Kondisi Garuda Saat lni Juga Dialami Maskapai Besar di Dunia

Jakarta — TAHUN lalu sebelum pandemi Covid-19 merebak, tercatat 4,5 miliar penumpang melakukan penerbangan. Menurut catatan The Economist, majalah mingguan internasional terbitan Inggris, terdapat tidak kurang dari 100.000 penerbangan komersial berlangsung dalam satu hari. Angka-angka itu menurun drastis begitu pademi melanda. Penurunannya tidak pernah terjadi dan bahkan tidak pernah diramalkan orang sebelumnya sepanjang sejarah. Willie Walsh pimpinan IAG (International Airlines Group) mengatakan, maskapai penerbangan di Eropa telah turun kapasitasnya sebesar 75 persen belakangan ini. Tidak ada jaminan maskapai penerbangan Eropa akan sanggup bertahan dalam beberapa bulan ke depan.

Kajian CAPA (Centre for Asia-Pacific Aviation), lembaga konsultan dan analisis penerbangan yang berbasis di Sydney Australia, menjelaskan, tanpa bantuan yang diberikan pemerintah, lebih separuh dari 800 maskapai penerbangan di seluruh dunia akan mengalami kebangkrutan. Kondisi ini lebih hebat dari dampak serangan teroris pada tragedi 911 di tahun 2001. “Airlines around the world are facing the most severe crisis in aviation history. Some airlines have already collapsed, and some are on their way to bankruptcy,” demikian CAPA.

Di Amerika Serikat (AS), pengamat industri penerbangan Mike Boyd mengatakan, kucuran stimulus tunai dari pemerintah AS sebesar Rp 50 miliar dolar AS tidak akan cukup untuk dapat menyelamatkan industri penerbangan yang mengalami kerugian besar akibat Covid-19. Era maskapai penerbangan sebagai sebuah bisnis yang menarik mungkin akan segera berakhir. CAPA menyebut proyeksi keuntungan bisnis penerbangan di masa pandemi ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah. Sementara IATA (International Air Transport Association) mengatakan, “Aviaton needs incentives balanced with control measure.”

Beberapa analis bahkan mengatakan bahwa “Aviation world will experience setback more than 30 years.” Mereka yang bangkrut Sampai Oktober 2020 tercatat 43 airline yang sudah bangkrut, antara lain Thai Airways, Avianca, Air Mauritius, Virgin Australia, Flybe, City Jet, Atlas Global dan Air Italy. Di Eropa, dari 740 bandara yang beroperasi sebanyak 193 di antaranya telah bangkrut dan tutup.

Sementara, puluhan ribu tenaga kerja di industri penerbangan dunia tengah dalam proses pemutusan hubungan kerja. Beberapa penyebab terpuruknya industri penerbangan adalah protokol kesehatan, pembatasan perjalanan karena kebijakan lockdown sejumlah kota dan negara, turunnya angka perjalanan wisatawan, pelambatan ekonomi, perilaku hidup baru dalam bentuk virtual seperti rapat, pertemuan, seminar, worshop, hingga konferensi internasional. Dunia tengah berada dalam situasi sulit dan tidak menentu. Kalaupun masa sulit ini berhasil dilewati, wajah dunia pun akan berubah bentuk selamanya, termasuk wajah industri penerbangan.

Situasi di Indonesia. Situasi industri penerbangan di Indonesia pun tak ubahnya dengan situasi industri penerbangan dunia. Sebelum pandemi, tercatat ada 1.000 sampai 1.100 penerbangan dalam sehari di bandara Soekarno-Hatta. Belakangan, hanya terdapat 400 hingga 500 penerbangan. Secara nasional, dalam kondisi normal, ada 5.000 hingga 6.000 penerbangan dalam sehari. Sekarang hanya 1.500 sampai 2.000 saja. Sementara, lalu lintas udara di atas Indonesia atau over flying sebelum pandemi tercatat 300 sampai 400 penerbangan per hari. Sekarang hanya 50 hingga 75 penerbangan. Penurunan yang sangat tajam pada lalu lintas udara secara nasional sangat berdampak pada eksistensi maskapai penerbangan.

Sekali lagi, maskapai penerbangan sebagai bisnis di tengah pademi sama sekali tidak menjanjikan keuntungan. Di tengah situasi yang tidak menentu ini, ada sebuah pertanyaan besar: maskapai penerbangan Indonesia justru menjual tiket dengan harga murah lagi. Padahal, penumpang hanya dibatasi maksimal 70 persen dari kapasitas. Namun kelihatannya, ini adalah cara dari maskapai untuk memperoleh dana kas demi modal survival. (*)

Tinggalkan Balasan