Ormas Berperan Sentral Dalam Penanggulangan Pandemi Covid-19

Oleh : Ahmad Rivai )*

Organisasi Kemasyarakatan memiliki peran sentral dalam penanggulangan pandemi Covid-19, tidak terkecuali sebagaimana yang sudah dilaksanakan Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah. Hal tersebut merupakan implementasi undang-undang bahwa Ormas wajib berkontribusi bagi masyarakat.

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan dampak yang luar biasa kepada masyarakat Indonesia. Krisis Kesehatan telah terjadi di mana mana, Rumah Sakit kehabisan oksigen, berita duka hampir kita dengar setiap hari.

Sementara itu krisis ekonomi telah menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Sehingga sangat penting bagi semua pihak untuk saling membantu tanpa melihat perbedaan dan saling peduli dalam meringankan beban dan kesulitan. Protokol kesehatan sudah semestinya menjadi kesadaran yang dipupuk demi mengakhiri pandemi covid-19.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir berpendapat, menaati protokol kesehatan merupakan salah satu wujud aktualisasi ketakwaan kepada Allah dalam konteks menghadapi situasi pandemi covid-19. Di tengah pandemi yang belum reda, Haedar menilai diperlukan sikap seksama dalam menaati protokol kesehatan oleh seluruh warga bangsa sebagai salah satu bentuk ikhtiar.

Perlu diketahui juga bahwa angka kesembuhan Covid-19 dalam beberapa hari terakhir mengalami tren kenaikan. Bahkan, data Satgas Covid-19 Kemenkes menunjukkan bahwa angka kesembuhan pada hari Sabtu 24 Juli 2021 mencapai rekor tertinggi sebanyak 39.747 pasien, sehingga kini total pasien yang sembuh mencapai 2.471.678 orang.

Angka tersebut rupanya menempatkan Indonesia pada urutan kedua setelah India dengan 40.052 pasien sembuh. Dua hari sebelumnya, angka kesembuhan juga memecahkan rekor yang sama. Defy Indiyanto Budiarto selaku Tokoh Muda Muhammadiyah menyambut gembira tren angka kesembuhan kasus Covid-19 ini, serta memberikan apresiasi terhadap kinerja para dokter dan elemen tenaga kesehatan (nakes) lainnya, serta kinerja pemerintah atas penanganan Covid-19.

Menurut Defy, kabar tingginya angka kesembuhan ini tentu harus ditonjolkan baik oleh media massa maupun juru bicara penanganan Covid-19. Sebab kabar positif seperti ini justru dapat meningkatkan imun dibandingkan dengan kabar negatif seperti tingginya kasus positif dan kematian yang bertebaran di mana-mana.

Dirinya juga mengajak kepada semua pihak untuk saling bergandeng tangan dalam mematuhi apa yang telah menjadi kebijakan pemerintah pusat dan tidak saling menyalahkan. Sebab, di tengah kondisi pandemi seperti sekarang, hal yang dibutuhkan adalah persatuan dan bersama-sama memerangi Covid-19.

Selain itu, dirinya juga mendorong kepada pemerintah untuk dapat mengoptimalkan vaksinasi yang menyasar semua kelompok masyarakat. Bahkan bila memungkinkan dilakukan booster vaksin ke-3 terutama bagi tenaga medis, mengingat virus delta yang sangat ganas dan sudah menyebar.

Defy juga mengaku optimis jika semua pihak saling bergandeng tangan dan memberikan masukan-masukan yang positif kepada pemerintah, serta kedisiplinan yang tinggi maka masyarakat Indonesia akan dapat melalui wabah virus corona ini.

Sementara itu, Ketua PBNU Bidang Dakwah dan Masjid KH Abdul Manan Ghani memberikan dukungan atas diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). PPKM merupakan upaya untuk menekan jumlah kasus Covid-19, sekaligus sebagai upaya pemerintah untuk melakukan perlindungan kepada masyarakat dari bahaya Covid-19.

Ia mengatakan, kebijakan pemimpin terkait langsung dengan kemaslahatan rakyatnya. Sebelumnya, ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menyatakan, NU siap membantu pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

Ia mengatakan, NU memiliki satgas covid-19 dan ikut menyalurkan bantuan sebesar Rp 600 miliar. Kendati dalam penganganan Covid-19 masih banyak kekurangan. Namun, ia mengingatkan bahwa pemerintah memiliki kewajiban dalam memelihara kesehatan masyarakat.

Said juga menegaskan, bagaimanapun ada niat sungguh dari pemerintah untuk segera mengatasi wabah ini. Pada kesempatan berbeda, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif meminta kepada para tokoh masyarakat dan ulama agar dapat memberikan edukasi kepada rakyat terkait dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Samsul menuturkan, pandemi Covid-19 Harus dijadikan sebagai momen introspeksi diri sehingga tidak perlu adanya rasa pesimis terhadap kondisi sekarang. Samsul juga meyakini jika pandemi sudah terlewati, masyarakat akan makmur dan sejahtera. Untuk sementara memang tidak enak, tetapi yakinlah bahwa suatu saat nanti kita akan menikmati hasilnya.

Baik Muhammadiyah dan NU merupakan ormas keagamaan terbesar di Indonesia, pemerintah tentu saja dapat menjadikan kedua ormas tersebut sebagai mitra dalam menangani pandemi covid-19.

) *Penulis adalah warganet tinggal di Batam

Tinggalkan Balasan