Ancaman Kebangkrutan Tidak Hanya Garuda, Termasuk Maskapai Besar di Seluruh Dunia

Jakarta – Siapa yang tak kenal Garuda Indonesia, maskapai first class andalan Indonesia. Terbaru, maskapai ini membawa terbang Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke tiga negara yakni Italia, Inggris Raya, dan Persatuan Emirat Arab untuk menunaikan tugas negara.

Dulu, bukan sembarang orang bisa naik Garuda Indonesia. Hanya mereka yang berduit. Imej ini pun masih melekat hingga sekarang di masyarakat. Tidak hanya imej di masyarakat, bagi para pekerja di lingkungan maskapai penerbangan pun juga demikian. Bekerja di Garuda Indonesia, telah jadi impian para flight attendant.

Besarnya penghasilan pilot hingga pegawai lain yang di atas rata-rata perusahaan sejenis jadi magnet Garuda Indonesia jadi incaran. Garuda Indonesia bahkan terus dinobatkan sebagai maskapai bintang 5 dari Skytrax. Di dunia, hanya ada 9 maskapai yang memiliki predikat itu.

Maskapai tersebut yaitu All Nippon Airways (ANA), Asiana Airlines, Cathay Pasific, Hainan Airlines, Qatar Airways, Singapore Airlines, Lufthansa, EVA Air dan Garuda Indonesia. Sayangnya itu Garuda Indonesia yang dulu. Sekarang, maskapai ini masuk dalam deretan maskapai di dunia yang nasibnya diujung tanduk.

Bagaimana tidak, maskapai berkode emiten GIAA mencatatkan rugi sebesar USD 1,33 miliar atau sekitar Rp 18,95 triliun (kurs Rp 14.249 per USD) hingga kuartal III 2021. Rugi ini jauh lebih baik dibandingkan posisi per akhir Desember 2020 yang tercatat minus USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 35,62 triliun.

Sayangnya, jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, kerugian Garuda Indonesia bertambah dari USD 1,07 miliar atau sekitar Rp 15,24 triliun per September 2020. Hingga September 2021, Garuda Indonesia mencatatkan total pendapatan sebesar USD 568 juta atau sekitar Rp 8,09 triliun. Turun dari pendapatan periode sama pada 2020 sebesar USD 1,13 miliar.

Pada periode yang sama, total ekuitas mencapai USD 2,83 miliar. Liabilitas tercatat sebesar USD 9,76 miliar. Lebih besar dibandingkan aset Perseroan hingga September 2021 yang hanya sebesar USD 6,93 miliar. “Neraca Garuda sekarang mengalami negatif ekuitas USD 2,8 miliar, ini rekor. Dulu rekornya dipegang Asuransi Jiwasraya, sekarang sudah disalip Garuda,” kata Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI.

Ia mengatakan, drop-nya tingkat neraca keuangan Garuda Indonesia disebabkan juga oleh adanya PSAK 73 yang dilakukan perusahaan pada 2020-2021. Ini yang menyebabkan dampak penurunan ekuitas semakin dalam, karena pengakuan utang masa depan lessor. “Dalam kondisi ini dalam istilah perbankan sudah technically bankrupt, tapi legally belum, ini yang sekarang saat ini kita sedang upayakan gimana keluar dari posisi ini,” kata Tiko.

Anggapan bangkrut tersebut, karena secara praktik sebagian kewajiban Garuda Indonesia sudah tak dibayar, bahkan ia menyebut gaji pun sudah sebagian ditahan. “Jadi kita harus pahami bersama situasi Garuda sebenarnya secara technical sudah mengalami bangkrut. Karena kewajiban-kewajiban jangka panjangnya sudah tidak ada yang dibayarkan, termasuk global sukuk, termasuk himbara dan sebagainya,” jelas dia.

Hal yang sama juga terjadi pada maskapai lainnya didunia, Sama seperti Garuda, kepemilikan saham Thai Airways juga sebelumnya didominasi oleh pemerintah Thailand. Namun, pemerintah Thailand telah melakukan divestasi saham alias mengurangi porsi kepemilikan, dari 51 persen ke 47,8 persen karena krisis finansial yang tengah diemban perusahaan. Dengan demikian, pemerintah Thailand bukan lagi pemegang saham mayoritas Thai Airways. Dengan jumlah utang yang mencapai Rp100 triliun, pemerintah Thailand memutuskan untuk tak lagi menginjeksi dana ke Thai Airways. Keputusan itu muncul bersamaan dengan kebijakan pemerintah Thailand mengurangi porsi saham di maskapai tersebut, dan mengeluarkannya dari daftar BUMN negaranya.

Sementara itu, perusahaan penerbangan asal Hong Kong, Cathay Pacific Airways mengumumkan kerugian USD 2,8 miliar setara Rp 40 triliun sepanjang 2020. Penurunan pendapatan ini bahkan lebih buruk dari prediksi Bloomberg sekitar USD 2,6 miliar atau sekitar Rp 37 triliun. Dikutip dari South China Morning Post, Rabu, (10/3/2021), kerugian ini menjadi yang terburuk dalam sejarah industri aviasi.

Pemimpin Cathay Pacific, Patrick Healy bahkan menyebut tahun 2020 sebagai tahun ‘paling menantang’ yang dialami perusahaan selama 70 tahun beroperasi. Ini sekaligus memberikan alarm ketidakpastian bisnis di masa depan bahkan pasca pandemi. “Kondisi pasar tetap menantang dan dinamis, belum jelas bagaimana pandemi dan dampaknya akan berkembang selama beberapa bulan mendatang.” ungkapnya dalam sebuah pernyataan. (*)

Tinggalkan Balasan