Rizieq Shihab Sulit Lepas Dari Jerat Hukum

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menilai Habib Rizieq menyiarkan berita bohong mengenai hasil swab test-nya di RS Ummi. Rizieq dianggap tidak mendukung upaya penanggulangan pemerintah dalam memerangi pandemi Covid-19. JPU Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis (3/6/2021) mengajukan tuntutan enam tahun penjara atas kasus swab test di Rumah Sakit (RS) Ummi, Bogor.

Anggota Komisi III DPR RI, I Wayan Sudirta, mengatakan kasus swab test yang melibatkan Rizieq Shihab dapat menjadi pembelajaran bagi pengikutnya dan masyarakat umum.

“Dalam perkara ini, sebagai tokoh agama yang memiliki pengikut, pasti tindak-tanduk dan sikapnya akan menjadi cermin bagi pengikutnya,” ujar Sudirta.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan bahwa pengungkapan perkara dugaan pemalsuan hasil swab itu penting agar jika terbukti bersalah, maka masyarakat mendapatkan pelajaran bahwa perbuatan itu melawan hukum dan merugikan masyarakat umum.

“Dalam kondisi pandemi seperti ini disiplin terhadap protokol kesehatan saja tidak menjamin kita lolos dari ancaman Covid-19. Apalagi jika tidak disiplin,
melanggar protkes, sampai memalsukan hasil swab test,” tambah Sudirta.

Menyikapi hal tersebut, pengamat politik dan hukum Makara Strategik Insight, Iwan Freddy, SH., M.Si, mengatakan bahwa akan menjadi suatu hal yang sulit bagi Rizieq Shihab (RS) untuk terbebas dari jerat
hukum. Sebab ia melihat bahwa pemerintahan Presiden Jokowi sedang berupaya memperoleh kepercayaan internasional terkait jalannya law enforcement di Indonesia.

Kasus RS memiliki daya tarik tersendiri sehingga coco untuk menjadi panggung pembuktian bagi aparat penegak hukum. Mengingat perhatian publik yang sangat tinggi, maka asas due process kemungkinan besar akan sangat dikedepankan.

Tinggalkan Balasan