Pemerintah Optimal Melaksanakan Program Vaksinasi Nasional Cegah Covid-19

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan mengeluarkan kajian tentang efektivitas vaksin Sinovac terhadap tenaga kesehatan. Riset dilakukan kepada tenaga kesehatan di DKI Jakarta sejak 13 Januari hingga 18 Maret 2021.

Berdasarkan kajian tersebut, Kementerian Kesehatan menemukan vaksin Sinovac efektif mencegah infeksi Covid-19 hingga 94 persen pada suntikan dosis kedua. Efektivitas tercapai setelah 28 hari penyuntikan.

Dosis kedua juga mencegah perawatan Covid-19 pada hari ke-28 setelah penyuntikan. Efektivitas vaksin untuk mencegah perawatan mencapai 96 persen. Kemudian, vaksin Covid-19 buatan Cina ini juga turut mencegah kematian sampai 100 persen setelah dosis kedua.

Sedangkan untuk pemberian vaksin dosis pertama, Sinovac tercatat bisa mencegah infeksi virus Corona sampai 13 persen pada hari ke-14 setelah penyuntikan. Selanjutnya, pemberian dosis pertama akan mencegah perawatan Covid-19 sampai 53 persen pada hari ketujuh setelah penyuntikan.

Studi efektivitas vaksin Sinovac ini dilakukan pada 25.374 tenaga kesehatan di DKI Jakarta. Korespondon untuk studi berusia di atas 18 tahun dan dinyatakan negatif Covid-19. Kajian ini menggunakan metode observasional dengan desain retrospektif kohor.

Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyebut kenaikan jumlah dokter yang meninggal saat menangani Covid-19, meningkat signifikan dari Mei hingga Juni 2021. Berdasarkan data IDI, ada 7 dokter meninggal pada Mei dan naik menjadi 26 orang pada Juni.

IDI menyebut angka kematian dokter paling tinggi sebenarnya pada Januari 2021, yaitu 65 orang. Namun, kenaikan dari Desember 2020 ke bulan berikutnya tak tinggi. Di Desember 2020, ada 57 dokter meninggal.

Setelah angka kematian Januari tinggi, grafik mulai menurun. Pada Februari ada 31 dokter meninggal. Kemudian turun lagi menjadi 16 orang pada Maret dan 8 dokter pada April. Di Mei, angkanya kembali turun menjadi 7 orang.

“Baru kemudian hingga per 25 Juni kemarin, meningkat tajam lagi, sekitar 26 orang (dokter sudah meninggal),” kata Tim Mitigasi Dokter PB IDI, Mohammad Adib Khumaidi, saat dihubungi Tempo, Senin, 29 Juni 2021. IDI tidak mau berspekulasi apakah tingginya kematian ini karena vaksin Sinovac kurang efektif. Yang jelas mereka mendorong agar ada penyuntikan dosis ketiga untuk tenaga kesehatan.

Sementara itu, Dalam periode hampir dua tahun sejak pertama kali ditemukan, virus SARS-Cov-2 terus bermutasi menjadi berbagai varian baru, beberapa di antaranya dianggap lebih berbahaya dari yang lain. Anggota Tim Pakar Media Satgas Covid-19 sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengatakan, kondisi saat ini diperburuk oleh perilaku masyarakat yang tak patuh protokol kesehatan, misalnya dengan berkerumun.

“Virus Covid-19 ini mudah berubah, varian of concern bagi saya itu ada dua, yakni varian Alfa (B.1.1.7) dan Delta (B.1.617). Tetapi di samping mutasi virus, terjadinya lonjakan kasus juga karena adanya kerumunan,” kata Mahardika dalam Dialog Publik KPCPEN yang disiarkan FMB9ID_IKP, Selasa (22/6).

Di sisi lain, lanjut Mahardika, vaksin Covid-19 sendiri sudah diteliti dan disebut masih efektif melawan varian Covid-19, terutama Alfa dan Delta. Untuk memerangi pandemi, dia menyatakan mendukung percepatan program vaksinasi di Indonesia. “Saya mendukung percepatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah. Karena dengan 40-50 persen cakupan vaksinasi Covid-19 di negara-negara Eropa, mereka sudah berani mengadakan piala Eropa 2021,” imbuhnya.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjadjaran Kusnandi Rusmil mengakui, Covid-19 memberi dampak luar biasa bagi kehidupan. Dia menilai vaksin cukup efektif memberi perlindungan. Jika seseorang yang sudah divaksin terinfeksi Covid-19, vaksin itu akan membantu mengurangi gejala dan risiko kematian.

Kusnandi menekankan, masyarakat semestinya takut pada virus corona, bukan pada vaksinasi. Untuk perlindungan yang lebih lengkap, vaksinasi harus dijalankan bersama kedisiplinan menjalani protokol kesehatan. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s