Kondisi UMKM Mulai Membaik di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Pemerintah terus memperbaiki ekosistem Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar dapat terus bertahan di masa pandemi Covid-19. Keberlangsungan UMKM diharapkan dapat terus berkontribusi bagi perekonomian nasional sekaligus menyerap tenaga kerja produktif.

Pandemi Covid-19 membuat kita harus beradaptasi dengan situasi yang tidak bisa dikatakan baik, karena hadirnya virus kecil membuat perubahan besar dalam kehidupan. Terutama di sektor ekonomi, karena ada hantaman karena apsar global juga sedang lesu. Baik pedagang kelas kakap maupun kelas teri hampir megap-megap karena harus beradaptasi dengan kondisi yang kurang stabil.

UMKM adalah pihak yang sempat terpukul di awal pandemi Covid-19 karena daya beli masyarakat turun drastis. Mereka berupaya keras untuk tetap survive, dengan merambah pasar online, menyediakan layanan antar, dan memberi service terbaik. Sehingga pelanggan lama akan tetap setia dan belanja dengan jumlah yang cukup.

Namun kini UMKM mulai bangkit dan tetap bertahan, mereka tidak menyerah karena memutuskan untuk tutup adalah tindakan konyol. Menteri UMKM Teten Masduki menyatakan bahwa ada perbaikan di sektor UMKM pada kuartal kedua tahun 2021. Progress positif ini dicapai berkat kebijakan-kebijakan pemerintah saat pandemi.

Memang pemerintah sangat concern kepada pengusaha UMKM karena merekalah yang menjadi tulang punggung perdagangan di Indonesia, dan 90% bisnis di negeri ini adalah yang memiliki skala kecil dan menengah. Sehingga wajar jika pemerintah memprioritaskan para pedagang. Ini bukanlah sebuah pilih kasih, tetapi langkah jitu untuk menyelamatkan kondisi finansial negara.

Pemerintah memberi BLT khusus untuk pengusaha UMKM senilai 2,4 juta rupiah pada awal pandemi dan 1,2 juta rupiah pada tahun 2021. BLT diberikan sebagai stimulus agar pebisnis kecil dan menengah tidak gulung tikar. Jika kondisi ini terjadi maka akan berbahaya, karena negara yang perekonomiannya kuat adalah yang memiliki banyak entrepreneur. Sedangkan faktanya, di Indonesia baru ada 2% WNI yang jadi pengusaha, dan idealnya minimal 5%.

Dengan BLT tersebut maka pengusaha UMKM bisa menggunakannya untuk modal tambahan, sehingga mereka bisa kulakan dan membuka tokonya kembali. Presiden Jokowi juga berpesan agar menggunakan uang itu untuk bisnis, bukan untuk sesuatu yang konsumtif. Uang itu waji digunakan sebagai modal sehingga bisa diputar dan menghasilkan keuntungan yang berlipat ganda.

Selain BLT, pemerintah juga membuat aturan baru berupa kerjasama UMKM dengan berbagai Dinas. Sehingga jika ada pengadaan di Dinas tersebut, UMKM yang akan diprioritaskan. Mereka akan otomatis mendapatkan klien baru dan pesanan dari Dinas lumayan nominalnya, sehingga keuntungannya juga mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Pemerintah juga membantu melalui Dinas Koperasi dan UMKM dan Dinas Ketenagakerjaan, dengan memberikan seminar serta pelatihan. Sehingga para pengusaha kecil dan menengah mendapatkan keterampilan baru untuk menambah penghasilan. Jika bisnis A sepi maka mereka bisa banting setir ke bisnis B.

Pihak dinas juga membantu masalah pemasaran dengan mengajarkan teknik digital marketing, sehingga UMKM tidak akan gagap teknologi, tetapi mahir mengoperasikan internet dan memasarkan berbagai produknya di sana. Dengan merambah media sosial dan situs, maka mereka bisa mendapatkan calon pembeli potensial. Tak hanya dari Indonesia tetapi juga dari seluruh dunia.

Pengusaha UMKM terus berusaha agar tetap survive di tengah pandemi dan mereka tidak mau menyerah begitu saja, karena berbisnis adalah satu-satunya mata pencaharian. Pemerintah membantu pengusaha kecil dan menengah agar tidak jatuh bangkrut dengan berbagai program. Mereka bisa bertahan dan melanjutkan bisnisnya, serta mengalami kenaikan keuntungan di masa pandemi Covid-19.

)* Penulis adalah warganet tinggal Depok

Tinggalkan Balasan