Indonesia Peringkat Ke-4 Vaksinasi Covid-19 Dunia

Oleh :Lisa Pamungkas)*

Program vaksinasi nasional amat digencarkan oleh pemerintah dan hasilnya kita masuk peringkat ke-4 vaksinasi terbanyak di dunia. Apresiasi wajib diberikan karena menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengendalikan penularan corona dan mempercepat terbentuknya kekebalan kolektif.

Vaksinasi adalah syarat mutlak menuju Indonesia bebas corona. Sejak bulan maret 2021, pemerintah mencanangkan vaksinasi nasional. Program ini besifat wajib dan gratis, sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa mendapatkan haknya untuk sehat dan bebas dari seranganv virus Covid-19. Berbagai strategi dilakukan oleh pemerintah agar vaksinasi berhasil 100%.

Pemerintah sangat serius dalam menjalankan vaksinasi nasional dan buah dari program ini mulai tampak setelah beberapa bulan dijalankan. Indonesia meraih peringkat 4 besar dalam vaksinasi Covid terbanyak di dunia, dalam artian banyak penduduknya yang sudah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan peringat vaksinasi Indonesia saat ini berada pada posisi 4. Posisi pertama oleh India, kedua Amerika, ketiga Brasil. Kemudian, jika berdasarkan total suntikan Indonesia berada pada peringkat 7. Dengan jumlah total masyarakat yang disuntik yaitu 91,9 juta dosis.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi melanjutkan, sudah ada 58 juta orang di negeri ini yang mendapatkan vaksinasi, sedangkan total vaksin yang sudah diinjeksi ada 90 juta dosis. Sehingga Indonesia masuk ke ranking 9 se-dunia dalam penyuntikan dosis vaksin.
Prestasi ini wajib kita apresiasi karena menunjukkan betapa seriusnya usaha pemerintah dalam mensukseskan vaksinasi dan menghalau corona di Indonesia. jika ada 58 juta WNI yang sudah dinjeksi vaksin Covid, maka hampir mencapai 25% dari total penduduk. Hal ini amat bagus karena kita optimis bisa mencapai 100% vaksinasi pada bulan Februari 2022.

Banyaknya penduduk yang sudah divaksin merupakan hasil dari peningkatan target. Awalnya hanya ada target 1 juta suntikan per hari, tetapi direvisi menjadi 3 juta injeksi per hari. Sehingga kita optimis bahwa vaksinasi nasional akan berakhir lebih cepat dari perkiraan dan bisa membentuk herd immunity, sebagai syarat untuk keluar dari fase pandemi secepatnya.

Untuk mempertahankan prestasi ini maka pemerintah wajib melakukan beberapa strategi lain, agar vaksinasi nasional berhasil 100%. Dalam artian, jangan sampai kecepatan vaksinasi malah melambat dan kita gagal mencapai target 100% vaksinasi hanya dalam 12 bulan. Semuanya wajib dipertahankan dan kalau bisa makin dinaikkan intensitasnya, sehingga program ini berakhir secepatnya.

Strategi pertama adalah dengan membentuk pusat vaksinasi, yang merupakan kerjasama antara Kementrian BUMN dan beberapa perusahaan swasta. Di pusat vaksinasi yang akan dibangun di Jawa Barat dan Jawa Timur, akan dipasok setidaknya 15.000 ampul vaksin, sehingga masyarakat akan bisa diinjeksi di sana. Pusat vaksinasi lapang dan higienis sehingga kita tak akan khawatir saat mengantri giliran disuntik.

Selain itu, pusat vaksinasi juga memiliki data yang valid dan disimpan dalam bentuk digital. Pendataan yang modern ini sangat diperlukan, karena jika dilakukan secara manual akan terlalu lama dan beresiko ada kesalahan. Dengan data digital maka terlihat berapa persen penduduk di daerah tersebut yang sudah divaksin dan tidak ada yang tiba-tiba mengantri lagi untuk giliran injeksi ketiga, karena ada data sebagai buktinya.

Sementara itu, strategi kedua adalah dengan vaksinasi door to door. Dengan datangnya petugas medis langsung di tengah-tengah masyarakat, maka warga yang akan diuntungkan, karena tidak perlu mengantri lama dan menghabiskan ongkos transportasi untuk pergi ke tempat vaksinasi. Vaksinasi door to door dijamin aman dan juga sesuai dengan protokol kesehatan.

Prestasi Indonesia dalam program vaksinasi perlu diapresiasi. Sebagai warga negara yang baik, maka harus mau divaksin dan menjadi duta vaksin walau tidak resmi. Sehingga makin banyak teman yang mau juga disuntik, setelah melihat foto kita pasca vaksin, di media sosial.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan