Teror KST Papua Tergolong Kejahatan HAM

Pada hari jumat (6/8/2021) lalu, tiga pucuk senjata api dan bahan peledak berhasil diamankan oleh aparat keamanan di lokasi Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua, yaitu di kampung Sasawa Distrik Yapen Barat Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Jumat.
Polres Kepulauan Yapen menyebutkan, KST Wilayah II Saireri di bawah pimpinan Fernando Worabai teridentifikasi memiliki 15 pucuk senjata api, satu di antaranya merupakan organik milik TNI Polri.

Menyikpai hal tersebut, Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Ferdyan Indra Fahmi, mengungkapkan KST di bawah pimpinan Fernando Worabai merupakan kelompok baru. dengan jumlah kekuatan sampai dengan 30 orang

“Mereka ini kelompok baru, dengan jumlah kekuatan sampai dengan 30 orang,” ujar Ferdyan Indra Fahmi.
Ditempat terpisah, peneliti Lembaga Masyarakat Peduli Perbatasan Indonesia (MPPI), Muhammad Irandito, mengatakan bahwa aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris (KST) Papua telah memakan banyak korban jiwa. KST telah melanggar hak asasi manusia dan telah menimbulkan ketakutan.

Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa aksi teror KST Papua yang kejam dan brutal tersebut telah tergolong sebagai kejahatan HAM. KST telah meresahkan masyarakat serta menghambat pembangunan dan kemajuan Papua. KST selama ini melakukan aksi teror ke masyarakat dengan membunuh warga Papua secara kejam dan membakar fasilitas umum, sehingga KST pantas ditindak tegas dan ditumpas habis karena aksinya melanggar HAM, mengganggu ketertiban dan keamanan, serta menghambat pembangunan dan kemajuan di Papua.

“Aksi teror KST Papua yang kejam dan brutal tersebut telah tergolong sebagai kejahatan HAM. KST telah meresahkan masyarakat serta menghambat pembangunan dan kemajuan Papua”, ujar Muhammad Irandito.

Tinggalkan Balasan