PEN Mendorong Potensi Ekonomi Baru

Oleh : Abimanyu Pradipta )*

Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dijadikan solusi mengatasi dampak pandemi, akan mendorong potensi ekonomi baru. Pasalnya, program ini lebih difokuskan untuk menolong para pengusaha UMKM, tahun 2021. Sehingga pebisnis kecil akan terstimulasi dan muncul potensi ekonomi yang baru.

Pandemi yang sudah kita lewati selama setahun ini nyaris membuat perekonomian banyak orang jadi ambruk, terutama bagi pengusaha UMKM. Mereka tidak bisa membuka toko fisik karena kebijakan stay at home dan disusul dengan PPKM mikro. Daya beli masyarakat juga menurun, karena banyak yang kehilangan pekerjaan saat pandemi.

Jika keadaan ini berlarut-larut maka akan sangat berbahaya, karena roda perekonomian makin melambat dan ketika berhenti, bisa membuat Indonesia terjun ke dalam lubang resesi. Oleh karena itu pemerintah merancang program pemulihan ekonomi nasional untuk mengatasinya. Sehingga masyarakat akan tertolong dan kita tidak mengalami krisis ekonomi atau resesi.

Program pemulihan ekonomi nasional akan diperpanjang lagi tahun 2021 karena kenyataannya pandemi masih berlanjut. Meski belum tahu kapan selesainya, tetapi kita wajib optimis, jadi nanti setelah pandemi, keadaan finansial negara akan membaik. Semua ini berkat pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional.

Pada program pemulihan ekonomi nasional, akan diberikan intensif pajak, sehingga beban pengusaha UMKM akan berkurang. Karena bagaimana mereka bisa membayar pajak saat pemasukan seret, bahkan nyaris nol? Ketika ada intensif maka mereka bisa fokus pada perbaikan usaha dan bagaimana cara agar meningkatkan omzet penjualan lagi.

Selain itu, akan diberi beberapa hal lagi untuk pengusaha UMKM, seperti kredit usaha rakyat KUR. Anto Prabowo, Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik OJK menyatakan bahwa per april 2021, kredit mengalami kenaikan sebesar 2,8%. OJK akan terus menjaga sektor jasa keuangan agar stabil, caranya dengan mendekati ke pemangku kekuasaan.

Kredit usaha rakyat diharap akan membantu para pengusaha UMKM untuk tetap survive di tengah pandemi. Dengan uang pinjaman itu maka pengusaha kecil dan menengah bisa kulakan barang lagi dan membuka tokonya kembali. Sehingga mereka memiliki modal untuk memulai berdagang dan berusaha keras untuk mendapatkan keuntungan lagi.

Intensif pajak dan kredit usaha rakyat diharap bisa mendorong potensi ekonomi yang baru. Pengusaha kecil dan menengah akan bisa fokus untuk mengembangkan usahanya, sehingga tak lagi dipusingkan untuk urusan pajak. Penyebabnya karena jika mereka masih dibebani pajak yang cukup tinggi, bisa-bisa berhutang hanya untuk membayarnya, karena kenyataannya memang penghasilan sedang menurun drastis.

Padahal berhutang tentu memiliki ending yang tidak enak, sehingga akan memusingkan di belakang. Usaha belum jalan, keuntungan masih di awang-awang, masih dikejar oleh debt collector. Betapa sengsaranya.

Selain itu, pengusaha UMKM bisa lega karena mendapat dana dari KUR plus masih ditambah memiliki peluang untuk mendapat bansos cash khusus pengusaha kecil dan menengah. Tentu dengan syarat sudah memiliki nomor izin beruaha. Sehingga selain bisa membuka usahanya kembali, mereka juga bisa melengkapinya dengan perangkat baru.

Misalnya pengusaha UMKM bisa membeli mesin EDC, aplikasi kasir, gadget baru untuk menampung lebih banyak aplikasi media sosial untuk promosi, dll. Sehingga usahanya akan makin berkembang. Karena memiliki support berupa perangkat terbaru.

Potensi ekonomi baru akan terbentuk berkat stimulus dari program pemulihan ekonomi nasional. Misalnya saat sudah punya toko online, sekalian membuka usaha kurir delievery. Atau ketika punya bisnis salon, akan bisa sekaligus berjualan makanan bagi para pelanggan yang mengantri di sana. Semua dijalankan dengan modal bantuan dari pemerintah.

Pemerintah sudah membuat program pemulihan ekonomi nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sehingga pengusaha UMKM bisa bertahan di tengah pandemi yang belum tahu kapan selesai. Stimulus dari pemerintah akan menolong mereka untuk lebih kreatif lagi dalam mengembangkan usaha.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Tinggalkan Balasan