Mengapresiasi Upaya Penurunan Kasus Positif di Jawa-Bali Selama PPKM

Oleh : Adhita Wijayanti )*

Penurunan kasus Corona saat PPKM patut diapresiasi karena merupakan hasil kerja keras pemerintah, juga kerja sama yang baik antara aparat, tim satgas Covid, dan masyarakat. Semoga kasus Covid makin menurun sehingga seluruh WNI sehat tanpa dibayang-bayangi ketakutan akan ganasnya Corona.

Tiap orang tentu tidak mau kena Corona, apalagi varian delta begitu ganasnya dan menular lebih cepat dan menusuk lebih kuat. Kita semua berusaha dan berdoa agar tidak tertular, dan menaati program-program pemerintah supaya selamat dari penyakit berbahaya ini. Kedisiplinan memang salah satu kunci agar tidak terinfeksi virus Covid-19.

Salah satu upaya pemerintah untuk menekan kasus Covid adalah dengan PPKM level 4. Program yang dulu bernama PPKM darurat diperpanjang lagi karena jumlah pasien Corona masih fluktuatif. Sehingga amat rawan jika PPKM dihentikan begitu saja, dan masyarakat memahami karena ini adalah usaha untuk menekan angka pasien Covid.

Menurut data Tim Satgas Covid, pernah di pertengahan juli 2021 pasien Corona mencapai 34.000 orang per harinya, lalu turun jadi 30.000 dan di awal agustus jadi ‘hanya’ 22.000. Namun dikatakan belum stabil karena kasus di Jawa menurun sedangkan di luar Jawa malah naik. Sehingga pemerintah ingin agar baik di Jawa maupun luar Jawa sama-sama ada penurunan jumlah pasien Corona.

Oleh karena itu pemerintah berusaha lagi agar menurunkan kasus positif di Jawa dan Bali. Caranya dengan memperpanjang PPKM level 4. Diharapkan dengan pembatasan mobilitas warga sipil, akan menurunkan lagi jumlah pasien Corona. Sehingga bisa mencapai hanya 10.000 pasien per hari, bahkan kurang. Masyarakat juga memuji perpanjangan program ini karena jumlah pasien Corona belum stabil.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Panjaitan memaparkan evaluasi PPKM pada periode pertama. Menurutnya, ada penurunan jumlah pasien Corona tetapi masih ada daerah di Jawa yang berstatus hitam. Sehingga wajar jika PPKM level 4 diperpanjang lagi.

Selain itu, saat PPPKM level 4 mobilitas tak hanya dihalangi oleh penyekatan, tetapi juga persyaratan lain. Di antaranya jika ingin pergi ke luar negeri dan luar kota harus menunjukkan kartu vaksin, juga hasil tes PCR (bukan sekadar tes rapid). Masyarakat juga sadar bahwa ini adalah usaha untuk mengendalikan kasus Corona di Indonesia dan tidak mengeluh, karena biaya tes PCR jauh lebih tinggi daripada rapid test.

Upaya ini wajib kita apresiasi karena bisa mensukseskan program vaksinasi nasional dan mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok. Sehingga diharap jumlah pasien Corona akan jauh berkurang, karena banyak orang yang tubuhnya memiliki imunitas yang bagus untuk melawan virus Covid-19.

Selain itu, kewajiban mengambil tes PCR juga dipuji karena memang hasilnya jauh lebih akurat. Sehingga yang ketahuan positif Corona bisa langsung diungsikan ke tempat isolasi atau RS terdekat. Semakin banyak yang dites maka semakin kita tahu, banyak yang kena Corona atau tidak, sehingga akan makin cepat diobati.

Apresiasi juga diberikan kepada perusahaan Kereta Api negara. Penumpang kereta api juga sangat dibatasi dan anak di bawah 12 tahun dihimbau untuk tidak naik KA dulu. Penyebabnya karena mereka belum divaksin sehingga agak rentan untuk bepergian dengan kendaraan umum. Aturan ini ditegakkan agar tidak ada kluster Corona baru.

Kasus positif di Jawa dan Bali sedang berusaha diturunkan oleh pemerintah, dan hasilnya cukup menggembirakan karena ada kelandaian di kurva pasien Covid. Kita wajib mengapresiasi usaha yang dilakukan oleh pemerintah, mulai dari aturan PPKM level 4 sampai vaksinasi.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan