Mewaspadai Potensi Munculnya Gelombang Ketiga Covid-19 Pasca Libur Natal dan Tahun Baru

Jakarta – Gelombang ketiga COVID-19 saat ini masih mengintai. Tak lama lagi, Indonesia akan menghadapi libur Natal dan tahun baru (Nataru). Belajar dari pengalaman sebelumnya, mobilitas masyarakat cenderung meningkat menjelang dan saat akhir tahun. Kondisi tersebut berbanding lurus dengan peningkatan kasus COVID-19.

Mencermati hal itu, para pakar di bidang epidemiologi pun kembali mengingatkan mengenai potensi lonjakan kasus atau gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia.

Menurut Tri Yunis Miko, seorang epidemiolog dari Universitas Indonesia beberapa waktu mengatakan bahwa kita harus belajar dari pengalaman sebelumnya, dimana beberapa kali lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air terjadi setelah melewati libur panjang yang mengakibatkan mobilitas dan kerumunan orang meningkat.

Selain itu, Tri Yunis juga menyoroti kaitan vaksinasi dan gelombang ketiga COVID-19. Menurutnya, ancaman gelombang ketiga COVID-19 semakin besar jika capaian pelaksanaan vaksinasi tidak sampai 50 persen pada Desember 2021 akhir tahun ini.

Potensi gelombang ketiga ini pun telah diwaspadai Pemerintah. Melalui Satgas COVID-19 dengan melihat pola lonjakan kasus di Indonesia yang relatif lebih lambat 3 bulan dari negara-negara lain sehingga masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan.

“Kita perlu mewaspadai kondisi dunia yang saat ini tengah mengalami third wave (gelombang ketiga). Pada pola second wave (gelombang kedua) lalu di Indonesia, di mana terdapat jeda 3 bulan (setelah lonjakan di dunia), perlu kita antisipasi, mengingat dalam 3 bulan ke depan, kita akan kembali memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru 2022,” tegas Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito beberapa waktu lalu.

Potensi gelombang ketiga di akhir tahun juga disampaikan oleh Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Letjen Ganip Warsito ketika meninjau Posko Relawan Sulut hebat di Manado, Sulawesi Utara beberapa waktu lalu.

Dimana menurut Ganip, periode Natal dan tahun baru berpotensi memicu keinginan masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, akhir tahun juga terjadi pergantian musim yang dapat menyebabkan imunitas masyarakat turun sehingga mudah tertular penyakit.

“Karena di situlah saat Nataru (Natal dan Tahun Baru) adanya pergantian cuaca. Ini yang menjadi suatu ancaman peningkatan COVID-19,” ujar Ganip.

Tinggalkan Balasan