Mewaspadai Penyusup Demonstrasi Mahasiswa

Oleh : Kenia Putri )*

Dalam berbagai kesempatan, aksi demonstrasi mahasiswa seringkali ditunggangi oleh penyusup yang berujung pada aksi anarkis, sehingga hal tersebut perlu menjadi suatu kewaspadaan bersama. Mahasiswa pun diminta untuk bersikap rasional serta membatalkan rencana aksinya pada 21 April 2022.

Seperti diketahui, para mahasiswa berencana akan melakukan aksi unjuk rasa lagi pada 21 April 2022 nanti, padahal sebelumnya mereka sudah berdemo tanggal 11 April 2022 lalu, di depan Gedung MPR, Senayan, Jakarta. Seakan-akan mereka tidak kapok untuk berunjuk rasa di tengah bulan Ramadhan. Demo yang kemarin saja sudah mendapat kritik karena diadakan di tengah pandemi, sehingga melanggar berbagai protokol kesehatan seperti menjaga jarak dan banyak memakai masker. Selain itu, demonstrasi juga terbukti mengganggu kondusivitas bulan Ramadhan karena aksi mahasiswa banyak diwarnai oleh beragam poster “nyeleneh”, ujaran kebencian, hingga tindakan kekerasan antar sesama pendemo.

Berkaca dari demo 11 April 2022 lalu, terbukti ada banyak penyusup yang memiliki tujuan untuk memprovokasi mahasiswa. Hal ini patut diwaspadai karena bisa jadi mereka akan datang lagi dan mengacaukan suasana pada demonstrasi 21 April 2022 nanti. Para penyusup amat bangga karena bisa ada di tengah aksi unjuk rasa dan menyebarkan kertas berisi propaganda yang ternyata dibuat oleh organisasi terlarang.

Padahal organisasi terlarang itu sudah dibubarkan oleh pemerintah sejak beberapa tahun lalu, tetapi mereka memanfaatkan kesempatan dalam aksi unjuk rasa tersebut, mumpung para mahasiswa sedang terbakar amarahnya. Ketika emosi, manusia tidak bisa memakai logikanya dan mudah disetir begitu saja. Demo mendatang bisa jadi semakin berbahaya karena adanya  provokasi dari organisasi terlarang tersebut.

Politisi Grace Natalie menyatakan bahwa ia mendapatkan informasi bahwa penyusup saat demo tanggal 11 April 2022 kemarin adalah anggota organisasi terlarang. Selain itu juga ada tangkapan layar (screenshot) yang berisi chat untuk mengajak para pendemo melakukan aksi kekerasan terhadap Ade Armando.

Ditenggarai para penyusup tersebut sengaja datang untuk membangkitkan amarah mahasiswa, juga untuk memukuli Ade Armando yang datang di tengah-tengah aksi demo. Ade Armando dianggap musuh karena seringkali mengkritik organisasi terlarang dan para pemimpinnya. Naasnya ia diamuk pendemo bahkan nyaris dilucuti, sampai harus dirawat di Rumah Sakit selama beberapa hari.

Bukti lain bahwa penyusup saat demo datang dari Ormas terlarang adalah penangkapan dua orang pendemo yang ketahuan menyerang polisi lalu lintas (Polantas). Saat diperiksa, ternyata mereka adalah mantan kader organisasi terlarang.

Kita juga harus mewaspadai penyusup yang sengaja membuat tindakan anarki saat demo. Mereka masuk ke dalam gelanggang unjuk rasa dan membuat kerusuhan, seperti membakar ban bekas dan merusak fasilitas umum. Penyusup yang dikenal dengan sebutan anarko ini sudah hadir saat demo 11 April 2022 lalu dan dikhawatirkan datang lagi pada demo 21 April mendatang.

Seharusnya mahasiswa bertindak tegas dan tidak mau disusupi, baik oleh anarko maupun anggota kelompok terlarang. Penyebabnya karena mereka hanya bikin rusuh dan membuat berbagai kerugian yang akhirnya harus ditanggung oleh pemerintah. Apalagi saat ini sudah jelas bulan puasa sehingga harus dihormati kesuciannya. Malah dikotori oleh demo yang disusupi provokator, anarko, dan pihak lain yang memiliki kepentingan politik.

Oleh karena itu demo tanggal 21 April  2022 mendatang sebaiknya dibatalkan saja. Penyebabnya karena unjuk rasa tersebut dikhawatirkan akan disusupi, baik oleh anarko maupun ormas terlarang, juga dari lawan politik yang sengaja menggunakan mahasiswa sebagai pion. Jangan sampai demo malah berakhir dengan tangisan karena keganasan mereka sendiri.

Masyarakat wajib mewaspadai demo yang akan dilakukan oleh para mahasiswa pada tanggal 21 April 2022. Unjuk rasa itu juga telah melenceng dari substansinya karena telah berubah menjadi ruang kekerasan antar sesama anak bangsa. Mahasiswa diharapkan dapat berpikir ulang dan membatalkan demonstrasi tersebut.  

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Tinggalkan Balasan