Mengapresiasi  Kebijakan PEN di Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Zakaria )*

Pandemi nyaris membuat perekonomian negara jadi oleng. Untuk menyelamatkan finansial Indonesia, maka pemerintah mencanangkan kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa pandemi Covid-19 agar tidak terjerumus ke dalam jurang krisis.

Saat ini dunia sedang dilanda krisis global akibat pandemi Covid, dan di Indonesia perekonomian juga sempat agak lesu. Akan tetapi, saat daya beli masyarakat menurun, kita masih harus tetap optimis. Tidak ada hujan yang terus-menerus dan badai pasti segera berlalu. Pemerintah siaga menyelamatkan perekonomian Indonesia dengan beberapa langkah pasti.

Pemulihan ekonomi nasional wajib dilakukan agar kita tidak terperosok ke dalam status resesi. Pemerintah tentu tak ingin menyandang status bangkrut dan mata uang rupiah mengalami inflasi, serta mengakibatkan huru-hara. Oleh karena itu, bansos digelontorkan kepada masyarakat yang kurang mampu, agar mereka bisa bertahan hidup di masa pandemi.

Awalnya bansos yang diberikan adalah paket sembako, tetapi akhir-akhir ini diganti uang tunai. Penggantian ini untuk alasan kepraktisan dan sekaligus menghindarkan dari praktik pungli oleh oknum nakal. Masyarakat senang memperoleh bansos dan bisa langsung dibelanjakan. Mereka memang disuruh shopping karena bisa menggerakkan roda perekonomian nasional.

Bansos yang diberikan tak hanya kepada warga biasa, tetapi juga pengusaha UMKM, yang diberi uang sejumlah 1,2 juta rupiah. Meski nominalnya berkurang daripada tahun lalu, tetapi wajib disyukuri, karena pemerintah tetap memperhatikan rakyatnya walau pandemi sudah lebih dari setahun.

Bansos juga diberikan untuk pekerja kantoran. Mereka yang ada di kelas menengah juga berhak mendapatkannya, karena pendapatan agak menurun. Pandemi membuat hampir semua orang jadi berkantong tipis, oleh karena itu masih banyak yang perlu dibantu oleh pemerintah. Jadi diharap jangan ada yang memprotesnya, karena kenyataannya banyak karyawan yang rela gajinya dipotong jadi separuh, agar perusahaan tidak merugi.

Selain bansos, pemerintah memulihkan perekonomian nasional dengan subsidi bunga. Lagi-lagi UMKM yang diuntungkan karena program ini khusus untuk mereka, agar tetap bisa membayar cicilan ke Bank atau perusahaan finance. Dengan cara ini maka  akan terhindar dari resiko gagal bayar, karena nominal yang dibayarkan jadi berkurang berkat subsidi. Kredit macet adalah mimpi buruk karena bisa memperburuk perekonomian negara.

UMKM juga mendapat insentif pajak, karena orang bijak taat pajak. Mereka harus membayar pajak-pajak wajib, dan intensifnya cukup lumayan. Dinas Perpajakan juga memahaminya, karena hampir semua  orang jadi kesulitan untuk mengeluarkan uang saat pandemi. Sehingga bantuan dari pemerintah yang berupa subsidi pajak amat disyukuri.

Kartu prakerja juga jadi program andalan agar masyarakat bisa mendapatkan keterampilan baru, yang bisa dijadikan modal besar untuk memulai sebuah usaha. Pemerintah memang memberi kail, bukan hanya ikan, sehingga mereka bisa menjadi pebisnis dan tak hanya menadahkan tangan. Dengan menjadi pebisnis maka juga membantu pemerintah karena bisa punya pegawai dan mengurangi angka pengangguran.

Semua bantuan dari pemerintah patut diapresiasi karena hampir seluruh lapisan masyarakat mendapatkan bantuan. Berarti pemerintah berbuat adil, karena pandemi memang berpengaruh tak hanya untuk pengusaha kelas teri tetapi juga kelas menengah, bahkan kelas atas. Para pegawai juga mendapatkan subsidi agar bisa survive di masa pandemi.

Pemulihan ekonomi nasional terjadi berkat program-program pemerintah, mulai dari bansos tunai, bansos UMKM, intensif pajak, sampai subsidi kredit. Semua dilakukan agar perekonomian tetap berjalan walau di masa pandemi. Hasilnya, pada kuartal ketiga tahun 2021, pertumbuhan menjadi 5% dan kita selamat dari status resesi yang mengerikan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa cikini

Tinggalkan Balasan