Indonesia Keluar Dari Resesi

Oleh : Ahmad Pegriyanto )*

Kabar gembira dari sektor ekonomi bahwa pertumbuhan positif mencapai angka 7,07%, Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia telah resmi keluar dari resesi dan arah pemulihan ekonomi nasional sudah pada jalan yang benar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2021 mencapai angka 7,07%. Atas pencapaian tersebut, ekonomi Indonesia yang dalam beberapa kuartal terakhir minus berhasil kembali ke zona positif sehingga keluar dari resesi. BPS menyatakan bila dibandingkan secara kuartalan maupun tahunan, pertumbuhan yang terjadi pada kuartal II ini lebih tinggi dari kuartal I 2021 yang minus 0,74 persen dan kuartal II 2020 yang minus 5,32 persen.

Sementara secara akumulatif, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 3,1 persen pada semester I 2021 dari semester 2020. Pertumbuhan ekonomi tumbuh 3,31 persen secara q-to-q dan 7,07% secara y-o-y, hal tersebut diungkapkan oleh kepala BPS Margo Yuwono saat pengumuman data ekonomi Indonesia Kuartal 2021 secara virtual.

Ia menambahkan berdasarkan nominal, Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp 2.772,8 triliun pada kuartal II 2021. Sementara angka dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 4.175,8 triliun pada periode yang sama. Margo menjelaskan realisasi pertumbuhan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekspor yang meningkat sebesar 10,36 persen dari kuartal 2021 dan tumbuh 55,89 persen dari kuartal II 2020. Peningkatan ekspor terjadi karena pulihnya perdagangan global dan meningkatnya permintaan dari sejumlah negara mitra dagang.

Selain itu juga didukung oleh peningkatan impor yang mengonfirmasi pertumbuhan industri di dalam negeri, di mana impor naik 50,12% dari kuartal II 2020 dan meningkat 9,88 persen dari kuartal I 2021.

Dari dalam negeri, Margo mengatakan pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh meningkatnya mobilitas masyarakat di kuartal II 2021. Hal tersebut tercermin dari peningkatan mobilitas masyarakat ke tempat berbelanja hingga ke luar kota yang terpantau melalui perjalanan dengan menggunakan berbagai moda transportasi. Misalnya, untuk penerbangan domestik untuk April, Mei, Juni 2021 ini lebih baik dari April, Mei, Juni 2020.

Lebih lanjut, peningkatan mobilitas turun mengerek tingkat konsumsi masyarakat dan investasi. Salah satunya tercermin dari penjualan sepeda motor yang naik 10,65% pada kuartal II dari kuartal I 2021 dan 268,64 persen dari kuartal I 2021. Selain itu juga tercermin dari peningkatan PPh 21 sebesar 5 persen dan PPN barang mewah sebesar 8 persen.

Sementara itu jika dibandingkan dengan sejumlah negara mitra dagang, realisasi pertumbuhan berada di bawah Singapura 14,3 persen, Uni Eropa 13,2 persen, Amerika Serikat 12,2 persen, China 7,9 persen dan Hong Kong 7,5 persen. Namun, lebih tinggi dari Vietnam 6,6 persen dan Korea Selatan 5,9 persen.

Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan indeks PMI global yang naik dari 54,8 persen menjadi 56,6 persen pada Juni 2021. Selain itu juga didukung oleh kenaikan harga komoditas dunia, seperti gandumg, minyak kelapa sawit, kedelai, timah, alumunium dan tembaga.

Kendati demikian, realisasi pertumbuhan ini sesuai dengan target Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencapai 7 persen. Begitu juga dengan harapan Menteri Keuangan Sri Mulyani berkisar 7 persen sampai 7,5 persen.

Pada tahun lalu Indonesia sempat masuk ke dalam jurang resesi akibat ekonomi yang terkontraksi selama dua kuartal berturut-turut. Walaupun sudah tumbuh positif dan keluar dari zona resesi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan Indonesia masih harus tetap waspada. Hal ini karena Covid-19 varian delta masih menyerang sejumlah sektor yang daya tahannya kurang akibat Covid-19.

Pada kuartal III saat ini dengan adanya varian delta di mana kasus meningkat, pertumbuhannya tentu saja bergangunt seberapa cepat kasus varian delta bisa ditekan. Saat ini meski bisa ditekan. Saat ini meski dari sisi Bed Occupancy (BOR) sudah mulai turu tetapi kasus aktif masih fluktuatif.

Ryan Kiryanto selaku Ekonom menungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi ini terjadi pada semua lapangan usaha. Paling signifikan terjadi di sektor transportasi dan pergudangan 25,1% dan penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 21,58%.

Pencapaian ini tentu saja menjadi prestasi yang membanggakan, apalagi status pandemi telah membuat sebagian orang kehilangan pekerjaannya, sehingga status resesi resmi tidak melekat lagi.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Tinggalkan Balasan