Masyarakat Tegas Menolak Reuni 212

Oleh : Abdul Yahya )*

Masyarakat tegas menolak Reuni 212 yang sudah tidak relevan untuk dilaksanakan. Acara tersebut hanya akan memicu gelombang ketiga Covid-19 seiring adanya varian baru virus Corona.

Acara Reuni 212 rupanya mendapatkan penolakan dari aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Muhammad Guntur Romli. Dirinya secara tegas menolak aksi reuni 212 di tempat umum. Sebagai warga Jakarta, dirinya menolak jika reuni 212 digelar di tempat umum. Meski demikian dirinya tidak mengaku keberatan apabila reuni 212 digelar di kediaman pribadi Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta.

Sementara itu Persaudaraan Alumni (PA) 212 mengatakan bahwa Reuni 212 akan dipusatkan di Patung Kuda, Jakarta Pusat dengan dihadiri jutaan umat. Namun rencana tersebut terpaksa membuat punggawa PA 212 gigit jari karena Polda Metro Jaya belum memberikan izin keramaian.

Komisaris Besar E. Zulpan selaku Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya mengatakan izin belum diberikan lantaran pihak panitia belum memenuhi persyaratan administrasi. Salah satunya adalah rekomendasi dari Satgas Covid-19, lantaran pandemi belum berakhir.

Selain itu muncul pula soal rencana digelarnya reuni 212 di Masjid Az Zikra Sentul, Kabupaten Bogor karena dengan segala pertimbangan.Rencana tersebut ditanggapi oleh Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Sunanto atau yang akrab disapa Cak Nanto.

Dirinya mengatakan bahwa, terkait dengan aksi alumni 212 menurutnya adalah hal yang sah-sah saja, karena setiap orang memiliki hak untuk bersuara. Namun Cak Nanto juga mengatakan ada faktor kesehatan umat Islam yang jauh lebih diutamakan, apalagi saat pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

Di sisi lain, Polda Jawa Barat juga belum menerima pengajuan izin dari PA 212 yang hendak menggelar Reuni 212 di Masjid Az-Zikra, Sentul, Kabupaten Bogor. Humas Polda Jawa Barat, Erdi Adrimulan Chaniago mengatakan, pihak Polda Jawa Barat juga masih menunggu kepastian terkait lokasi kegiatan Reuni 212 tersebut. Apakah memang benar akan digelar di Masjid Az Zikra atau tidak.

Pada kesempatan berbeda, reuni ini juga mendapatkan penolakan dari Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Sultan B Najamudin yang meminta agar umat islam alumni aksi 212 mengurungkan niatnya untuk melangsungkan reuni pada 2 Desember nanti.

Hal tersebut disampaikan oleh Sultan mengingat bahwa di dunia tengah terjadi peningkatan angka kasus positif harian dan adanya ledakan varian baru covid-19 jenis Omicron di beberapa negara.

Ia mengatakan bahwa umat Islam Indonesia harus menjadi pioneer dan teladan bagi umat lainnya dalam segala upaya preventif dan pemulihan sosial ekonomi bangsa dari ancaman pandemi Covid-19 yang masih terus bermutasi.

Sultan juga menyampaikan bahwa tingkat kerumunan massa aksi 212 yang berjumlah hingga jutaan peserta tentu saja belum layak untuk bisa diterapkan pada saat ini.

Jangan anggap remeh dengan penyebaran Covid-19. Jangan sampai ada klaster 212, karena hal itu akan merugikan banyak pihak, khususnya mereka yang tengah berjuang menekan angka penularan.

Sultan juga mengingatkan agar umat Islam di Indonesia untuk tidak mudah terprovoakasi dan harus memiliki kesadaran dalam ber-Islam secara wajar, jangan hanya menuruti keinginan sebagian orang yang senang memanfaatkan kekuatan politik umat.

Sebagai umat Islam yang memiliki kepedulian dengan sesama umat, tentu saja kita harus menimbang antara manfaat dan mudharat jika reuni 212 digelar, jangan sampai reuni 212 digelar hanya karena nafsu politis belaka.

Kita juga tidak bisa menutup mata bahwa di Afrika Selatan telah muncul Covid-19 varian baru. Epidemiolog dari Griffifth University of Australia Dicky Budiman menyebutkan bahwa varian baru Omicron telah disebut-sebut 5 kali lebih menular daripada corona asli yakni SARS-Cov-2 yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada 2019 lalu.

Varian yang dikenal sebagai B.1.1.529 kemungkinan besar memiliki kecepatan dalam penularan dan mampu menurunkan kemampuan antibodi dari Infeksi alamiah dan vaksinasi.

PA 212 mestinya sadar bahwa yang menolak tidak hanya dari kalangan Ilmuwan, tetapi juga aktivis Ormas keagamaan, sehingga upaya mengadakan reuni 212 di tengah pandemi justru hanya akan merugikan diri sendiri.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan