Mengutuk Serangan KST Papua Terhadap Tenaga Kesehatan

Oleh : Alfred Jigibalom )*

Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua telah melakukan tindakan yang keji terhadap tenaga kesehatan. Masyarakat pun mengutuk serangan gerombolan tersebut karena telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan diluar perikemanusiaan.

KST kembali berulah dan menyerang tenaga kesehatan. Dua dari empat tenaga kesehatan yang menjadi korban selamat penganiayaan KST di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, memberikan kesaksian dan membantah tuduhan KST bahwa salah satu dokter yakni dr Restu Pamanggi memegang senjata api.

Kristina Sampe Tonapa dan Katrianti Tandilla menuturkan, bahwa berita yang beredar tersebut tidak benar, karena mereka semua menjadi korban dari aksi penganiayaan yang dilakukan oleh KST.

Kedua tenaga kesehatan yang hingga kini masih mendapatkan perawatan di RS Marthen Indey-Jayapura tersebut secara tersendat-sendat kembali mengisahkan insiden yang dialami mereka seraya menegaskan tidak benar bahwa dr Restu memegang senjata, karena dr restu juga terluka.

Mereka juga berujar, bahwa apa yang bereda di luar sangatlah tidak benar dan itu merupakan perbuatan yang keji karena keberadaan kami semua untuk menolong masyarakat agar mendapatkan pelayanan kesehatan.

Pihaknya mengakui, pada saat insiden pembakaran dan perusakan terjadi, mereka berempat melarikan diri dengan melompat ke dalam jurang yang ada di dekat puskesmas. Massa yang merupakan masyarakat Kiwirok ikut mengejar dengan membawa panah dan senjata tajam hingga sempat dilukai mereka.

Salah satu Nakes Katriana mengaku bahwa dirinya terjatuh paling dalam, yakni sekitar 500 meter bertahan dengan meminum air hujan selama tiga hari sebelum dievakuasi oleh anggota TNI-Polri. Atas kejadian yang menimpanya, Katriana mengalami trauma psikis yang teramat sangat, ia juga mengaku bahwa dirinya tidak ingin kembali bertugas di pedalaman. Katriana juga mengalami luka tusuk benda tumpul di bagian paha.

Kapendam XVII Cenderawasih Kol Arm Reza menyatakan, selain mengobati luka yang diderita mereka juga diberi pendampingan dari psikolog agar mengurangi trauma yang dialaminya.

Sebelumnya, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom, menganggap para dokter dan tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah tersebut bekerja dengan aparat TNI/Polri.

Tentu saja penyerangan yang dilancarkan oleh Kelompok Separatis tersebut adalah bukt bahwa KST adalah gerombolan pengecut dan tidak memiliki rasa kemanusiaan, aturan internasional juga telah menyebutkan bahwa dalam peperangan, fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tidak boleh diserang.

Penyerangan yang dilakukan oleh KST tersebut telah menewaskan seorang tenaga kesehatan bernama Gabriela Meilani (22 Tahun). Gabriela sendiri merupakan seorang tenaga kesehatan yang bekerja di pedalaman Papua untuk mengabdikan ilmunya dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat di pedalaman Kiwirok.

Gabriela sendiri sama sekali tidak memegang senjata. Ia hanya seorang wanita yang menjadi narahusada berbekal alat-alat kesehatan, bukan senjata api. Penyerangan dari kelompok pengecut tersebut juga melukai seorang anggota TNI yang bertugas mengamankan fasilitas kesehatan di dataran tinggi Pegunungan Bintang tersebut.

Menanggapi penyerangan yang terjadi terhadap tenaga kesehatan, Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua, Donald sangat menyayangkan insiden penyerangan ke fasilitas kesehatan tersebut. Selama ini, sepanjang pengalamannya sebagai tenaga kesehatan, masyarakat Papua sangat menghormati dokter dan tenaga kesehatan. Karena itu dirinya sangat menyesalkan kenapa insiden ini bisa terjadi.

Sementara itu IDI wilayah Papua akan menghentikan seluruh pelayanan kesehatan di wilayah Kiwirok, Oksibil dan Pegunungan Bintang, Papua, sampai pemerintah memberik jaminan keamanan untuk para tenaga kesehatan yang bertugas.

Ketua IDI Papua, Donald Aroangear menuturkan, bahwa IDI telah mengirim surat kepada Gubernur Papua untuk meminta jaminan keamanan terhadap para tenaga kesehatan usai peristiwa penyerangan yang diduga dilakukan oleh KST.

Dirinya melaporkan, ada 9 tenaga kesehatan di distrik Kiwirok yang menjadi korban penyerangan. Keseluruhannya sudah dievakuasi ke Jayapura dan saat ini sedang dalam penanganan medis dan psikis untuk trauma yang dialami.

Selain itu, jenazah Gabriela yang meninggal akibat penyerangan, sudah diangkat dari jurang dan ditempatkan di lokasi perlindungan terdekat. Serangan yang dilancarkan oleh KST terhadap fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan merupakan tindakan yang tak bisa dimaafkan, aparat keamanan baik TNI-Polri harus menjamin keamanan fasilitas kesehatan agar pelayanan kesehatan di Papua dapat terus berlanjut tanpa adanya ancaman dari KST.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Tinggalkan Balasan