Mewaspadai Penyebaran Radikalisme di Kalangan Pelajar

Oleh : Muhammad Iqbal )*

Radikalisme masih menjadi ancaman bersama karena paham tersebut bisa menyasar semua orang, tidak terkecuali kalangan pelajar. Masyarakat diharapkan selalu waspada dan bersama-sama menangkal paham terlarang tersebut demi melindungi generasi muda yang merupakan penerus bangsa.

Radikalisme adalah PR besar pemerintah yang masih harus digarap agar tidak merusak masa depan Indonesia. Untuk memberantas radikalisme maka diperlukan kerja sama dari berbagai elemen masyarakat. Penyebabnya karena radikalisme sudah masuk hampir ke semua lini, termasuk ke kalangan pelajar.

Amatlah miris jika para pelajar terseret arus radikalisme karena masa depan Indonesia ada di pundak mereka. Jangan sampai kaum milenial berubah jadi kader muda teroris yang di pikirannya hanya jihad dan khilafah.

H.Jamzuri, Plt Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun menyatakan, “Jauhi paham radikalisme. Anak-anak muda terpengaruh paham radikal karena radikalisme bukan hanya merusak kehidupan berbangsa dan bernegara tetapi juga merusak kehidupan pelajar. Apalagi radikalisme sudah masuk ke media sosial dengan sasaran anak-anak muda.”

Dalam artian, beliau sudah memahami modus kelompok radikal yang masuk ke media sosial karena banyak anak muda yang suka chatting dan nongkrong di sana. Jika dibiarkan saja maka akan berbahaya karena makin banyak pelajar yang dijaring oleh kelompok radikal dan teroris.

Jangan sampai masa depan anak-anak muda jadi rusak karena mereka jadi jihadis, padahal jihad yang sebenarnya bukan seperti itu. Jihad yang benar adalah menai nafkah untuk keluarga, bukannya berperang hanya karena perbedaan keyakinan dan ideologi. Jika jihad malah membunuh orang lain karena faktor kebencian maka itu salah besar karena merupakan kasus kriminal dan pelakunya harus dipenjara.

Untuk mencegah para pelajar terperosok dalam radikalisme maka ada beberapa cara yang bisa ditempuh. Semua pihak mulai dari sekolah hingga keluarga harus bekerja sama agar pelajar aman tanpa tergoda oleh kelompok radikal. Semua wajib berkolaborasi karena jika diabaikan, akan merusak masa depan para pelajar tersebut.

Dari pihak sekolah, perlu ada pelajaran anti radikalisme sehingga para pelajar tahu apa pengertian radikalisme dan juga bahayanya. Jika ada penjelasan dari para guru maka mereka paham bahwa teroris itu jahat dan radikalisme merusak bangsa karena mereka ingin menghapus pancasila dan UUD 145 serta ingin mendirikan negara khilafah.

Pengetahuan tentang radikalisme bisa diselipkan di mata pelajaran sejarah dan agama. Guru sejarah bisa menjelaskan bahwa para anggota kelompok radikal tidak pernah berjuang di era pra kemerdekaan sehingga amat salah jika mereka ingin membuat negara khilafah. Padahal Indonesia sudah sepakat jadi negara demokrasi.

Para orang tua juga tidak boleh mengabaikan anak-anaknya. Dalam artian, aktivitas di media sosial juga perlu diawasi sesekali. Jangan sampai diam-diam mereka jadi kader teroris gara-gara tahu radikalisme dari dunia maya. Beri pengertian bahwa hal itu salah dan tidak boleh kena radikalisme dan terorisme.

Peran orang tua juga sangat penting karena sebuah keluarga yang hangat harus punya keterbukaan. Jangan sampai anak-anak cari pelarian di luar sana dan malah kena rayu dari kelompok radikal. Jika ia berasal dari keluarga harmonis maka tidak akan terseret oleh arus radikalisme yang mengerikan.

Kita harus makin waspada karena radikalisme sudah ada di kalangan pelajar. Rata-rata mereka tahu dari sosial media. Oleh karena itu para pelajar hendaknya diberi pengetahuan tentang radikalisme agar mereka tidak terpengaruh, saking lugunya. Orang tua juga wajib mengawasi anaknya agar tidak terseret oleh bahaya radikalisme dan terorisme di luar sana.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan