Mendukung Penetapan Anggota KST Menjadi DPO

Oleh: Moses Waker )*

Beberapa anggota Kelompok Separatis dan Teroris (KST) menjadi masuk Dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Mereka buron karena melakukan dosa besar, dengan jadi otak dalam beberapa penyerangan yang membuat aparat meninggal. Masyarakat Papua sendiri setuju akan perburuan mereka, karena sudah merugikan dan membuat kerusuhan di Bumi Cendrawasih.

Kedamaian di tanah Papua dirusak oleh KST karena mereka membuat onar, dengan menembaki warga sipil maupun prajurit TNI yang sedang bertugas. KST melakukannya karena ingin memerdekakan Papua, sehingga mencari segala cara untuk mengusir aparat, karena dianggap representasi dari pemerintah Indonesia. Mereka juga menganggap Papua sedang dijajah, padahal bukan.

Ketika KST makin mengganas dengan menembak aparat dengan sniper dan bahkan membunuh para guru yang notabene warga sipil, mereka tak bisa dibiarkan. Akhirnya BNPT menyatakan beberapa pentolan KST sebagai buronan, yakni Murib, Egionus Kogoya, Germanius Elobo, Lekagak Telenggen, dan Sabinus Walker.
Terutama Telenggen yang jadi DPO nomor 1 karena memiliki jabatan tinggi di KST.
Selain Lekagak Telenggen, Sabinus Walker juga menjadi perhatian publik karena ia dan pasukannya yang membakar sekolah dan membunuh 2 orang guru di Papua. Walker sangat jahat karena ingin melenyapkan pengajar, entah dengan alasan rasis karena ada yang berasal dari luar Papua atau alasan lain.

Masyarakat mendukung penetapan para pentolan KST menjadi buronan teroris. Pasalnya, tindakan mereka sudah melewati batas dan menggunakan cara-cara ala teroris yang penuh kekerasan. Meski tidak ada aksi pengeboman, tetapi KST telah berkali-kali memicu keramaian dan takutnya ada perang antar suku lagi.

KST tak hanya mengancam dengan teror psikologis, tetapi juga dengan senjata api. Senjata ilegal itu tak hanya dipamerkan tetapi juga digunakan untuk membunuh. Bukankah ini sebuah cara kerja teroris? Sehingga wajar jika KKB diubah namanya jadi KST.

Pembunuhan yang dilakukan oleh KST tak hanya dilakukan pada anggota TNI dan Polri, tetapi juga warga biasa. Padahal masyarakat sipil yang mereka bunuh bukanlah mata-mata polisi seperti yang KST tuduhkan. KST terlalu sering negative thinking dan paranoid, sehingga semua orang dikira mata-mata. Ketika ada yang mencurigakan maka langsung ditembak tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

Warga sipil juga mendukung para pentolan KST dijadikan buronan karena Walker dkk membakar sekolah dan membunuh guru. Berarti mereka mencegah anak-anak Papua untuk maju melalui pendidikan. Bagaimana masa depan Bumi Cendrawasih bisa bersinar ketika masyarakatnya malah dilarang sekolah? Tak heran ketika Walker jadi DPO, masyarakat malah bergembira.

Jadi, tidak benar jika ada yang menyatakan bahwa masyarakat di Papua mendukung KST, karena justru mereka yang antipati terhadap kelompok separatis ini. Warga sipil di Bumi Cendrawasih sangat antipati terhadap KST, karena selalu mengganggu perdamaian dan memaksa banyak orang untuk menyeberang ke Republik Federal Papua Barat.

Justru masyarakatlah yang rajin melapor ketika ada anggota KST yang ketahuan ‘turun gunung’ alias meninggalkan markasnya, dan mulai beraksi di tengah kota. Warga sipil langsung menelepon kantor polisi terdekat untuk melapor dan mencegah agar tidak terjadi kerusuhan di Papua. Jangan sampai kedamaian tercerabut oleh aksi kotor dari organisasi separatis dan teroris.

Sebuah kelompok teroris tak hanya melakukan pengeboman, tetapi juga membuat kerusuhan dengan senjata api. Saat anggota KST jadi buronan teroris maka dianggap wajar karena mereka sudah berkali-kali melakukan pembunuhan keji, dan bertindak seperti teroris. Masyarakat di Papua sangat mendukung aparat untuk memburu KST, agar tercipta perdamaian di Bumi Cendrawasih.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Tinggalkan Balasan