Penanganan Pandemi Covid-19 Berjalan Baik Sejalan Dengan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Jakarta — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 melaporkan berbagai indikator yang menunjukkan bahwa penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia per 19 September 2021 telah dilakukan secara efektif dan berdampak optimal.

Penilaian situasi COVID-19 di Jawa-Bali misalnya, sudah mulai mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Kini, hanya tinggal tiga wilayah di pulau Jawa yang berstatus level 4, 82 wilayah level 3, dan 43 wilayah level 2.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersyukur pergerakan ekonomi saat ini sudah mulai membaik. Situasi ini berbanding terbalik dengan masa-masa awal pandemi Covid-19, di mana pertumbuhan ekonomi nasional terperosok ke lubang resesi.

“Ekonomi kita Alhamdulillah mulai kelihatan naiknya. Kita ingat di 2020 ekonomi kita minus 2,19 persen di kuartal IV. Kemudian di kuartal I 2021 kita sudah minus 0,74 persen, artinya ada kenaikan-kenaikan,” ujarnya dalam sesi pengarahan kepada Kepala Kesatuan Wilayah 2021 di Kabupaten Badung, Bali, Jumat (3/12).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun melompat ke angka 7,07 persen pada kuartal II 2021. Itu bisa terjadi lantaran pandemi Covid-19 lebih terkendali, sehingga laju mobilitas pun naik.

Namun, pertumbuhan ekonomi kembali merosot pada kisaran 3,51 persen di kuartal III 2021, karena pemerintah kala itu menerapkan kebijakan PPKM Darurat akibat penyebaran varian delta yang mengganas.

Oleh karenanya, Jokowi menekankan pengendalian Covid-19 jadi kunci utama agar ekonomi bisa lanjut bergerak naik hingga 2022 mendatang.

“Kita harapkan di kuartal IV (2021) ini hitungan (pertumbuhan ekonomi) kita antara 4,5-5,5 persen, dan kita harapkan itu bisa tercapai,” kata Jokowi.

“Kalau pengendaliannya masih seperti ini, di 2022 inilah kebangkitan ekonomi akan kelihatan. Asalkan kondisi situasi seperti yang kita hadapi sekarang ini,” tegas dia.

Untuk tahun depan, pertumbuhan ekonomi nasional akan banyak bertumpu pada pemasukan investasi. Secara porsi, itu jauh lebih besar dari belanja pemerintah atau APBN yang hanya berdampak antara 18-15 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Motor penggerak dari pertumbuhan ekonomi adalah investasi. Tahun ini target Rp 900 triliun, tahun 2022 targetnya 1.200 triliun. Karena kunci kita disini bukan di APBN,” pungkas Jokowi. (*)

Tinggalkan Balasan