Pemerintah akan Berantas Oknum yang Jual Senjata Ke KST

Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI Yan Permenas Mandenas meminta aparat TNI-Polri memperketat jalur darat, air, dan udara untuk menjaga lalu lintah dalam rangka pencegahan jual beli senjata dan amunisi kepada kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Permintaan itu menyusul tewasnya Kepala BIN Daerah (Kabinda) Papua, Brigjen TNI I Gusti Putu Danny Karya Nugraha akibat ditembak.

Menurut Yan, aparat harus melakukan evaluasi penggunaan amunisi oleh pasukan organik maupun unorganik sehingga amunisi itu tidak sampai diperjuablikan kepada KKB. Selain itu, evaluasi perdagangan senjata harus dilakukan. Mengingat kata Yan, perdagangan senjata kepada KKB diketahui disuplai oleh oknum anggota TNI dan Polri. Para oknum tersebut menjadi pemasok senjata KKB, di mana senjata dan amunisi yang sama digunakan kelompok itu untuk menyerang aparat.

“Jadi saya pikir jalur lalu lintas laut, darat dan udara perlu diperketat untuk memantau langsung peredaran senjata dan transaksi jual beli senjata di wilayah konflik yang ada di Papua. Khusus wilayah-wilayah pegunungan karena saya pikir oknum-oknum aparat kita juga banyak yang nakal,” kata Yan beberapa waktu yang lalu. Yan mengatakan oknum aparat TNI atau Polri kerap menjadi pemasok senjata bagai KKB. Oknum tersebut menjual amunisi dan menjual senjata.

“Dan saya pikir ada juga sponsor-sponsor intelektual lain yang perlu kita ungkapkan adalah aliran dananya. Aliran dananya sampai saat ini dari kejadian ke kejadian pemerintah tidak mampu untuk mengungkapkan siapa pemasok anggaran untuk pergerakan KKB yang ada di Papua,” kata Yan.

Sementara itu, Satgas Nemangkawi terus memburu Kelompok Separatis dan Teroris (KST) di Papua, termasuk mengungkap keterlibatan oknum pemerintahan di Papua. Masyarakat mendukung penuh pengusutan tersebut yang sudah masuk kategori pengkhianatan kepada negara.

KST yang dulu bernama KKB adalah kelompok yang berada di bawah OPM, dan mereka sengaja mengacaukan situasi di Papua dengan tujuan memerdekakan diri. Masalahnya, KST bertindak ngawur dengan menembaki aparat dan juga warga sipil. Sehingga keamanan rakyat di Bumi Cendrawasih sangat terganggu oleh anggota KST.

Cara untuk membasmi KST adalah dengan menemukan markasnya, dan mengusut pemasok senjatanya. Karena mereka berada di tengah hutan Papua yang notabene terpencil, sehingga mustahil untuk tidak mendapatkan pistol dan senjata api lain jika tidak ada pemasok. Para pemasok juga harus dipenjara karena mereka mendukung kelompok separatis yang berarti menghianati negara.

Seorang pemasok senjata api berhasil ditangkap di Kabupaten Puncak, Papua. Pria yang bernama Neson Murib dicokok dengan barang bukti berupa uang 370 juta rupiah. Penangkapan ini menjadi awal yang bagus, karena dari pengakuan Neson bisa ditelusuri apa saja senjata yang digunakan oleh KST dan aparat bisa mengantisipasinya lebih awal. (*)

Tinggalkan Balasan