Mahasiswa Berperan Penting Tangkal Radikalisme

Oleh : Abdul Karim )*

Mahasiswa memiliki peran penting untuk menangkal radikalisme. Dengan keterlibatan mahasiswa, maka penyebaran radikalisme dapat ditekan secara maksimal. 

Mahasiswa adalah agent of change yang diharap bisa membuat perubahan ke arah yang positif. Gerakan mahasiswa sudah dikenal sejak era orde lama, bahkan di masa perang kemerdekaan. Para mahasiswa juga berperan penting di era reformasi dengan berdemo dan mengganti orde baru menjadi orde reformasi. 

Di masa sekarang, peran mahasiswa menjadi lebih penting lagi. Mereka tidak hanya pergi ke kampus untuk belajar, tetapi juga belajar berorganisasi dan bekerja sosial, juga mendukung program-program pemerintah. Salah satu misi penting mahasiswa adalah menangkal radikalisme agar tidak meluas di Indonesia, karena paham itu bisa menggerogoti negara dari dalam.

Muryanto Amir, Rektor Universitas Sumatera Utara mengajak para mahasiswa untuk menangkal radikalisme, terutama di lingkungan kampus. Peran serta mahasiswa sangat penting dalam menangkal radikalisme. Posisi mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan tinggi rawan terkena radikalisme, karena sedang mencari jati diri.

Oleh karena itu Muryanto Amir mendukung moderasi beragama digaungkan di kampus untuk menangkal radikalisme. Dengan moderasi beragama maka akan mencegah ekstrimisme yang berujung pada radikalisme dan terorisme. Mahasiswa juga bisa turut mempromosikan moderasi beragama sebagai cara untuk menangkal radikalisme.

Peran mahasiswa dalam menangkal radikalisme bisa dilakukan dengan beberapa cara. Pertama dengan mengamati lingkungan sekitarnya. Jangan remehkan pengamatan karena jika jeli, sang mahasiswa bisa mencegah teman sekelas atau sekosnya untuk terseret arus radikalisme, karena rata-rata yang direkrut adalah yang tampak kesepian.

Mahasiswa juga bisa mengamati di lingkungan kampus, apakah gedung unit kegiatan mahasiswa benar-benar digunakan untuk belajar berorganisasi atau malah disalahgunakan jadi ajang penyebaran radikalisme? Penyebabnya karena bisa jadi ada salah satu anggota kelompok radikal yang menyusup lalu berpromosi di sana. Jika memang ada, maka bisa dilaporkan agar ada peneguran keras dari pihak kampus.

Laporan mahasiswa ini amat penting karena bisa jadi yang menyusup ke ruangan unit kegiatan mahasiswa adalah buronan teroris yang menyamar. Jika ia terciduk maka bisa dilanjutkan ke pihak kepolisian dan ada proses hukum yang berlaku. Oleh karena itu mahasiswa tidak boleh cuek-bebek, melainkan harus teliti di manapun ia berada.

Peran lain mahasiswa dalam menangani radikalisme bisa dilakukan di media sosial. Misalnya jika ada akun instagram atau facebook yang ternyata bermuatan radikal, bisa langsung dilaporkan agar akunnya ditutup paksa oleh pihak mengelola media sosial tersebut. Dengan begitu ia juga mencegah agar tidak ada lagi orang yang tercemari oleh radikalisme di dunia maya.

Sebaliknya, mahasiswa bisa men-share atau memviralkan berita positif untuk menangkal radikalisme. Misalnya berita tentang pengenalan moderasi beragama, saling toleransi, menghargai, dan tepo seliro, dll. Dengan begitu maka netizen akan membaca berita tersebut dan sadar bahwa perdamaian lebih penting daripada pepecahan yang dibawa oleh radikalisme.

Mahasiswa juga selalu mempromosikan di lingkungan kampus dan keluarganya bahwa radikalisme sangat berbahaya. Negeri khilafah hanya khayalan di siang bolong karena tidak cocok jika diberlakukan di Indonesia yang masyarakatnya majemuk.

Mahasiswa bisa berperan penting dalam menangkal radikalisme, baik di kampus maupun di lingkungan lain. Ia adalah agen perubahan, oleh sebab itu tidak boleh cuek, tetapi berusaha agar teliti dan turut memberantas radikalisme, meski di lingkungan terkecil sekalipun. Radikalisme harus dihapuskan di Indonesia agar tidak menghancurkan negara  ini.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan