Pancasila Merupakan Ideologi Pemersatu Bangsa Indonesia

Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura menjelaskan, bahwa Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa. Gubernur mengaku, masa kecilnya memiliki kenanganan dengan ajaran Pancasila. Saat tengah berkelahi, ia dan temannya akan berhenti, bila ada yang menyebut Pancasila.

“Sewaktu anak-anak, kalau kami berkelahi dan menyebut Pancasila, kami berhenti untuk berkelahi, Pancasila merupakan alat pemersatu,” ujar Rusdy, saat menjadi pemateri pada sarasehan bertajuk “Perayaan Nilai ke-Indonesiaan dari Bumi Tadulako”, Senin (27/9/2021).

Lebih lanjut, Gubernur menuturkan, Pancasila berasal dari nilai-nilai budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Nilai-nilai tersebut, kemudian digali oleh Soekarno sebagai bagian dari pendiri bangsa. Kendati, kata Rusdy, Presiden Indonesia pertama itu tidak mengakui, bahwa dirinya sebagai penggagas Pancasila.

Gubernur menjelaskan, konsep bernegara dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar negara tidak boleh ditawar lagi. Termasuk realitas keberagaman yang merupakan hasil kesepatakan bersama. Hal ini sebagaimana isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan Konstituante, dan kembali berlakunya UUD 1945 sebagai konstitusi Indonesia yang dijiwai dengan Piagam Jakarta.

Selain Rusdy, dalam kegiatan tersebut hadir pula mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno yang juga bertindak sebagai pemateri. Senada dengan Rusdy, Try mengatakan, Soekarno merupakan penggagas sekaligus perumus Pancasila dan pahlawan kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan itu, kata dia, didapat bukan berasal dari hadiah atau pemberian cuma-cuma. Namun ia lahir melalui pengorbanan para pejuang bangsa.

Try menjelaskan, Pancasila merupakan dasar negara, ideologi bangsa, alat pemersatu bangsa, dan pandangan hidup bangsa. Untuk itu, Try meminta agar nilai-nilai Pancasila dapat dihayati dan diamalkan. Dirinya juga berharap, agar sejarah terkait lahirnya Pancasila tidak dipahami secara terpotong-potong.

Terakhir, Try mengapresiasi masyarakat Kota Palu yang dinilai sangat menghargai perbedaan dan menjaga kebersamaan. “Saya sering datang ke Palu dan sangat terkesan dengan makanan khas Palu dan keramahan masyarakat Palu,” ucapnya.

Sementara itu terkait peristiwa 1965, Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Sesditjen Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Fuad Nasar, mengatakan, tragedi 1965 memberi pelajaran pada semua bahwa Komunisme dan Pancasila tidak dapat dipersatukan. Sama seperti halnya agama yang mengajarkan percaya kepada Allah dan paham komunis sejatinya bertentangan secara diametral.

“Bagi bangsa Indonesia, agama dan kekuatan umat beragama yang solid adalah benteng Pancasila dalam menghadapi rongrongan ideologi komunis,” kata Fuad, Kamis (30/9/2021).
Ia mengatakan, pasca G.30.S/PKI atau Gestapu, pemerintah menetapkan tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Kesetiaan pada Pancasila sebagai dasar filsafat negara harus dibuktikan dalam tindakan dan kebijakan.

Menurutnya, lima sila yang membentuk susunan Pancasila sebagai dasar filsafat negara Republik Indonesia dan ideologi pemersatu bangsa haruslah diamalkan secara murni dan konsekuen sehingga menjadi karakter bernegara.

Terkait perdebatan peristiwa 1965 Fuad mengatakan perdebatan dan klaim kebenaran seputar peristiwa kelam tragedi 1965 tak pernah habisnya.

“Saya kira ada pesan yang lebih penting dan relevan untuk dimaknai bagi perjalanan bangsa dan negara kita ke depan, yaitu pidato bersejarah Jenderal TNI Dr. AH Nasution di Mabes AD pada 5 Oktober 1965 sewaktu melepas jenazah tujuh pahlawan revolusi yang ditemukan di Lubang Buaya,” jelasnya.

Fuad menyampaikan, waktu itu Jenderal Nasution menyatakan, “Menghadaplah sebagai pahlawan, sebagai pahlawan menghadaplah kepada asal mula kita yang menciptakan kita, Allah SWT, karena akhirnya panglima kita yang paling Tertinggi, Dialah yang menentukan segala sesuatu juga atas diri kita semua. Dan dengan keimanan ini juga kami semua yakin bahwa yang benar akan tetap menang, dan yang tidak benar akan tetap hancur. Fitnah lebih jahat daripada pembunuhan. Tapi jangan kita dendam hati, iman kepada Allah SWT, iman kepada-Nya, mengukuhkan kita. Karena Dia perintahkan kita semua berkewajiban untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.” (**)

Tinggalkan Balasan