Mewaspadai Provokasi KST Papua Terkait Isu HAM di Forum Dunia

Oleh : Alfred Jigibalom )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua terindikasi terus memprovokasi warga dengan membawa isu Hak Asasi Manusia (HAM) di beberapa forum dunia. Kita wajib mewaspadai manuver tersebut karena kenyataannya gerombolan tersebut yang selalu melanggar HAM.

Di Papua ada berbagai permasalahan yang masih cukup mengganjal, salah satunya adalah keberadaan organisasi Papua Merdeka dan Kelompok Separatis dan Teroris (KST). Mereka ingin memisahkan diri dari Indonesia dan menolak hasil Pepera, padahal peristiwa itu sudah terjadi puluhan tahun lalu (pada masa orde baru). KST menggunakan cara-cara licik agar keinginannya bisa terpenuhi.

Salah satu cara licik KST adalah dengan memprovokasi negara lain agar mendapat dukungan. Akhirnya Vanuatu, sebuah negara kecil di Kepulauan Pasifik, terang-terangan mendukung papua merdeka dan memprotesnya di depan audience di Sidang Majelis Umum PBB. PM Vaanuatu Bob Weigur menyerang tentang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Sindy Nur Fitri, Sekretaris Ketiga Perwakilan Tetap Republi Indonesia menangkis serangan Vanuatu dan menyatakan bahwa ia terkejut karena Vanuatu terus-menerus menggunakan forum yang mulia ini untuk mengusik kedaulatan dan integritas wilayah negara lain serta terus melakukan agresi dengan maksud tercela dan motif politik untuk melawan Indonesia.

Sindy menambahkan, tidak ada pelanggaran HAM di Indonesia, khususnya Papua. Malah yang ada KST yang melakukan pelanggaran hak asasi besar dengan membunuh para guru dan tenaga kesehatan, serta membakar gedung sekolah. Di mana Vanuatu ketika ada pekerja yang dibunuh oleh KST secara sadis? Mereka hanya bisa mengomel tanpa membuktikan langsung ke tanah Papua.

Sanggahan delegasi Indonesia cukup telak dan membuat pihak Vanuatu tidak berkutik. Walau belum ada permintaan maaf secara resmi tetapi bisa membuktikan bahwa perwakilan kita mampu membalas dengan kalimat yang menohok, dan mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Bisa saja perwakilan negara lain tidak tahu bahwa sebenarnya KST yang sering berbuat kejam pada rakyat Papua.

Kedaulatan negara wajib dibela dan negara lain tidak bisa mencampurinya, apalagi menyangkut urusan integritas. Jangan sampai negara lain seperti Vanuatu selalu merecoki dan menjelek-jelekkan Indonesia di mata dunia.

Sebenarnya bukan kali ini saja Vanuatu menyerang perwakilan Indonesia, karena tahun lalu mereka juga melakukan hal yang sama, tetapi langsung dibantah seketika. Anehnya kasus yang sama diungkapkan lagi di forum internasional, seolah-olah pemerintah kita yang bersalah. Padahal tidak terbukti ada pelanggaran HAM di Papua dan ungkapan Vanuatu tidak benar.

Masalah pelanggaran HAM adalah lagu lama yang selalu diprovokasi oleh KST, dan kita belum tahu mengapa Vanuatu selalu mendukung kelompok teroris tersebut. Padahal apa untungnya bagi mereka? Jika KST jaya belum tentu akan kecipratan rezeki atau mendapatkan benefit lain. Malah bisa-bisa hanya diperalat sebagai tameng di forum internasional lainnya.

KST juga ditengarai pernah meminta dukungan kepada para tokoh yang berpengaruh di Amerika, dan membuat demo Papua merdeka. Walau demo ini tidak berhasil tetapi tentu menyebalkan. Indonesia tidak pernah menjajah Papua dan kita berusaha menghapus kesan bahwa ada pelanggaran HAM. Jika ada banyak tentara dan polisi di Papua, maka bukan untuk mengurung rakyat, tetapi malah mengamankan mereka dari KST.

Serangan Vanuatu di forum internasional sangat mengesalkan karena mendukung KST dan menuduh Indonesia melakukan pelanggaran HAM. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya dan KST-lah yang dengan kejam membunuh perawat dan guru di Bumi Cendrawasih. Kita patut bangga pada delegasi Indonesia yang berhasil membela negara di forum internasional.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Tinggalkan Balasan