Bersinergi Mencegah Gelombang Ketiga Covid-19

Oleh : Zaskia Nur )*

Pemerintah dan masyarakat diminta untuk terus bersinergi untuk mencegah gelombang ketiga Covid-19. Dengan adanya kerja sama yang baik, maka diharapkan ancaman tersebut dapat teratasi secara dini.

Kasus Covid-19 di Indonesia pada bulan September 2021 lalu telah menunjukkan pelandaian angka terkonfirmasi positif Covid secara signifikan. Namun demikian, negara di Asia seperti Singapura, China tengah menghadapi pandemi Covid-19 gelombang ketiga.

Dicky Budiman selaku Ahli Epidemiologi dari Griffith University memprediksi, bahwa tidak menutup kemungkinan Indonesia akan mengalami gelombang ketiga pandemi Covid-19.

Dirinya mengatakan, meskipun di level nasional Indonesia telah mengalami tren kasus Covid-19 yang membaik, namun secara level kabupaten/kota masih sangat memprihatinkan. Meski angka absolut juga mengalami perbaikan namun fondasi angka untuk mendukung angka itu di banyak daerah masih lemah terutama kapasitas 3T (treatment, tracing dan testing) dalam merespon eskalasi pandemi.

            Ditambah lagi, berbicara mengenai adanya kapasitas dan cakupan vaksinasi Covid-19 di luar pulau Jawa di mana masih belum memadai. Sehingga saat ini secara level global pun tengah menghadapi adanya gelombang ketiga. Dicky menuturkan, dari level global pun di mana dunia mengalami gelombang ketiga tentunya akan berdampak pada Indonesia apabila kita tidak melakukan mitigasi kuat. Sehingga dirinya juga memprediksi akan adanya kecenderungan terjadi gelombang ketiga pun akan sulit dihindari. Sebab penduduk Indonesia juga masih belum memiliki imunitas yang kuat meskipun sudah divaksinasi.

            Ia mengungkapkan, 60% penduduk Indonesia akan sangat rawan terpapar virus baru. Penduduk rawan ini yang rawan sekali membuat besar kemungkinan adanyaa gelombang ketiga ditambah lagi mobilitas masyarakat yang meningkat dan orang yang memiliki mobilitas tinggi namun belum vaksin, jika melakukan kontak dengan orang lain tentu akan menjadi kombinasi yang berbahaya. Oleh sebab itu, apabila Indonesia tidak cepat menanggapi dan memitigasi adanya virus varian baru, dirinya memprediksi gelombang ketiga akan terjadi di akhir tahun 2017 atau di awal tahun 2022.

            Ia mengungkapkan, yang harus dipahami, ancamannya moderat, artinya tidak akan sebesar gelombang kedua, sehingga potensi kasus akan lebih kecil namun kasus kematiaan bisa mendekati setengah dari kasus kematian gelombang kedua.

            Dicky-pun memprediksi gelombang ketiga akan lebih banyak menimpa daerah luar Jawa. Hal tersebut lantaran secara infrastruktur kesehatan, sosial ekonomi dan respons serta kesadaran individu masih relatif lebih lemah. Itulah yang membuat lebih berbahaya sehingga jika adanya keterlambatan dalam menemukan kasus baru, tentu akan membuat angka kematian menjadi tinggi.

            Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan cara pemerintah agar Indonesia tidak hadapi pandemi Covid-19 gelombang ketiga. Mulai dari memperkuat protokol kesehatan, deteksi 3T, mempercepat vaksinasi dan pelayanan di rumah sakit. Untuk protokol kesehatan, deteksi 3T dan vaksinasi diarahkan untuk sisi hulu. Sementara untuk perawatan diperuntukkan bagi masyarakat yang sakit.

            Pada protokol kesehatan, Budi menjelaskan salah satu yang dipersiapkan adalah platform PeduliLindungi. Budi menuturkan bahwa aplikasi tersebut telah diakses sebanyak 40 juta kali. Ia juga mengatakan bahwa aplikasi PeduliLindungi bisa terhubung dengan aplikasi serupa di luar negeri.

            Sementara itu untuk deteksi 3T pada pelacakan rata-rata sudah 10 kontak erat per kasus konfirmasi. Namun masih ada pekerjaan rumah untuk orang yang dilacak dapat dites, sejauh ini baru 50% yang dites.Untuk memperkuat testing, pihaknya akan cepat merespons apabila terdapat kasus positif. Meskipun dirinya mengakui banyak masyarakat yang khawatir dites karena ketahuan sakit.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, Budi berharap sistem pelacakan akan semakin baik. Hal ini tentu saja akan membantu menentukan daerah mana saja yang perlu segera melakukan karantina wilayah atau lockdown, sehingga tidak sampai melakukan lockdown skala nasional. Perlu kita ketahui bahwa gelombang kedua pada tanggal 15 Juli 2021 lalu ternyata menjadi hari di mana Indonesia mengalami kasus harian tertinggi dengan 56.757 kasus.

Meski angka harian Covid telah jauh melandai, kewaspadaan dan protokol kesehatan harus tetap kita indahkan selama masa pandemi. Sehingga kita bisa mengantisipasi potensi pandemi gelombang ketiga agar tidak mengalami kasus serupa pada Juli 2021 lalu.  

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Tinggalkan Balasan