Menteri BUMN Erick Thohir menyebut perusahaan negara dan UMKM harus terus berkolaborasi di masa sulit ini, bukan hanya untuk bertahan tapi juga membangun ekosistem yang kuat agar bisa naik kelas.

“Jika BUMN bisa mencapai profit, UMKM dan rakyat jangan menjadi pailit. Mereka harus ikut untung setelah kemudian naik kelas menjadi sejahtera,” kata Erick.

Erick menekankan pentingnya peran BUMN sebagai katalisator penggerak ekonomi, termasuk UMKM. Karena itu dia meminta BUMN jangan menganggap UMKM sebagai saingan, tapi mitra bisnis agar bisa berkembang lagi.

“BUMN berperan bangun keseimbangan dan pemerataan ekonomi, memastikan ekonomi kelas bawah naik kelas. Jangan sampai yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya,” ujarnya.

Senada dengan hal itu, Direktur Utama PT Pindad International Logistic (PIL), Suresh Ferdian, mengatakan bahwasannya kerjasama kemitraan strategis bertujuan untuk segmen market nasional dan internasional guna percepatan pemulihan ekonomi. Peran penting BUMN dalam upaya perecepatan pemulihan ekonomi tentunya sebagai motor penggerak roda perekonomian nasional hingga international.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menghimbau kepada masyarakat agar tidak khawatir dengan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM). Saat ini, penularan COVID-19 di sekolah terhitung kecil.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah (PAUD Dikdasmen), Jumeri menyampaikan, isu munculnya klaster COVID-19 sekolah perlu diluruskan. Pihaknya menyebut, data yang dipublikasikan pada laman Kemendikbudristek bukan klaster pendidikan.

“Angka 2,8 persen yang kita publikasikan satuan pendidikan itu bukanlah data klaster COVID-19, itu 2,8 persen bukan klaster pendidikan,” tegas Jumeri dalam Bincang Pendidikan tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas, Jumat (24/9/2021).

“Tapi itu adalah data yang menunjukkan satuan pendidikan yang melaporkan lewat aplikasi kita, laman kita bahwa di sekolahnya ada warga yang terkonfirmasi positif COVID-19,” lanjutnya.

Jumeri menyebut, laporan yang masuk dalam database Kemendikbudristek merupakan data akumulasi dari 14 bulan pembelajaran di masa pandemi COVID-19. Artinya, data tersebut bukanlah data saat pelaksanaan PTM berlangsung.

“Angka satuan 2,8 persen bukanlah akumulasi dari 1 bulan terakhir, akumulasi dari masa pemberlakuan PTM Terbatas setelah PTM darurat level 1-3 bukan. Jadi, itu adalah akumulasi sejak Juli 2020, atau tahun ajaran 2020 sampai 2021,” terangnya.

Selain itu, jumlah data siswa yang terpapar COVID-19 sebagaimana tertera dalam laman Kemendikbudristek adalah data yang belum terverifikasi. Sehingga, masih terdapat banyak kesalahan dalam proses input data.

“Pemahaman tentang klaster di kalangan sekolah itu masih terbatas,” ucapnya.

Untuk itu, Jumeri menghimbau kepada masyarakat supaya tidak khawatir dengan pelaksanaan PTM sebagaimana berlangsung saat ini.

“Kita tahu bahwa PJJ (pembelajaran jarak jauh) kita atau BDR (belajar dari rumah) kita tidak bisa ideal, banyak hambatan dalam PJJ kita. Sehingga ini ikhtiar kita dengan tetap membuka PTM dengan level COVID,” jelasnya.

Terkait data penularan COVID-19 di sekolah, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi DKI Jakarta juga telah melakukan penelusuran terhadap survei yang dilakukan PAUD Dikdasmen tersebut.

Kepala Disdik Provinsi DKI Jakarta, Nahdiana pada Jumat (24/9/2021).menjelaskan bahwa survei tersebut dilaksanakan untuk periode bulan Januari sampai dengan September tahun 2021, sehingga tidak menggambarkan kasus baru pasca PTM Terbatas dimulai.

“Dari 25 sekolah yang dinyatakan klaster COVID-19 tersebut, hanya 2 sekolah yang termasuk dalam 610 sekolah yang mengikuti PTM Terbatas Tahap 1, dimulai pada tanggal 30 Agustus 2021, yaitu SMP Cindera Mata Indah dan SMKS Yadika 2 Jakarta. Berdasarkan data di lapangan, sejak dimulai PTM Terbatas Tahap 1, tidak terdapat kasus COVID-19 di sekolah tersebut, baik dari peserta didik maupun pendidik dan tenaga kependidikan,” katanya. (**)

JAKARTA — Hingga saat ini, masih ada orang saja yang enggan melakukan imunisasi atau vaksinasi dengan berbagai alasan. Padahal, vaksinasi memiliki banyak manfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Apa saja manfaatnya?

Menurunkan angka kejadian penyakit
Dokter spesialias anak RS Pondok Indah Bintaro Jaya dr Caessar Pronocitro SpA menjelaskan, vaksinasi memiliki banyak manfaat. Vaksinasi bisa menurunkan angka kejadian penyakit.Jika merujuk pada data global, angka kejadian pertusis pada 1980 mencapai 1.982.355. Pada 2016. setelah vaksinasi dilakukan dalam jangka panjang, angkanya turun 94 persen menjadi 123.003.

Begitu juga dengan penyakit polio. Awalnya menncapai 53 ribu. Pada 2016, kasusnya turun 99 persen, hanya tersisa 42 kasus. Difteri turun 93 persen, rubella turun 96 persen, tetanus (total) turun 89 persen, dan tetanus (neonatal) turun 85 persen. “Seluruh data ini jelas membuktikan bahwa setelah melakukan program vaksinasi, angka kejadian penyakit jauh menurun,” jelasnya dalam acara Live webinar yang diselenggarakan RSPI, Rabu (1/7).

Dengan vaksinasi, menurut Caessar, daya tahan tubuh kita sudah dapat melawan apabila terjadi infeksi sesungguhnya. Daya tahan tubuh kita sudah memiliki memori untuk melawan virus atau bakteri maka tidak jadi sakit. Caessar mengatakan, bukti keampuhan vaksinasi salah satunya adalah penyakit cacar (smallpox) yang sudah berhasil dimusnahkan pada tahun 1980. Padahal, sebelum tahun 1980, pada 1900-an, penyakit ini sempat mewabah dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Dengan vaksinasi smallpox, maka penyakit ini berhasil dimusnahkan. Kalau penyakit sudah berhasil dieradikasi, maka vaksinasi tidak lagi dibutuhkan. “Sekarang sudah tidak ada lagi vaksin cacar karena penyakitnya sudah hilang.”

Menciptakan kekebalan tubuh kelompok (herd immunity)
Herd immunity atau kekebalan kelompok penting untuk melindungi orang lain yang rentan terhadap penyakit. Contohnya, individu dengan imunitas yang menurun atau menjalani kemoterapi. Sangat penting bagi mereka berada di sekitar orang yang sudah diimunisasi, sehingga risiko tertular penyakit menjadi kecil. Apabila cakupan vaksinasi rendah dan kekebalan kelompok tidak terbentuk outbreak atau kejadian luar biasa bisa terjadi. Kasus difteri dan hepatitis A yang belum lama ini terjadi bisa terjadi.

Melindungi orang-orang di sekitar kita
Vaksinasi juga dapat melindungi orang-orang di sekitar kita. Contohnya, vaksin rubella. Vaksin ini penting diberikan walaupun infeksinya tidak berat. Anak atau orang dewasa yang terinfeksi rubella memang hanya akan mengalami gejala ringan yang sembuh sendiri. Namun, apabila infeksi rubella terjadi pada ibu yang sedang hamil, risikonya bisa fatal dan janin yang dikandung bisa mengalami kecacatan (katarak bawaan, kelainan jantung, ketulian, gangguan mental, dan lainnya).

Disisi lain, kita tidak perlu khawatir vaksinasi Covid-19, karena selain aman, vaksin Covid-19 juga memberikan banyak manfaat. Berikut ini lima manfaat vaksinasi Covid-19 yang perlu kita ketahui :

  1. Vaksin Dapat Mencegah Covid-19 Menginfeksi Tubuhmu
    Vaksinasi memang bukanlah obat yang menyembuhkan Covid-19 secara total. Namun, menurut para ahli, kalaupun kamu terkena Covid-19 setelah vaksinasi, vaksin akan mencegah tubuhmu dari infeksi dan gejala penyakit Covid-19 yang jauh lebih fatal, karena tubuhmu kini punya sistem pertahanan tubuh yang lebih kuat.
  2. Vaksin Dapat Membantumu Melindungi Sekitarmu
    Ketika kamu divaksinasi, kamu tidak hanya melindungi dirimu sendiri, namun juga keluarga dan orang-orang di sekitarmu. Hal ini karena tidak semua orang dapat menerima vaksin Covid-19.
  3. Vaksin Dapat Melindungi dan Membantu Tenaga Kesehatan
    Dengan kehadiran vaksin dan semakin banyak orang yang divaksinasi, maka orang yang terinfeksi dan penyebarannya tentu akan berkurang. Hal ini mengurangi beban tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan.
  4. Dengan Vaksin, Pandemi Dapat Segera Berakhir
    Untuk menghentikan pandemi, seluruh sumber daya tentu harus dikerahkan dengan sebaik-baiknya. Menerima vaksinasi dan tetap menjaga diri dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan (3M) akan mengoptimalkan kemungkinan pandemi ini segera berakhir.
  5. Vaksin Dapat Melindungi Generasi Masa Depan
    Dengan penurunan tingkat infeksi Covid-19 dan mata rantai pandemi Covid-19 yang terputus, kamu dapat melindungi generasi masa depan dari penderitaan panjang akibat terinfeksi penyakit ini. (*)