ketika emosi sudah terpancing, tak heran jika ada sebagian yang akhirnya terjebak dalam narasi hoax.

            Kelompok separatis di Papua juga memprovokasi masyarakat Papua untuk ikut serta merayakan ulang tahunnya dan menjadi warga negara Republik Federal Papua Barat. Alasannya karena jika Papua merdeka, maka keadaan ekonomi dan sosial akan lebih baik. Selain itu, mereka juga bosa mengelola hasil bumi dan sumber daya alam serta pertambangan sendiri.

            Padahal masyarakat sudah paham bahwa saat ini perusahaan tambang sudah milik pemerintah Indonesia. Sehingga hasilnya juga untuk seluruh WNI, termasuk warga asli Papua. Mereka juga merasa perhatian pemerintah melalui program otonomi khusus, yang berhasil membangun infrastruktur seperti jalan Trans Papua yang memudahkan transportasi.

            Beragam provokasi KSP terus dihindari oleh masyarakat Papua, masyarakat juga tidak takut menolak provokasi tersebut karena semakin banyaknya anggota TNI yang berjaga, khususnya di daerah rawan seperti Intan Jaya. 

            Rakyat Papua sadar bahwa KSP hanyalah segelintir orang yang ingin merdeka dari Indonesia. Namun mereka tidak sadar bahwa saat ini wilayah Bumi Cenderawasih telah maju pesat, berkat adanya program otsus dan perhatian pemerintah pusat yang lain.

            KSP memang sudah sepatutnya dienyahkan, masyarakat papua harus berani mengabaikan segala provokasi yang digaungkan oleh kelompok tersebut, karena sampai kapanpun tanah Papua akan tetap menjadi bagian dari NKRI.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan