Oleh : Ade Istianah )*

Vaksinasi dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di berbagai wilayah menjadi senjata ampuh untuk menurunkan kasus Covid-19 yang terjadi belakangan ini. Masyarakat pun diminta untuk tidak kendur dalam menerapkan Prokes dan senantiasa mengikuti berbagai kebijakan Pemerintah dalam memutus rantai penularan virus Corona.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan vaksinasi adalah 2 hal yang saat ini menjadi instrumen pemerintah dalam menanggulangi pandemi covid-19. Pada periode 11-16 Agustus, jumlah kumulatif penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 152.917 kasus. Kemudian pada periode 17-22 Agustus, jumlah kasus peositif covid-19 turun menjadi 107.718 kasus.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengungkapkan bahwa implementasi PPKM efektif untuk mengendalikan Covid-19 di Ibu Kota.Dengan kapasitan rumah sakit yang semakin turun, Anies mengharapkan semakin banyak pasien yang sembuh dan semakin sedikit yang harus masuk RS. Dengan begitu beban di fasilitas kesehatan akan terus berkurang.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk menurunkan level PPKM du sejumlah daerah mulai pada tanggal 24 hingga 30 Agustus 2021. Keputusan tersebut diambil pemerintah dengan sejumlah pertimbangan, terutama indikator-indikator penanganan Covid-19 yang mulai membaik. Jokowi juga mengungkapkan, saat ini kasus terkonfirmasi positif telah mengalami penurunan sebesar 78% jika dibandingkan dengan titik puncak kasus pada tanggal 15 Juli lalu.

Perpanjangan kebijakan PPKM ini tentu saja bukan tanpa alasan, kebijakan tersebut diambil bertujuan untuk mengendalikan laju penyebaran Covid-19. Mengingat, kondisi geografis di luar Jawa-Bali yang murni kepulauan dan berwilayah luas. Perpanjangan PPKM di luar jawa-Bali tidak lepas dari peningkatan aktif covid-19, tingkat kematian, jumlah testing dan populasi penduduk.

Dalam keterangan resminya, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menuturkan, keputusan berlanjutnya PPKM ini berdasarkan evaluasi hasil penerapan PPKM sebelumnya, serta situasi di lapangan. Presiden juga menyerukan respons cepat terhadap lonjakan kasus covid-19 di luar Jawa-Bali, yang menuntut kewaspadaan.

Johnny menyebutkan kontribusi kasus aktif Covid-19 di luar Jawa-Bali sekitar 46.5% dari total kasus aktif nasional. Sementara itu, wilayah Jawa-Bali berkontribuso 53,5% dari total kasus aktif. Terdapat 45 kabupaten/kota di 18 provinsi dengan risiko tertinggi covid-19 yang menerapkan PPKM level 4. Kemudian, PPKM level 3 berlaku di 302 Kabupaten/kota dan PPKM level 2 berlaku di 39 Kabupaten/kota.

Johny mengatakan, pemerintah terus berupaya mengendalikan pandemi di Indonesia. Penanganan wilayah luar Jawa-Bali tentu memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar. Mengingat, keluasan wilayah dan kelengkapan infrastruktur yang berbeda dengan Jawa-Bali.

Perlu kita ketahui juga bahwa vaksinasi juga menjadi kegiatan yang dapat mengurangi gejala berat. Evaluasi efektifitas vaksin Covid-19 yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI, membuktikan bahwa vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi Covid-19, serta mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan. Studi tersebut dilakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di Jakarta, meliputi perawat, dokter, bidan , teknisi dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.

Kabar baiknya untuk para Ibu Hamil, di mana Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menuturkan bahwa vaksinasi Covid-19 untuk Ibu Hamil sudah bisa dilaksanakan per tanggal 2 Agustus 2021.
Perlu diketahui bahwa Ibu Hamil telah menjadi salah satu kelompok yang sangat berisiko apabila terpapar Covid-19. Dalam beberapa waktu terakhir, dilaporkan sejumlah ibu hamil yang terkonfirmasi positif Covid-19 mengalami gejala berat bahkan meninggal dunia.
Untuk melindungi ibu hamil dan bayinya dari infeksi Covid-19, Kementerian Kesehatan memastikan akan segera memberikan vaksin Covid-19 kepada Ibu Hamil
Dalam surat edaran yang disampaikan Kemenkes tersebut tertulis, bahwa vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil ini diambil setelah melihat kasus Covid-19 terhadap ibu hamil meningkat di kota besar dalam keadaan berat (serve case), khususnya ibu hamil dengan kondisi tertentu.

Upaya pemberian vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil juga telah direkomendasikan oleh Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI). Bagi ibu hamil ini menggunakan tiga jenis vaksin, yaitu vaksin Covid-19 platform Mrna Pfizer dan Moderna, serta vaksin platform inactive virus Sinovac, sesuai ketersediaan.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kemenkes Nomor HK.02.01/I/2007/2021 tentang Vaksinasi Covid-19 bagi ibu Hamil dan Penyesuaian Skrining dalam Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19.

Saat ini telah banyak instansi yang menggelar vaksin massal, sehingga mempermudah masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi, setelah selesai vaksinasi tentu kita herharap agar Indonesia dapat kembali normal.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Deka Prawira )*

Kelompok teroris makin lihai dalam menyusup ke tengah masyarakat, bahkan mereka berani menceburkan diri dalam kancah politik. Masyarakat diminta untuk mewaspadai provokasi kelompok radikal tersebut dengan cerdas dalam memilih wakil rakyat.

Radikalisme dan terorisme adalah paham yang baru masuk ke Indonesia setelah tahun 1998, karena sebelum itu mereka tidak berkutik pada pemerintah orde baru. Masa reformasi dimanfaatkan oleh mereka untuk masuk dan sayangnya euforia berpendapat dan berpolitik di Indonesia membuat teroris bisa menyalahgunakannya. Kita bagaikan kecolongan karena mereka lihai dalam membuat tipu muslihat.

Ketika kelompok teroris masih bercokol di Indonesia maka kita wajib untuk mewaspadainya. Pasalnya, mereka masih beroperasi secara diam-diam, walau sudah dilarang oleh Undang-Undang. Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Aswin Siregar menyatakan bahwa kelompok teroris sangat lihai dalam menyesuaikan dengan kondisi keadaan yang ada. Mungkin mereka ikut berpolitik juga, menyusup ke dalam masyarakat.

Kombes Aswin melanjutkan, kelompok teroris menggunakan cara-cara yang terlihat damai di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kedok sehingga tidak terlihat sebagai teroris. Juga menyalahgunakan acara dan penghimpunan dana lalu ternyata uang tersebut untuk disalurkan kepada para anggota teroris.

Kita patut makin waspada akan provokasi teroris, terutama dalam bidang politik. Mereka bisa saja mempergunakan topeng seperti yang telah dilakukan selama ini, sehingga menarik banyak simpati masyarakat. Padahal dalam organisasinya berujung pada perekrutan, brain wash, dan pengkaderan, sehingga makin banyak yang terseret dalam arus terorisme yang mengerikan.

Jika para teroris memanfaatkan simpati masyarakat maka akibatnya akan sangat fatal. Mereka bisa playing victim dan bersikap seolah-olah dizalimi lalu mempengaruhi masyarakat sipi, padahal memang kelompok teroris dilarang keras beredar di Indonesia, dan ini bukanlah pencederaan demokrasi. Masyarakat perlu mempelajari sejarah terorisme dan jangan sampai terkena bujuk rayu mereka.

Semua langkah dilakukan oleh mereka demi bisa merebut singgasana politik dan mengubah ideologi Indonesia menjadi khilafiyah, jadi kita harus meningkatkan rasa waspada. Jangan sampai keadaan di Indonesia jadi hancur-lebur seperti di Suriah atau Afghanistan, gara-gara kelompok teroris. Kita ingin Indonesia damai dan tetap berideologi pancasila, bukan? Oleh karena itu kelompok teroris memang harus diberantas sampai ke akarnya.

Apalagi tahun 2024 makin dekat dan saat itu pemilihan presiden, dan sangat krusial karena kita belum tahu siapa saja calonnya. Jangan sampai capres, cawapres, atau menteri-menterinya memiliki hubungan dekat dengan kelompok teroris. Jadi wajib untuk menyelidiki latar belakang para pejabat sebelum dipilih oleh masyarakat. Lebih baik survey dari awal daripada menyesal belakangan.

Selain itu, jangan mudah terprovokasi dan percaya jika ada yang berkata ia dilarang untuk berpendapat, padahal penyebabnya karena terbukti berafiliasi dengan kelompok teroris. Lakukan cek dan ricek sebelum mempercayai suatu statement. Ingatlah bahwa politik bagaikan permainan untuk adu strategi dan jangan sampai kita dikalahkan oleh kelompok teroris.

Kelompok teroris memang sengaja menebar berbagai provokasi dan sering menjelek-jelekkan pemerintah, dengan tujuan agar menarik simpati masyarakat. Jangan mudah percaya akan omongan mereka, apalagi jika hanya berdasarkan situs abal-abal atau hasil copas dari grup WA. Jika sudah terprovokasi maka akan kacau karena banyak yang kehilangan rasa nasionalisme.

Provokasi dari kelompok teroris wajib kita waspadai karena jangan sampai mereka melakukan hal yang sama seperti di Afghanistan. Teroris saat ini makin lihai menyamar dan bahkan masuk ke dalam gelanggang politik. Waspadalah akan keberadaan mereka dan harus meneliti tiap calon pejabat, agar tidak memilih simpatisan atau anggota kelompok teroris.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Dalam satu bulan terakhir, aksi teror KST Papua meningkat di sejumlah wilayah di Papua.

Polri pun melakukan penebalan pasukan untuk mengatasi aksi teror tersebut.

Di tengah meningkatnya aksi teror KST Papua, Polri mengirim 203 personel Satuan Brimob.

Teror terbaru yang dilakukan KST Papua adalah pembantaian dua pekerja PT Indo Papua pada Minggu (22/8/2021) di Yahukimo.

Sebelumnya, KST Papua juga menembaki aparat TNI-Polri pada Sabtu (10/7/2021) malam.

Di tengah aksi teror KST Papua yang meningkat, ratusan personel Satuan Brimob Polda Aceh dikirim ke Papua.

Para personel Brimob itu ditugaskan ke Polda Papua untuk pengamanan dalam rangka Operasi Amole 2021.

“Sebanyak 203 personel Satuan Brimob Polda Aceh itu akan ditugaskan bawah kendali operasi atau BKO di Polda Papua selama beberapa bulan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Winardy.

Sementara itu, Personel TNI-Polri dari Satuan Tugas Pinang Sirih kini menguasai markas KST jaringan Goliat Tabuni di wilayah Kabupaten Puncak, Papua. Penyerbuan ke markas itu dilakukan pada Senin (16/8/2021) sore, dipimpin Kasi Intel Operasi Satgas Pinang Sirih Mayor Inf Sudarmin.

“Diawali dengan patroli drone di Kampung Welenggaru, Distrik Gome Utara, Kabupaten Puncak, didapati tiga orang yang diduga KST Ketiganya melakukan tembakan ke Tim Cakra dan saat dipantau melalui drone, ketiga orang tersebut kabur menuju honai,” kata Sudarmin

JURU Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengemukakan stok vaksin yang tersedia saat ini di fasilitas pemerintah pusat mencukupi untuk memenuhi permintaan daerah. “Kita punya stok cukup vaksin. Tapi harus dipahami bahwa vaksin itu tidak bisa sekaligus vaksinasi semua sasarannya, karena dosis vaksin juga datang bertahap,” kata Siti Nadia Tarmizi

Berdasarkan laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), total kedatangan vaksin di Indonesia hingga Selasa (3/8) berjumlah 179,4 juta dosis vaksin terdiri atas 144,7 juta dosis berbentuk bahan baku dan 34,7 juta dosis dalam bentuk vaksin jadi. Sedangkan total vaksin jadi produksi PT Bio Farma berjumlah 152 juta dosis vaksin.

Sebanyak 117,3 juta berupa bahan baku dan 34,7 juta berupa vaksin jadi. Bahan baku vaksin tersebut berjenis Sinovac, AstraZeneca, Sinopharm dan Moderna. Direktorat Jenderal (Ditjen) Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes melaporkan hingga Senin (2/8), vaksin yang telah didistribusikan menuju 34 provinsi berjumlah 90.988.817 dosis. Sebanyak 68.641.750 dosis di antaranya telah digunakan.

Kekosongan vaksin di beberapa daerah, kata Nadia, penyebabnya karena data stok vaksin tidak diperbarui, sehingga Kemenkes melihat stok vaksin di daerah masih aman. Menurut Nadia, masalah ini sudah diperbaiki. Jutaan dosis vaksin sudah dan akan didistribusikan ke daerah. “Kami sudah mendistribusikan pada pekan ketiga itu 3 juta untuk vaksin dosis kedua dan yang pekan keempat ini ada sekitar 6 juta. Nanti kami akan kirim lagi sekitar 6 juta,” katanya.

Antusiasme masyarakat yang tinggi untuk mengikuti vaksinasi juga mempengaruhi persediaan vaksin di Tanah Air. Apalagi, sekarang usia sasaran vaksinasi semakin luas. “Sekarang ini vaksinasi tidak ada batasan khusus, artinya siapapun, usia di atas 12 tahun bisa divaksin. Jadi tentu harus cermat mengatur kuota vaksinnya,” ujarnya.

Nadia meminta masyarakat tidak perlu khawatir jika tidak menerima vaksin dosis kedua tepat pada tanggal yang sudah ditetapkan vaksinator. Masih ada waktu sampai 28 hari setelah dosis pertama disuntikkan. Pemerintah juga memperluas kerja sama dengan swasta untuk menjangkau lebih banyak masyarakat yang divaksin. “Potensi swasta ini kan akan sangat banyak, bagaimana semakin banyak sentra-sentra vaksinasi yang kita buka,” ujarnya.

Kemenkes juga berupaya menambah tenaga vaksinator mengingat Indonesia akan menerima sangat banyak dosis vaksin pada Oktober 2021. “Oktober itu kemungkinan dua kali lipat dari yang saat ini kita terima jumlah vaksinnya. Tentunya kita harus segera menyuntikkan kepada masyarakat. Jadi memang harus segera diperluas (akses vaksin),” pungkasnya. (*)

Pemerintah kembali memperpanjang penerapan PPKM hingga 23 Agustus 2021. Sebenarnya efektifkah PPKM menekan laju Covid-19? Pertanyaan itu sering muncul di kalangan masyarakat. Pemerintah membagi penerapan PPKM dalam beberapa level tergantung sebaran dan lonjakan Covid-19.

Khusus untuk Provinsi Kepulauan Riau, Kota Batam dan Tanjungpinang yang semula berada di PPKM level 4 turun menjadi level 3. Penurunkan level PPKM disebabkan oleh menurunnya angka Covid-19. Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Harmadi menegaskan bahwa PPKM sangat efektif dalam menekan penularan Covid-19.

Sonny menjelaskan, penurunan kasus aktif Covid-19 yang terjadi saat ini adalah hasil penerapan PPKM. Bahkan, berkat penerapan PPKM pula terjadi peningkatan disiplin protokol kesehatan di masyarakat. “(PPKM,red) sangat efektif, jelas. Karena terbukti bahwa kasus aktif kita turun. Terus kemudian, positif rate juga mulai turun. Kemudian, melihat bahwa terjadi peningkatan kepatuhan protokol kesehatan masyarakat,” kata Sonny.

Sonny menjelaskan, Satgas Penanganan Covid-19 mengamati secara realtime dari waktu ke waktu sejak PPKM diberlakukan tanggal 3 Juli 2021 hingga data kemarin, kepatuhan protokol kesehatan meningkat signifikan. Terutama dalam 2-3 minggu terakhir.

“Dan harapannya memang setelah 2-3 minggu terjadi kenaikan kepatuhan masyarakat untuk menjalankan prokes akan berdampak pada penurunan. Jadi harapan kita minggu-minggu depan ini bisa terus turun kasusnya,” ucap Sonny.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi menyebut terjadi penurunan kasus aktif Covid-19. Tentunya, hal tersebut menunjukan perbaikan dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Terlebih, penerapan PPKM Level 4 juga diberlakukan di wilayah dengan kasus penyebaran tinggi. “Memang terjadi penurunan dan salah satu yg menggembirakan kasus aktif turun 25.725 kasus kemarin, jadi terjadi penurunan yang sangat signifikan untuk kasus aktif,” kata Sonny. Menurut Sonny, penurunan kasus aktif Covid-19 tentu berdampak bagi pelayanan kesehatan. Meski masih dalam kategori berat, namun sedikit meringankan beban tenaga kesehatan. (*)

Oleh : Savira Ayu )*

Kasus Covid-19 kini mulai melandai seiring efektifnya berbagai program Pemerintah. Namun demikian, masyarakat diminta untuk waspada dengan selalu taat Prokes guna mencegah berulangnya ledakan Covid-19.

Saat pandemi banyak orang jadi makin teliti dalam menyimak berita tentang Corona, mulai dari wilayah mana yang terkena PPKM level 4, zona merah, sampai angka pasien Covid. Mereka ingin tahu apakah keadaan di Indonesia sudah aman atau justru makin mengkhawatirkan. Selain itu, mereka juga makin ketat dalam menerapkan protokol kesehatan karena tidak ingin tertular Corona.

Ada berita baik di tengah kelagauan masyarakat. Menurut data tim satgas Covid, jumlah pasien Corona di Indonesia tanggal 23 agustus 2021 turun jadi hanya 9.604 kasus. Angka ini sangat menggembirakan karena jika dibandingkan dengan bulan lalu, jumlah pasien turun drastis. Tanggal 23 juli 2021 pasien Covid mencapai lebih dari 49.000 orang.

Penurunan jumlah pasien Covid menjadi hanya sekitar seperlimanya patut disyukuri karena memperlihatkan keampuhan PPKM selama 2 bulan ini. Namun kita tidak boleh terlena, tetapi harus makin waspada. Penyebabnya karena melandainya angka pasien Covid harus dipertahankan dan kalau bisa diturunkan lagi, serta jangan sampai malah naik drastis dan terjadi kematian massal seperti yang terjadi di India.

Yuhronur Efendi, Bupati Lamongan, menyatakan bahwa meski kasus penularan Corona cenderung menurun, tetapi masih harus menerapkan protokol kesehatan. Sesuai dengan anjuran Presiden Jokowi, kita semua harus tetap hati-hati dan waspada. Dalam artian, jika semua orang tetap disiplin dan tidak lengah maka bisa jadi minggu depan angka pasien Covid turun lagi.

Yuhronur melanjutkan, di Lamongan, angka penularan virus Covid-19 memasuki transmisi sedang. Ia juga berharap seiring dengan tren positif ini juga diikuti dengan pertumbuhan ekonomi. Dalam artian, memang yang perlu dibenahi adalah sektor kesehatan dulu baru ekonomi, karena jika semua orang sehat maka bisa bekerja dengan rajin seperti biasa dan menggerakkan roda finansial negara.

Melandainya kasus Covid di Indonesia tidak boleh membuat kita jumawa, tetapi harus makin disiplin dan waspada. Protokol kesehatan harus benar-benar dijaga, tidak hanya 3M atau 5M tetapi sampai 10M.

Poin paling penting adalah memakai masker dan untuk menghalau virus Covid-19 varian delta, harus mengenakan masker ganda, yakni yang terbuat dari kain di bagian dalam dan masker disposable di luar. Penyebabnya karena double masker meningkatkan filtrasi terhadap droplet sampai lebih dari 90%. Sehingga akan aman dari penularan, karena Corona varian delta bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG.

Selain itu, wajib juga untuk menghindari kerumunan dan tidak dengan sengaja membuat keramaian. Misalnya untuk acara pernikahan, tidak boleh ada resepsi besar-besaran seperti 2 tahun lalu, tetapi cukup akad nikah yang mengundang maksimal 30 orang (termasuk keluarga inti), dan harus memakai masker serta mematuhi protokol kesehatan lainnya.

Jaga pula kesehatan diri dengan rutin berolahraga walau di rumah saja, misalnya dengan latihan yoga, lari-lari kecil, atau peregangan badan. Makan lebih banyak sayur dan buah segar serta asup air putih setidaknya 2 liter per hari. Menjaga kesehatan cukup mudah, bukan?

Kita masih harus terus waspada dan menjaga protokol kesehatan walau terjadi penurunan tren kasus Covid di Indonesia. Jangan sampai lengah sedikitpun karena virus bisa saja mengintai ketika kita lalai dan melepaskan masker di tengah keramaian. Jagalah kesehatan masing-masing agar tidak terkena Corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Masyarakat belakangan ramai membahas terkain pelaksanaan vaksin mandiri. Sejumlah pihak khawatir bahwa pelaksanaan vaksin mandiri ini akan menyerobot jatah bagi kelompok rentan yang mestinya menjadi prioritas. Menanggapi hal itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa tujuan utama program vaksin COVID-19 secara mandiri atau gotong royong adalah untuk mempercepat program vaksinasi COVID-19.

Dengan demikian, kekebalan kelompok bisa tercapai lebih cepat. “Bahwa vaksin itu diberikan gratis ke seluruh masyarakat Indonesia oleh pemerintah. Merupakan hak mereka. Jadi walaupun ada program vaksin gotong royong (vaksin mandiri), ini tidak menghilangkan hak mereka untuk mendapat vaksin gratis,” kata Menkes Budi.

Hal yang sama juga diungkapan, dr. Ede Surya Darmawan, SKM,MDM., Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI),mengungkapkan bahwasanya dengan skema yang ada saat ini dinilai kurang cepat untuk bisa mencapai target herd immunity dengan cakupan vaksinasi 181,5 juta penduduk. “Keinginan masyarakat untuk divaksin COVID-19 dan segera lepas dari pandemi ini sangat tinggi. Dengan adanya vaksin gotong royong ini maka bisa mempercepat proses pencapaian cakupan vaksinasi 181,5 juta penduduk,” jelasnya.

Dalam salah satu rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi terkait vaksin gotong royong, disebutkan bahwa penyuntikan vaksin gotong royong tidak dilakukan di fasilitas kesehatan milik pemerintah, termasuk vaksinatornya. “Saat ini, fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah jumlahnya ada di kisaran12-13 ribu termasuk Puskesmas dan rumah sakit,” tuturnya. Secara perhitungan matematika sederhana, jika jumlah fasilitas yang bisa memproses vaksinasi COVID-19 lebih banyak maka proses vaksinasi akan lebih cepat dan luas cakupannya.

“Sementara itu, penyedia layanan kesehatan swasta ada sekitar 10 ribu. Yang swasta ini bisa dipakai untuk vaksin gotong royong membantu mempercepat proses vaksinasi COVID-19. Bukan untuk komersial tapi memberikan pertolongan kepada bangsa yang sekarang terkena dampak pandemi,” ujarnya.

Dalam hal ini, lanjutnya, pemerintah harus tetap berperan menyediakan vaksin COVID-19. “Bukan untuk kemudian diperjualbelikan atau komersialisasi karena menurut saya vaksin harusnya tetap gratis karena ini merupakan barang publik untuk mengatasi pandemi. Jika nanti menggunakan vaksin yang di luar merek yang dipakai pemerintah harus tetap sesuai dengan standar keamanan, efikasi, ijin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) dari BPOM dan halal,” paparnya.

Pada pelaksanaannya, tambahnya, kalau nantinya ada biaya yang timbul terkait layanan dalam vaksinasi gotong royong saya rasa itu wajar. “Karena ada biaya beli peralatan dan sumber daya manusia di sana. Hal ini juga perlu untuk diatur oleh pemerintah. Pengawasan jelas harus lebih kuat.” kata Dr. Ede.

Hal ini selaras dengan rekomendasi KPK. Dimana Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan bertindak sebagai regulator, baik dalam hal pengadaan, distribusi, dan pelaksanaannya. Kendali data tetap ada di Kemenkes.

Dalam menghadapi pandemi penyakit menular prinsipnya harus sampai tuntas. “Secara global harus tuntas karena jika satu negara bermasalah maka dampaknya akan kemana-mana. Ujungnya adalah bisa mencapai herd immunity. Semua bisa aman dan seluruh aktivitas akan membaik dengan tetap menjaga kebersihan dan kesehatan karena itu adalah prinsip dasar baik ketika ada pandemi ataupun tidak,” tegasnya. (*)

Oleh : Savira Ayu )*

Kasus Covid-19 kini mulai melandai seiring efektifnya berbagai program Pemerintah. Namun demikian, masyarakat diminta untuk waspada dengan selalu taat Prokes guna mencegah berulangnya ledakan Covid-19.

Saat pandemi banyak orang jadi makin teliti dalam menyimak berita tentang Corona, mulai dari wilayah mana yang terkena PPKM level 4, zona merah, sampai angka pasien Covid. Mereka ingin tahu apakah keadaan di Indonesia sudah aman atau justru makin mengkhawatirkan. Selain itu, mereka juga makin ketat dalam menerapkan protokol kesehatan karena tidak ingin tertular Corona.
Ada berita baik di tengah kelagauan masyarakat. Menurut data tim satgas Covid, jumlah pasien Corona di Indonesia tanggal 23 agustus 2021 turun jadi hanya 9.604 kasus. Angka ini sangat menggembirakan karena jika dibandingkan dengan bulan lalu, jumlah pasien turun drastis. Tanggal 23 juli 2021 pasien Covid mencapai lebih dari 49.000 orang.

Penurunan jumlah pasien Covid menjadi hanya sekitar seperlimanya patut disyukuri karena memperlihatkan keampuhan PPKM selama 2 bulan ini. Namun kita tidak boleh terlena, tetapi harus makin waspada. Penyebabnya karena melandainya angka pasien Covid harus dipertahankan dan kalau bisa diturunkan lagi, serta jangan sampai malah naik drastis dan terjadi kematian massal seperti yang terjadi di India.

Yuhronur Efendi, Bupati Lamongan, menyatakan bahwa meski kasus penularan Corona cenderung menurun, tetapi masih harus menerapkan protokol kesehatan. Sesuai dengan anjuran Presiden Jokowi, kita semua harus tetap hati-hati dan waspada. Dalam artian, jika semua orang tetap disiplin dan tidak lengah maka bisa jadi minggu depan angka pasien Covid turun lagi.

Yuhronur melanjutkan, di Lamongan, angka penularan virus Covid-19 memasuki transmisi sedang. Ia juga berharap seiring dengan tren positif ini juga diikuti dengan pertumbuhan ekonomi. Dalam artian, memang yang perlu dibenahi adalah sektor kesehatan dulu baru ekonomi, karena jika semua orang sehat maka bisa bekerja dengan rajin seperti biasa dan menggerakkan roda finansial negara.

Melandainya kasus Covid di Indonesia tidak boleh membuat kita jumawa, tetapi harus makin disiplin dan waspada. Protokol kesehatan harus benar-benar dijaga, tidak hanya 3M atau 5M tetapi sampai 10M.

Poin paling penting adalah memakai masker dan untuk menghalau virus Covid-19 varian delta, harus mengenakan masker ganda, yakni yang terbuat dari kain di bagian dalam dan masker disposable di luar. Penyebabnya karena double masker meningkatkan filtrasi terhadap droplet sampai lebih dari 90%. Sehingga akan aman dari penularan, karena Corona varian delta bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG.

Selain itu, wajib juga untuk menghindari kerumunan dan tidak dengan sengaja membuat keramaian. Misalnya untuk acara pernikahan, tidak boleh ada resepsi besar-besaran seperti 2 tahun lalu, tetapi cukup akad nikah yang mengundang maksimal 30 orang (termasuk keluarga inti), dan harus memakai masker serta mematuhi protokol kesehatan lainnya.

Jaga pula kesehatan diri dengan rutin berolahraga walau di rumah saja, misalnya dengan latihan yoga, lari-lari kecil, atau peregangan badan. Makan lebih banyak sayur dan buah segar serta asup air putih setidaknya 2 liter per hari. Menjaga kesehatan cukup mudah, bukan?
Kita masih harus terus waspada dan menjaga protokol kesehatan walau terjadi penurunan tren kasus Covid di Indonesia. Jangan sampai lengah sedikitpun karena virus bisa saja mengintai ketika kita lalai dan melepaskan masker di tengah keramaian. Jagalah kesehatan masing-masing agar tidak terkena Corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Rebecca Marian )*

Kelompok Separatis Teroris (KST) dikabarkan telah kembali membantai 2 warga sipil Papua. Dua warga tersebut tengah bekerja, membangun jembatan di sungai Brazza, Kampung Kribun, Distrik Dekai Kabupaten Yakuhimo, Papua. Masyarakat Papua pun mengutuk aksi brutal kelompok tersebut yang menghambat pembangunan Papua.
KST kembali melakukan aksi brutal. Kasatgas Humas Nemangkawi KBP Ahmad Mustofa Kamal, dalam keterangannya, membenarkan kejadian tersebut. Saat ini, kedua jenazah sedang periksa medis di RSUD Dekai.

Kasus yang terjadi di wilayah hukum Yahukimo itu pun terjadi perhatian utama Satgas gabungan TNI-Polri Nemangkawi. Ahmad menuturkan, Aparat tidak akan tinggal diam dan akan mengusut tuntas sesuai dengan prosedur hukum pelaku pembantaian pekerja PT Indopapua ini. Kepada Warga masyarakat yang memiliki info seputar KST Wilayah Yakuhimo pimpinan Tendius Gwijangge agar tidak segan untuk melapor ke kepolisian terdekat.

Apa yang dilakukan KST memang terbilang kejam, kelompok tersebut membunuh dua orang warga sipil pegawai PT Indo Papua dan jasadnya ditemukan dibakar berrsama satu unit mobil milik PT Indo Papua. Personel Satgas Nemangkawi juga melakukan penyisiran dan pengamanan terhadap karyawan PT. Indo Papua yang masih berada di camp kali yegi, Jalan Trans Papua Dekai Yahukimo, ke kenyam Nduga.

Saat melakukan penyisiran dan pengamanan personel satgas Nemangkawi menggunakan satu unit mobil Hilux singgah di PT Indo Papua, guna mengecek dan membantu evakuasi barang-barang milik karyawan untuk diamankan di tempat pengungsian.

Setelah itu, personel gabungan bergeser untuk melanjutkan perjalanan menuju ke TKP, saat dalam perjalanan menuju TKP, personel Satgas Nemangkawi menghadang satu unit mobil yang mencurigakan yang menuju ke arah kota, kemudian melakukan pemeriksaan terhadap mobil tersebut dan ditemukan tiga buah HP, yang akan diselidik lebih lanjut di Sat Reskrim Polres Yakuhimo.

Personel-pun akhirnya melanjutkan perjalanan, setibanya di TKP Jembatan Kali Braza rombongan mendapatkan serangan tembakan dari arah bukit seberang Kali Brazza, personel Satgas Nemangkawi membalas tembakan dari KKB wilayah Yakukimo.

Tepatnya di pertigaan jalan Trans Papua Dekai Yakuhimo-Tanah Merah, personel satgas Nemangkawi ditembaki dari arah sebelah kanan, sehingga personel Satgas Nemangkawi membalasnya dengan tembakan.

Ketika sudah tidak ada balasan tembakan dari KKB Wilayah Yakuhimo personel melanjutkan perjalanan 100 Meter kedepan terdapat satu pohon yang melintang dan satu unit motor Honda Blade tanpa nopol. Selanjutnya personel memotong kayu untuk membuka jalan dan melanjutkan perjalanan.

Personel Satgas Nemangkawi tiba di kampung kali bele melakukan pengecekan kampung di kali bele selanjutnya personel melanjutkan perjalanan ke camp Kali Yegi.

Setibanya di Kali Yegi, personel Nemangkawi langsung melakukan pengecekan di Camp Kali Yegi untuk mencari Karyawan PT. Indo Papua yang masih berada di Camp Kali Yegi, namun setelah dilakukan pengecekan, penyisiran di sekitar dan membunyikan sirine dengan maksud karyawan keluar dari persembunyian, apabila karyawan bersembunyi di Hutan namun di camp kali yegi tidak terdapat adanya karyawan PT. Indo Papua.

Sekitar 500 meter dari Camp Induk PT. Indo Papua personel Satgas Nemangkawi mendapati para karyawan PT. Indo Papua yang telah menyelamatkan diri di pinggir kali Braza di Rumah warga setempat, kemudian tim mengamankan ke atas kendaraan dan dibawa menuju Mapolres Yakuhimo.

Setelah melakukan evakuasi pekerja PT. Indo Papua, selanjutnya personel Satgas Nemangkawi bergerak menuju kearah kota dan personel beserta para pekerja PT. Indo Papua tiba di Mapolres Yakuhimo.

Personel gabungan akan terus melakukan tindakan tegas terhadap kelompok-kelompok yang mengganggu stabilitas keamanan di Papua. KST memang tidak bisa ditolerir, mereka menggunakan cara keji untuk memisahkan diri dari NKRI dan tidak segan-segan untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah, sehingga apparat TNI-Polri patut memberangus mereka agar Papua menjadi aman dan damai.

Sementara itu Papua tengah menyiapkan event Pekan Olahraga Nasional (PON) XX, di mana event tersebut akan mendongkrak pembangunan Papua dang menggerakkan beragam sector termasuk ekonomi, tentu saja keamanan di Papua harus tetap dijaga agar KST tidak mengacaukan multievent olahraga kebanggaan Indonesia.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Zakaria )*

Pemerintah telah menyiapkan strategi penanganan Covid-19 jangka panjang karena diprediksi virus tersebut akan menjadi endemi. Pemerintah berusaha merancang strategi jitu agar endemi bisa terkendali dan tidak terjadi kematian massal.

Pandemi akibat mengganasnya Corona benar-benar membuat masyarakat kelelahan secara fisik dan mental. Kita mau tak mau melawan virus Covid-19 dan berusaha keras agar tidak tertular dan tidak menyebarkannya ke banyak orang. Sehingga makin banyak yang paham untuk menjaga protokol kesehatan dan mengubah lifestyle menjadi 100% hidup sehat.

Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Tim Satgas Covid, menyatakan bahwa virus Covid-19 akan tetap menjadi hidup dan menjadi endemi di dunia. Hal ini dikutip dari survey yang dilakukan oleh Nature terhadap 100 ahli virologi, imunologi, dan peneliti penyakit menular. Dari hasil survey, 89% dari para ahli yakin bahwa virus Covid-19 akan tetap hidup bersama kita dan menjadi endemi dan tidak menghilang sepenuhnya.

Apa sebenarnya arti dari endemi? Menurut Jurnal Public Health, endemi adalah wabah penyakit yang terjadi secara konsisten tetapi terbatas pada wilayah tertentu. Sehingga penyebaran dan lajunya bisa diprediksi. Contoh dari endemi adalah malaria dan demam berdarah dengue.

Walau Corona diprediksi tidak bisa 100% menghilang dari muka bumi tetapi kita tidak perlu panik. Prof Wiku melanjutkan, walau ada prediksi ini tetapi diperkirakan kekebalan masyarakat akan meningkat terhadap Corona, di masa depan. Penyababnya karena ada akselerasi vaksinasi atau infeksi alamiah. Namun syaratnya adalah dengan meningkatkan pengendalian kegiatan masyarakat dan modifikasi perilaku.

Pemerintah menyiapkan strategi endemi: pertama, kegiatan akan dikendalikan, dalam artian lebih diketatkan ketika kondisi membahayakan (misalnya di zona merah) dan akan dilonggarkan ketika turun jadi zona hijau. Masyarakat juga harus paham bahwa semua ini demi keselamatan bersama, jadi tidak usah marah saat ada kerumunan yang dibubarkan oleh aparat. Daripada terbentuk klaster Corona baru dan akan lebih kacau-balau karena sakit massal.

Kedua, mempercepat terbentuknya herd immunity baik secara nasional maupun aglomerasi. Caranya adalah dengan menggenjot program vaksinasi nasional dan melakukan vaksinasi massal, juga melaksanakan program ini secara door to door. Target juga ditingkatkan, dari 1 juta vaksinasi per hari menjadi 3 juta suntikan. Makin banyak yang diinjeksi maka makin cepat pula kekebalan komunal yang terbentuk.

Ketiga, meningkatkan testing, tracing, and treatment. Penyebabnya karena jika hanya treatment alias pengobatan, akan agak susah. Harus dibarengi dengan tracing alias penelusuran siapa saja yang berkontak dengan pasien, agar mereka dites rapid juga, sehingga tahu positif Corona atau tidak. Tes rapid massal juga digencarkan untuk menyaring siapa saja yang terinfeksi virus Covid-19.

Strategi keempat adalah dengan mengawasi distribusi varian virus yang berkembang. Pada awal pandemi yang tersebar di Indonesia adalah Corona varian alfa dan saat ini sudah varian delta. Diperkirakan akan ada varian selanjutnya (yang dinamai berdasarkan huruf Yunani), sehingga distribusinya terus diawasi. Jangan sampai virus hasil mutasi ini tersebar lebih luas dan mengakibatkan kematian massal.

Sedangkan strategi terakhir adalah dengan menyusun rencana ketahanan kesehatan masyarakat. Caranya dengan meningkatkan imunitas tubuh pada masing-masing penduduk dan terus menggalakkan protokol kesehatan 10M. Jika semua sadar untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi serta olahraga, dan menaati prokes, maka akan terhindar dari bahaya Corona.

Berbagai strategi disiapkan pemerintah untuk menghadapi endemi Corona. Jangan takut jika memang virus ini tidak bisa enyah dari muka bumi, tetapi kita harus tetap optimis. Pemerintah sudah menyiapkan vaksinasi dan sebagai rakyat wajib mengikutinya, juga menjaga kesehatan masing-masing agar tidak terinfeksi virus Covid-19.

)* Penulis adalah wargnet tinggal di Depok