Oleh : Savira Ayu )*

Jumlah pasien corona di Indonesia makin sedikit, diiringi dengan meluasnya zona hijau. Hal ini sangat bagus karena ada harapan untuk mengakhiri masa pandemi lebih cepat. Akan tetapi semua orang masih harus menaati protokol kesehatan 10M agar selamat dari corona.

Hampir 2 tahun kita menjalani hari-hari di tengah pandemi covid-19 dan rasanya menyiksa. Corona bukan hanya sebuah penyakit, melainkan jadi bencana global, di mana banyak sektor terjungkal karenanya. Mulai dari pariwisata, kesehatan, hingga ekonomi, semua nyaris tumbang gara-gara virus super kevil itu.

Akan tetapi dalam 1-2 bulan terakhir keadaan lebih aman terkendali. Jumlah pasien covid hanya berkisar 600-700 orang per harinya (menurut data tim satgas penanganan corona). Per 31 oktober 2021, wilayah yang berstatus zona hijau juga bertambah drastis, dari hanya 4 menjadi 14. Daerah yang merupakan zona hijau di antaranya Jambi, Buton, Maluku, hingga Raja Ampat (Papua).

Jika makin banyak daerah yang berstatus zona hijau maka makin aman karena di sana tidak ditemukan kasus corona sama sekali. Sementara itu, di Indonesia sudah tidak ada lagi wilayah yang berstatus zona merah atau oranye, sehingga sisanya (setelah dikruangi yang berzona hijau) berstatus zona kuning.

Fakta ini makin diperkuat statement dari CDC (lembaga pusat pengendalian penyakit Amerika Serikat) yang menyatakan bahwa di Indonesia masuk dalam level 1 alias tingkat pengendalian coronanya baik sekali. Negara lain yang juga masuk dalam level 1 adalah Hongkong, Taiwan, Bhutan, dan New Zealand.

Banyak juga negara yang lebih melonggarkan aturan dan para WNI boleh masuk ke negaranya (tentu wajib karantina beberapa hari terlebih dahulu sesampainya di sana). Misalnya Australia dan Thailand. Hal ini membuktikan bahwa mereka mempercayai kinerja pemerintah Indonesia dalam menangani corona, dan memantau juga bahwa di negeri kita kasusnya makin menurun.

Akan tetapi kita jangan terlena akan keadaan aman ini. Satgas IDI Prof Zubairi Djoerban berpesan bahwa semua orang wajib untuk menaati protokol kesehatan 10M, karena masa pandemi belum selesai. Dalam artian, memang makin banyak yang berstatus zona hijau, tetapi tidak boleh ceroboh dan melepas masker seenaknya sendiri. Juga wajib menaati poin dalam protokol kesehatan lainnya.

Protokol kesehatan tetap wajib ditaati, bahkan walau seseorang sudah divaksin, karena untuk memproteksi diri dari bahaya corona. Apalagi yang beredar di Indonesia adalah virus corona varian Delta yang telah bermutasi, sehingga menular lebih cepat dan dahsyat. Kita tentu tidak mau terinfeksi covid-19, bukan?

Tetaplah rajin mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, dan sekalian mandi, keramas, dan berganti baju saat masuk rumah. Kita tidak tahu dari mana saja virus covid-19 berasal, sehingga wajib bersih-bersih, baik di tubuh maupun di lingkungan rumah. Tetaplah jaga jarak minimal 1 meter dan batasi interaksi, lagipula sekarang lebih aman mengobrol via media sosial atau aplikasi.

Patuhi juga gaya hidup sehat sebagai upaya pencegahan corona, karena jika tubuh manusia punya daya tahan yang baik, akan susah untuk tertular. Usahakan untuk berolahraga minimal 2 kali seminggu, makan lebih banyak sayur dan buah, dan minum air putih 2 gelas dalam sehari.

Indonesia sudah mencapai level aman dan makin banyak yang berstatus zona hijau. Juga tidak ada lagi daerah yang memiliki status zona merah atau oranye. Akan tetapi kita semua masih harus waspada dan menaati protokol kesehatan, agar tidak tertular corona. Jangan malah terlena dan melepas masker, karena masih ada resiko penularan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi institute

Jakarta – Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya melestarikan lingkungan. Dengan diadakannya pembangunan nantinya didasari dengan sumber daya alam serta berada pada tempat indah jauh dari polusi.

Upaya ini dilakukan tidak hanya serta merta saja, namun tentu memiliki tujuan. Usaha ini akan dilakukan dengan meningkatkan kualitas manusianya secara bertahap namun dengan memerhatikan faktor lingkungan sekitar. Pembangunan berwawasan lingkungan ini juga dikenal sebagai sebutan pembangunan berkelanjutan.

Kriteria pembangunan berwawasan lingkungan ini juga biasa disebut dengan ciri yang diartikan sebagai suatu perencanaan yang memerhatikan daya dukung lingkungan sehingga dapat mendukung adanya kesinambungan pembangunan berwawasan lingkungan yang akan berdampak baik bagi kelangsungan hidup kedepannya.

Jadi dalam ciri pembangunan berwawasan lingkungan ini sebenarnya menjelaskan bagaimana inti dari pembangunan ini sebagai pembeda dari pembangunan biasa saja tanpa melibatkan sumber alam di dalamnya.

Komisi dunia untuk lingkungan dan pembangunan mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.

Secara umum, prinsip dari pembangunan berwawasan lingkungan ini merupakan suatu pembangunan yang berpegang erat dengan suatu sumber daya alam dan dapat membantu guna mensejahterkan generasi yang akan datang supaya dapat merasakan sumber daya alam yang kita rasakan pada saat ini.

Menurut Pongtuluran Yonathan (2015:27-29) prinsip ini mencakup adanya pemikiran aspek lingkungan hidup sedini mungkin dan pada setiap tahapan pembangunan diperhitungkan daya dukung lingkungan di bawah nilai ambang batasnya.

Ada beberapa prinsip pembangunan berwawasan lingkung seperti yang sudah dijelaskan dalam buku manajemen sumber daya alam dan lingkungan (2015:27-29), Iman Supardi (2003) yang digunakan untuk mempertahankan fungsi berlanjut dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, antara lain adalah:

a. Menghormati dan Memelihara Komunitas Kehidupan

b. Perbaiki Kualitas Hidup Manusia

c. Lestarikan Daya Hidup dan Keanaragaman Hayati

d. Menghindari Sumber Daya yang Terbarukan

e. Berusaha untuk Tidak Melampaui Kapasitas Daya Dukung Bumi

Jakarta – Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Adita Irawati mengatakan adanya kebijakan yang yang berubah-ubah terutama dalam hal syarat perjalanan dalam negeri tak bermaksud untuk menyulitkan rakyat. “Kami tidak ingin menyulitkan. Jadi kalau ada yang bilang kok [kebijakannya] ganti-ganti bikin kita repot, saya apresiasi melihatnya dari sisi positif bahwa itu untuk kepentingan masyarakat,” kata Adita saat acara dialog virtual, Rabu (3/11/2021).

Menurutnya jika perjalanan tidak dibatasi dengan syarat tertentu maka dapat berisiko terjadi lonjakan kasus. Dampaknya maka pengetatan dilakukan kembali dan bisa merugikan masyarakat. “Makanya kami lebih bijaklah melihat situasi ini. Dinamika peraturan pasti akan ada, tetapi percayalah itu tidak dimaksudkan untuk menyulitkan rakyat. Itu untuk kebaikan kita semua agar kita semakin bisa mengendalikan pandemi,” ujarnya.

Adita menjelaskan bahwa adanya perubahan kebijakan ini dilakukan berdasarkan evaluasi mingguan yang dipengaruhi oleh banyak aspek. “Bagaimana peraturan ini disesuaikan, sebenarnya mengikuti dinamika kondisi pandemi ini sendiri. Pemerintah berupaya melakukan penyesuaian yang dilihat dari banyak aspek,” katanya. Pemerintah kata dia menggelar rapat rutin mingguan dari berbagai unsur kementerian dan lembaga untuk melakukan evaluasi dalam pengendalian pandemi, khususnya dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

“Berdasarkan update dari situasi pandemi, Kemenhub di sektor transportasi melakukan penyesuaian. Jadi ini satu hasil kolaborasi dan koordinasi,” ujarnya. Diketahui perubahan aturan mengenai syarat perjalanan berubah-ubah dengan cepat dalam beberapa pekan terakhir. Mulanya pada 24 Oktober 2021 pemerintah mewajibkan hasil tes PCR minimal 2 hari sebelum keberangkatan bagi penumpang pesawat yang berasal dan hendak ke daerah PPKM level 3 dan 4. Kebijakan itu diprotes oleh publik karena dinilai membebani karena harga tes PCR terlalu mahal.

Pemerintah kemudian menurunkan harga PCR dan memperpanjang masa hasil tes PCR menjadi 3 hari sebelum keberangkatan. Pemerintah juga memberlakukan wajib tes PCR atau antigen terhadap pelaku perjalanan darat yang menempuh jarak lebih dari 250 kilometer. Kemudian mulai 2 November 2021, pemerintah tak lagi mewajibkan tes PCR bagi penumpang pesawat. Hanya penumpang yang baru vaksinasi dosis pertama yang diwajibkan tes PCR sedangkan yang sudah vaksinasi lengkap cukup tes antigen.

Kebijakan itu diikuti pula dengan penghapusan aturan mengenai jarak pelaku perjalanan 250 kilometer. Aturan diubah hanya dengan menyebut “pelaku perjalanan jarak jauh” wajib menunjukkan hasil tes antigen maksimal 1X24 jam dan kartu vaksin minimal dosis pertama.(*)

SORONG — Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan turut berduka cita atas wafatnya empat anggota TNI AD dalam peristiwa penyerangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di pos persiapan Koramil Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat. Ungkapan itu disampaikan Dominggus dalam upacara pelepasan jenazah para korban menuju kampung halaman masing-masing, Jumat (3/9) yang lalu.

“Mewakili seluruh masyarakat provinsi Papua Barat kami turut berbelasungkawa atas kepulangan empat putra terbaik bangsa. Pengabdian dan pengorbanan mereka luar biasa demi keutuhan NKRI dan rakyat Papua Barat,” ujar dia.

Gubernur berharap doa baik semua masyarakat Papua Barat iringi kepulangan empat putra terbaik bangsa. Dominggus mendukung penuh langkah hukum yang sedang diambil aparat TNI-Polri untuk menangkap para pelaku guna diproses sesuai hukum yang berlaku di NKRI.

“Perbuatan para pelaku sangat tidak manusiawi, kami mendukung penuh upaya Panglima Kodam dan Kapolda Papua Barat untuk bersinergi menangkap para pelaku agar diproses hukum sesuai perbuatan mereka,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat sipil Kampung Kisor dan warga Distrik Aifat Selatan diharapkan tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi berbagai hasutan. Pemerintah bersama aparat penegak hukum tentu memberikan jaminan keamanan.

“Masyarakat Kampung Kisor sekitar lokasi kejadian kiranya memberikan informasi yang benar guna membantu aparat keamanan dalam melaksanakan tugas penyelidikan terhadap kelompok penyerang Pos Koramil tersebut,” ujar Gubernur Papua Barat.

Panglima Kodam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa mengatakan, kelompok penyerang Pos Koramil Kisor merupakan Kelompok Separatis Teroris yang berseberangan ideologi dengan NKRI. Kelompok tersebut menyerang Markas Koramil pada Kamis (2/9) dini hari dengan kekuatan sekira 30 orang menggunakan senjata tajam (parang).

“Saya sudah perintahkan personel gabungan untuk melakukan pengejaran dan penangkapan, apa pun kondisinya,” ujar dia.

Dia berharap masyarakat sipil membantu aparat dalam memberikan informasi keberadaan kelompok tersebut tanpa ragu karena TNI bersama Polri memberikan jaminan keamanan penuh kepada masyarakat sekitar lokasi kejadian. “Bantuan masyarakat sangat penting untuk kami mengetahui lokasi pelarian maupun tempat persembunyian kelompok separatis ini,” katanya. (*)

Jakarta – Komisi I DPR menggelar uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test calon Panglima TNI terhadap Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Janderal Andika Perkasan.

Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid menjelaskan mengenai mekanisme fit and proper test terhadap Andika Perkasa. Kata dia penyampaian visi misi Andika Perkasa digelar terbuka untuk umum.

“Mekanisme kita hari ini yaitu penyampaian visi-misi calon Panglima TNI dilaksanakan secara terbuka,” ujar Meutya di Gedung DPR, Sabtu (6/11).

Namun demikian legislator Partai Golkar ini mengungkapkan mengenai strategi dan kebijakan TNI ke depan, fit and proper test dilakukan secara tertutup.

“Penyampaian strategi dan kebijakan dilaksanakan secara tertutup. Alokasi waktu calon Panglima TNI untuk menyampaikan visi-misi adalah 30 menit,” katanya.

Meutya menjelaskan saat masing-masih fraksi menanyakan kepada calon Panglima TNI Andika Perkasa prosesnya juga akan berlangsung secara tertutup.

“Pendalaman tanya-jawab dari fraksi-fraksi masing-masing fraksi, bapak-Ibu kapoksi tolong dicatat, diberi waktu 7 menit, dilaksanakan secara tertutup. Jawaban calon Panglima TNI terhadap pertanyaan dari fraksi diberikan alokasi selama 20 menit, dilaksanakan secara tertutup,” ungkapnya.

Setelah semua pertanyaan dari anggota DPR masing-masing fraksi, maka tahapan selanjutnya adalah pendalaman yang akan disampaikan secara tertutup.

“Pendalaman tanya-jawab masing-masing anggota diberi waktu kurang-lebih 3 menit, dilaksanakan secara tertutup, dan kemudian calon Panglima TNI menjawab, diberi alokasi waktu kurang-lebih 20 menit, dilaksanakan secara tertutup,” ungkapnya.

Sementara itu, Calon tunggal panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menjabarkan visi dan misi-nya dalam uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test (FPT) di depan anggota Komisi I DPR RI.

Jenderal Andika mengungkapkan bahwa ia membawa visi “TNI Adalah Kita” jika terpilih menjadi panglima TNI kelak. Dengan visi tersebut, ia ingin agar TNI dipandang sebagai bagian dari masyarakat Indonesia maupun internasional.

Andika menuturkan, di satu sisi, visi tersebut menunjukkan bahwa TNI juga memiliki keterbatasan dan kelebihan. Ia menyebutkan, TNI bisa saja ingin profesional tetapi harus melalui proses yang terus dibangun. (*)

Oleh : Edward Wanggai )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua kembali menebar teror menjelang HUT OPM 1 Desember. Masyarakat langsung mengecam tindakan KST karena melakukan pelanggaran HAM mendukung TNI/Polri untuk menindak tegas gerombolan tersebut.

Papua adalah wilayah paling timur di Indonesia yang baru saja menjadi tuan rumah PON XX. Ia juga terkenal akan eksotisme alamnya, dan turis asing suka mengunjungi Raja Ampat dan ingin menaklukkan puncak Jayawijaya yang bersalju.

Akan tetapi, image baik Papua dikotori oleh ulah KST. Gerombolan ini sudah berkali-kali membuat kekacauan di Bumi Cendrawasih. Terakhir pada tanggal 2 November 2021, terjadi pembakaran di pemukiman warga, tepatnya di Distrik Sugapa, Intan Jaya. Tentu pelakunya adalah anggota KST.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Kolonel Czi IGN Suriastawa menyatakan bahwa sebelumnya sudah ada informasi bahwa anggota KST akan datang tanggal 2 November siang, lalu ingin membakar gedung DPRD. Namun berkat kesigapan aparat, berhasil dicegah. Akan tetapi mereka datang lagi di sore hari dan membakar rumah warga di sekitar gedung DPRD, tepatnya di Kampung Mamba Bawah.

Informasi ini diperlengkap dengan tambahan keterangan dari Dominikus Sani, warga asli Intan Jaya, Papua yang sedang studi di Jawa Timur. Menurut Dominus, ada serangan juga tanggal 27 oktober 2021 dan 2 orang balita bernama Nopelianus dan Bortinus Sondegau meninggal dunia.

Dominus melanjutkan, KST juga membakar gedung perkantoran, tak hanya rumah warga. Baku tembak antara anggota mereka dengan anggota TNI-Polri masih terjadi tetapi keadaan belum kondusif. Ia juga belum memiliki keterangan baru lagi karena di daerah Intan Jaya mengalami susah sinyal, sehingga tidak ada anggota keluarganya yang bisa jadi informan.

Ketika ada penyerangan yang berujung baku tembak dan pembakaran, tentu yang rugi adalah warga sipil. Publik langsung mengecam aksi ini karena KST selalu melakukan kerusuhan dan merugikan orang lain, dengan sengaja membakar rumah warga. Berapa kerugian materiil yang mereka harus tanggung? Apalagi saat ada korban jiwa, keluarganya alkan sedih berkepanjangan.

Masyarakan Papua selama ini memang sudah antipati terhadap KST karena bukan kali ini saja mereka melakukan penyerangan. Sudah berkali-kali mereka membuat ulah, dan korbannya cukup banyak. Mulai dari muriud, guru, hingga tenaga kesehatan, semua meninggal dunia akibat serangan dari anggota KST.

Oleh karena itu masyarakat mendukung penangkapan anggota KST, karena mereka selalu meresahkan warga. Mereka juga bahkan nekat mengambil nyawa saudaranya sesukunya sendiri, sehingga sudah melewati batas dan melanggar HAM. Jika benar ingin memerdekakan diri, mengapa harus merugikan orang lain?

Tidak ada masyarakat yang mendukung aksi KST karena mereka adalah organisasi kriminal dan teroris, dan sering berbuat kejahatan. Jika masih ada KST yang bercokol di Papua, maka kedamaian belum terwujud.

Aparat juga makin meningkatkan kewaspadaan dan berpatroli, terutama di daerah yang rawan di Papua, seperti di Intan Jaya dan Yahukimo. Mereka melakukan razia dan mencegah agar jangan sampai kerusuhan terulang kembali.
Selain itu, Satgas Nemangkawi juga makin rajin melakukan penyerangan dan penangkapan terhadap para anggota KST.
Kali ini KST sudah melewati batas, dengan melakukan pembakaran di fasilitas umum dan rumah warga. Mereka juga tega menembak 2 balita yang tidak tahu apa-apa. Masyarakat auto mengecam tindakan KST yang melakukan pelanggaran HAM dan merusak perdamaian di Papua. Mereka patut dihukum berat dan terus dikejar oleh aparat.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Aceh

Oleh : Agung Suwandaru )*

Pertumbuhan ekonomi di Indonesia menunjukkan kabar baik, tentu saja ini menunjukkan optimisme Indonesia dalam memperkuat perekonomian dalam situasi pandemi.

Pada 5 November 2021, Margo Yuwono selaku Kepala BPS melaporkan produk domestik bruto (PDB) Tanah Air pada bulan Juli-September 2021 dapat tumbuh sebesar 3,51% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Jauh melambat dibandingkan pencapaian kuartal II-2021 yang tumbuh 7.07% yoy, terbaik sejak 2004.

Sementara itu jika dibandingkan dengan kuartal II-2021 (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia dapat tumbuh sebesar 1,55%. Median proyeksi pasar memperkirakan bahwa ekonomi Tanah Air pada kuartal III-2021 tumbuh 3,61% yoy. Proyeksi tertinggi ada di 4,5% yoy dan terendah 3,23 yoy.

Sebagian responden memberikan proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk sepanjang 2021. Angka media proyeksi juga sebesar 3,61 %. Kalau yang ini, jauh membaik ketimbang 2020 yang -2,0%. Sebagai perbandingan, konsensus pasar versi Reuters menghasilkan angka 3,76 yoy untuk pertumbuhan ekonomi kuartal III-2021. Sementara pertumbuhan ekonomi sepanjang 2021 diramal 3,4 %.

Selain itu yang perlu kita ketahui adalah adanya data aktivitas manufaktur, IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur yang diukur dengan Purchasing Manager’s Index (PMI) di Indonesia pada bulan Oktober 2021 adalah 57,2/ melesat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 52.2 sekaligus menjadi catatan tertinggi sepanjang sejarah.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Apabila sudah di atas 50, artinya dunia usaha tengah menjalani fase ekspansi. Keterangan tertulis dari IHS Markit menunjukkan bahwa Pelonggaran restriksi membuat sektor manufaktur Indonesia tumbuh hingga mencatat rekor baru. Penciptaan lapangan kerja tumbuh positif, kali pertama dalam empat bulan terakhir, sementara pembelian bahan baku naik dan mengukir rekor tertinggi.

Namun yang mendongkrak PMI manufaktur Indoneisa pada Oktober 2021, lanjut IHS Markit, adalah pemesanan baru (new orders). Dunia usaha mengaku bahwa permintaan tumbuh dan ekonomi berangsur bangkit karena situasi pandemi virus corona.

Tingginya permintaan membuat dunia usaha melakukan ekspansi dengan meningkatkan kapasitas produksi. Hasilnyam lapangan kerja pun tercipta meski belum signifikan.

Jingy Pan, Economics Associates Director IHS Markit menyatakan kepercayaan diri dunia usaha sudah pulih. Ini terlihat dari peningkatan future Output Index dan tambahan rekrutmen pekerja.

Perlu diketahui, bahwa manufaktur merupakan penyumbang terbeesar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari sisi lapangan usaha. Sehingga jika manufaktur melejit, niscaya pertumbuhan ekonomi akan terungkit.

Data selanjutnya adalah Inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi inflasi 0,12% pada Oktober 2021 dibandingkan bulan sebelumnya (mont-to-month/mtm). Hal ini tentu saja membuat inflasi tahunan (yoy) menjadi 1,66%.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun, Indonesia diperkirakan mengalami inflasi 0.09% mtm. Artinya, laju inflasi sedikit lebih cepat daripada ekspektasi pasar. Sementara inflasi inti pada bulan Oktober 2021 tercatat pada angka 1,33 % yoy. Lebih tinggi dibandingkan bulan September 2021 yang sebesar 1,3% dan menjadi yang tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Inflasi inti kerap dijadikan indikator untuk mengukur kekuatan daya beli. Sebab, inflasi inti berisi harga barang dan jasa yang persisten, bendel, tidak mudah naik-turun. Kalau harga barang dan jasa yang tergolong komponen inti naik, artinya konsumen rela dan sudah rela membayar lebih, hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat sudah lebih kuat.

Sama seperti halnya aktivitas manufaktur, laju inflasi pun terakselerasi selepas pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Permintaan yang meningkat karena masyarakat sudah tidak menjalani #dirumahaja yang menebabkan tekanan inflasi.

Di satu sisi, percepatan laju inflasi memang perlu diwaspadai. Namun di sisi lain, hal ini juga menandakan akan adanya peningkatan permintaan yang berarti konsumsi rumah tangga sudah mulai bangkit setelah tertekan akibat PPKM ketat.

Berita baik ini tentu saja menjadi titik optimisme perekonomian nasional, karena bukan tidak mungkin perekonomian Indonesia pada tahun depan akan mengalami start yang impresif. Sehingga kebangkitan perekonomian Indonesia sudah ada di depan mata.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Khatulistiwa

Oleh : Zainudin Zidan )*

Pengungkapan jaringan teror yang memanfaatkan kotak amal untuk menggalang dana membuktikan bahwa kelompok radikal terus bermanuver di sekitar kita. Masyarakat pun diminta mewaspadai aksi tersebut karena telah mencemari aksi solidaritas dan kepedulian rakyat dalam membantu sesama.

Menurut hasil salah satu lembaga survey, penduduk Indonesia diklaim sebagai orang yang paling dermawan, terutama ketika pandemi melanda. Saat awal Corona masuk ke negeri ini, ada berbagai sumbangan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga nirlaba maupun perorangan. Kita patut bangga karena dikenal sebagai bangsa yang murah hati.

Akan tetapi, sifat dermawan ternyata diikuti oleh resiko pemanfaatan oleh para oknum. Seperti kelompok radikal dan teroris yang membuat lembaga amal dan mengiklankannya di media sosial, untuk menarik minat masyarakat. Mereka jadi trenyuh dan berdonasi, padahal uangnya tidak dipakai untuk anak yatim piatu, melainkan disalurkan untuk menyokong kegiatan radikalisme dan terorisme.

Detasemen 88 Antiteror sudah menangkap tersangka teroris berinisial S di Lampung, dari JI, dan ia diduga terkait dengan kasus penggalangan dana kelompok radikal. S pernah menjabat di sebuah yayasan amal dan sering membuat pengumuman donasi.

Kabag Bantuan Operasi Densus 88 Kombes Aswin Siregar menyatakan bahwa kantor lembaga amal tersebut sudah ditutup ketika ada penyelidikan, begitu juga kantor-kantor cabangnya di berbagai daerah. Rekening-rekeningnya telah disita dan asetnya telah diamankan, sehingga anggota mereka tidak bisa mengutak-atiknya.

Penemuan tentang modus baru kelompok radikal ini sangat mengejutkan, karena mereka tega membohongi masyarakat, demi keinginannya yang menyesatkan. Bagaimana bisa para teroris bermodus meminta sumbangan demi fakir-miskin dan anak yatim piatu, padahal digunakan untuk modal pengeboman dan aktivitas lain? Padahal mereka tahu bahwa berbohong adalah dosa besar tetapi nekat melakukannya.

Jika uang yang terkumpul dari lembaga bermodus digunakan untuk kegiatan kelompok radikal, maka jelas haram, karena faktor kebohongannya. Aneh sekali ketika mereka yang mengaku taat dalam memeluk keyakinan tetapi malah melakukan dosa besar, gara-gara ambisi untuk membuat negara khilafah.

Uang yang digunakan untuk membiayai kelompok teroris memang banyak. Untuk membuat bom sederhana saja butuh 850.000 rupiah. Sedangkan untuk rencana pengeboman besar, seperti yang terjadi tahun 2002 lalu di Pulau Dewata, butuh biaya 100 juta rupiah. Tak heran mata mereka ditutupi oleh dosa lalu nekat berbohong demi mengongkosi radikalisme dan terorisme.

Masyarakat tentu kaget karena merasa dibohongi dan dimanfaatkan oleh anggota kelompok radikal. Awalnya mereka ingin menambah pahala, ternyata malah dikibuli, lalu merasa sakit hati. Oleh sebab itu kita dihimbau untuk lebih hati-hati ketika melakukan donasi, terutama jika berderma di internet.

Ketika ada yang meminta sumbangan di media sosial maka jangan asal transfer, tetapi selidiki keabsahan lembaganya. Lihatlah apakah mereka memiliki izin dari Dinas Sosial, karena itu menunjukkan keresmiannya. Selain itu, periksa apakah lembaga itu punya kantor yang asli, bukan hanya via online yang bisa saja memakai alamat dan nomor telepon palsu.

Akan lebih baik lagi jika kita menyumbang secara langsung, baik ke kotak amal di rumah ibadah, rumah yatim piatu, atau lembaga donasi yang valid. Berderma secara online memang praktis karena tinggal transfer dan konfirmasi, tetapi jangan sampai kemurah-hatian ini malah dimanfaatkan oleh kelompok radikal.

Kelompok radikal ketahuan membuat yayasan fiktif untuk menggalang dana masyarakat, akan tetapi mereka malah menggunakan uangnya untuk aktivitas terorisme dan radikalisme. Kita patut waspada dan jangan asal berdonasi. Telitilah sebelum men transfer uang dan periksalah apakah lembaga amal tersebut valid atau tidak.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Deni Andriyana )*

Turunnya level PPKM di berbagai daerah diharapkan tidak membuat kita terlena. Tetaplah menaati protokol kesehatan karena masa pandemi belum selesai.
Tahun 2020 dan 2021 bagaikan bencana karena seluruh dunia dilanda pandemi. Virus Covid-19 yang berukuran sangat kecil, tetapi memiliki kekuatan besar untuk mengobrak-abrik hampir segala lini, terutama perekonomian. Segala upaya dilakukan agar tidak tertular Corona, salah satunya dengan mematuhi protokol kesehatan 10M dan bergaya hidup sehat.

Dalam 1-2 bulan terakhir masyarakat bisa bernafas lega kasus Corona menurun dan tidak separah sebelumnya. Jika dulu jumlah pasien bisa mencapai 50.000+ orang per hari, maka per 1 november 2021 hanya 600-an pasien. Menurunnya kurva Corona ini sangat melegakan karena kita berharap bisa mengakhiri masa pandemi lebih cepat.

Daerah yang terkena PPKM level 4 sudah tidak ada, dan banyak yang menurun, hanya level 1-2. Jakarta sudah PPKM level 1 sementara Malang raya PPKM level 2, yang sebelumnya terkena level 4. Ketika level PPKM menurun maka peraturan dilonggarka. Anak-anak boleh belajar di sekolah sementara orang tuanya full work from office.

Akan tetapi keadaan ini belum sepenuhnya aman karena pandemi belum selesai. Turunnya level PPKM di berbagai daerah jangan membuat kita menurunkan masker. Ketua DPD RI AA La Nyala Mattalitti menyatakan bahwa masyarakat wajib disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan 10M agar tidak terjadi lonjakan kasus Corona.

Dalam artian, melandainya kurva masih bisa berpotensi untuk naik lagi. Penyebabnya karena saat PPKM turun level dan situasi aman, banyak orang yang malas-malasan mematuhi protokol kesehatan, atau mengira Corona sudah pergi. Padahal belum ada pengumuman selesainya masa pandemi menjadi endemi.

Kita patut berkaca pada RRC yang menghadapi lonjakan kasus Corona karena ada tamu yang datang dari luar negeri. Jangan sampai Indonesia mengalami hal yang sama. Oleh karena itu, pengawasan terhadap penumpang pesawat yang baru masuk ke Indonesia makin diperketat dan mereka harus melakukan karantina selama 5 hari, juga mematuhi protokol kesehatan 10M.

Protokol kesehatan wajib dilakukan dengan ketat, bahkan memakai masker sampai 2 lapis, yakni yang disposable dan masker kain, untuk menambah daya filtrasi menjadi 90%. Penyebabnya karena di Indonesia, virus Covid-19 yang beredar adalah varian Delta. Virus itu bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG, sehingga kita wajib memproteksi diri dengan masker.

Prokes lain yang masih harus ditaati adalah menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Jangan malah dengan sengaja membuat kerumunan dan mengadakan pesta pernikahan besar-besaran. Seharusnya di masa pandemi kita turut prihatin dan hanya mengadakan akad nikah atau pemberkatan dengan tamu sesedikit mungkin, agar tidak menyebabkan kerumunan.

Selain disiplin dalam menerapkan Prokes maka vaksinasi juga wajib bagi seluruh WNI. Kita juga patut berkaca pada Singapura, di mana kasus Corona sedang naik, karena masih banyak lansia yang belum divaksin. Para lansia di Indonesia juga harus divaksin, apalagi mereka daya tahan tubuhnya relatif lebih lemah. Untuk memudahkan mereka maka bisa menggunakan metode vaksinasi door to door.

Di berbagai daerah di Indonesia terjadi penurunan level PPKM, sehingga ada sedikit kelonggaran dalam mobilitas warga. Akan tetapi jangan terbuai dengan keadaan. Tetaplah disiplin dalam menerapkan Prokes karena pandemi belum selesai, dan tentu kita tidak ingin kena Corona, bukan? Disiplin Prokes amat mudah akrena hampir 2 tahun ini kita sudah terbiasa melakukannya.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Khatulistiwa