Benny Wenda Aktor Dibalik Tindakan Kekerasan Kelompok Separatis Papua

Ilustrasi anggota kelompok separatis

suaratimur.id – Sebuah pengakuan diceritakan oleh mantan anggota Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua saat dirinya masih aktif menjadi bagian dari kelompok tersebut. Sejauh pengetahuan publik, kabar dan keberadaan kelompok separatis hanya terdengar ketika mereka melakukan gangguan keamanan ataupun aksi kekerasan terhadap aparat maupun warga sipil. Dibalik itu semua terdapat fakta mengenai kondisi mereka saat melakukan pergerakan yang sebagian besar berada di wilayah hutan.

Adalah Delison Telenggen, seorang mantan anggota KST Papua yang saat ini telah keluar dan memutuskan untuk hidup bahagia bersama keluarganya di kampung halamannya di Pori Kampung Tarpajo. Ia memutuskan untuk meninggalkan teman-temannya karena merasa sudah tidak tahan hidup serba susah, jauh dari rasa nyaman, aman, serta cenderung dikendalikan. Karena sesama bermarga Telenggen, Delison kerap disebut sebagai salah satu keluarga Numbuk Telenggen. Seorang tokoh kelompok separatis yang paling dicari aparat karena terlibat dalam sejumlah aksi yang merenggut nyawa.

Untuk diketahui, kelompok separatis pimpinan Numbuk Telenggen baru saja melakukan penembakan terhadap seorang warga sipil berumur 45 tahun bernama Samsul Sattu di wilayah Ilaga Kabupaten Puncak pada Senin 25 April 2022. Penembakan tersebut disinyalir merupakan aksi balasan atas meninggalnya pimpinan kelompok separatis lainnya Bernama Lucky Murib dan dua anggotanya beberapa hari sebelumnya. Adanya kejadian tersebut langsung mendapat sorotan dari Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua dan Papua Barat, Frits Ramandey, bahwa terror dan kekerasan dari kelompok separatis Papua yang dilakukan secara terus menerus tak akan pernah mendapat simpati dari publik.

Kelompok yang Hidup Serba Kekurangan

Dibalik setiap aksi kekerasan kelompok separatis Papua yang ditunjukkan ke publik, Delison Telenggen merasa prihatin dan tak tahan dengan sikap dan kondisi yang mereka alami, terlebih tindakan kejam yang dilakukan terhadap masyarakat sipil maupun aparat TNI-Polri.   

Dalam cerita pengakuannya, ia menuturkan bahwa tak pernah merasakan aman ataupun nyaman selama bergabung dalam kelompok tersebut. Sebab setiap saat mereka harus bergerak untuk menyerang, menghindar, berlari dan sembunyi dari kejaran aparat keamanan. Kesulitan lainnya adalah persediaan makanan yang sangat kurang. Makanan harus diatur supaya persediaan tetap ada. Bahkan untuk menjaga persediaan makanan tetap ada, pola makan anggota kelompok separatis harus diatur, tentunya jauh dari kata ideal. Sudah sangat bersyukur bila ada yang bisa dimakan dalam sehari, jika tidak, sejak pagi hingga malam tiba, tak ada makanan yang bisa mengganjal perut. Terlebih, pergi berbelanja adalah hal yang susah, sebab semua pintu keluar telah disekat oleh pasukan TNI-Polri.

Jika mendapat penyisiran atau penyerangan dari aparat TNI-Polri, tak jarang para anggota kelompok separatis bersembunyi di lubang hingga gua-gua. Dalam situasi demikian para anggota kelompok separatis dipaksa harus bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Meski perut lapar, badan lelah, namun tak ada cara lain kecuali mengikuti pergerakan kelompok separatis, mengikuti perintah pimpinan.

Dikendalikan Orang Kepercayaan Benny Wenda

Tersebutlah nama Puron Wenda, seseorang yang memimpin para anggota kelompok separatis selama bergerilya di hutan. Ia merupakan salah satu orang kepercayaan Benny Wenda yang belum lama ini mengklaim sebagai Presiden Sementara Papua Barat. Menurut pengakuan Delison, seperti halnya setiap pemimpin di kelompok separatis, Puron Wenda juga tegas dalam memimpin pasukan.

Setiap pergerakan harus sesuai target. Jika targetnya penyerangan Pos TNI, maka harus dilaksanakan. Jika targetnya adalah menembak anggota TNI-Polri, maka mutlak dilaksanakan. Begitu pula Ketika yang disasar adalah warga sipil, maka harus bergerak menyasar yang harusnya diincar. Sungguh hal miris yang seharusnya tak dilakukan.

Merasa Tak Tahan Lantas Memutuskan Keluar

Dalam keadaan yang serba kekurangan tersebut, perlahan namun pasti ia menjauhi keberadaan teman-temannya di kelompok separatis. Keputusannya tersebut tak disampaikan kepada Puroin Wenda atau sesama anggotanya. Ia merahasiakannya sambal menunggu waktu yang tepat untuk berjalan pulang ke tanah kelahirannya di Pori. Ia perlahan menjauh dengan alasan mencari makan atau alasan lainnya. Sejak itu, Delison berjalan sendiri hingga akhirnya menyerahkan diri kepada aparat keamanan.

Dalam keterangannya terhadap pihak kepolisian, ia menceritakan bahwa meski setiap hari nyawa menjadi taruhannya, namun keselamatan anggota kelompok separatis tak pernah diperhatikan.

Jika sampai sekarang anggota kelompok separatis masih selamat dari incaran TNI-Polri, itu semua karena kemahiran sang anggota. Sebab, pimpinan kelompok separatis tak memperhatikan sama sekali perihal hal keselamatan tersebut. Yang diperhatikan pimpinan hanyalah berperang dan menghindar. Pasalnya, hanya itulah cara terbaik untuk selamat dari terjangan peluru TNI-Polri, selamat dari incaran aparat keamanan.

Seperti yang telah ramai diberitakan sebelumnya, personel Satgas Operasi Damai Cartenz Kembali melumpuhkan anggota kelompok separatis dalam kontak tembak yang terjadi di sekitar jembatan Ilame, Kampung Erogama, Distrik Omukia, Kabupaten Puncak, Papua, Sabtu 23 April 2022. Berdasarkan keterangan dari Direskrimum Polda Papua, Kombes Faizal Ramadhani, mengatakan terdapat dua tokoh kelompok separatis papua meninggal dunia dalam penindakan tersebut. Kedua anggota yang tewas diketahui bernama Lucky Murib dan Badaki Kogoya.

Angkat Senjata dan Kekerasan Bukan Solusi untuk Papua Damai

Maraknya aksi gangguan keamanan maupun penyerangan yang dilakukan oleh kelompok separatis untuk menunjukkan eksistensinya, terlebih hingga menimbulkan korban menimbulkan respon dan keprihatinan dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Anggota Komisi I DPR RI Yan Permenas Mandenas. Ia berpendapat bahwa aksi kekerasan yang sering dilakukan kelompok separatis bukanlah solusi. Selama kelompok separatis menggunakan cara kekerasan dalam memperjuangkan aspirasinya, hingga kiamat pun Papua tidak akan damai.

Ia menyarankan agar kelompok separatis tidak lagi menggunakan senjata untuk menyampaikan aspirasi karena menimbulkan banyak kerugian, melainkan melalui jalur komunikasi. Bumi Cenderawasih tidak akan damai apabila cara kekerasan terus menerus dilakukan. Pasukan TNI yang berstatus Bawah Kendali Operasi (BKO) di Papua tidak akan berhenti didatangkan selagi kelompok separatis masih terus melakukan aksi teror. Saat ini sudah ada langkah persuasif yang dilakukan oleh aparat gabungan untuk menghindari kekerasan verbal, yakni melalui pendekatan teritorial. Aparat lebih mementingkan bagaimana memberikan kesejahteraan melalui berbagai program kemasyarakatan.

Kekerasan tak hanya berdampak buruk menimbulkan korban, namun berpengaruh pada pembangunan yang berjalan lambat tidak sebagaimana mestinya, dimana hal tersebut berdampak pada kesejahteraan rakyat. Bisa dipastikan, orang-orang yang mendukung keberadaan kelompok separatis hanyalah yang memiliki kepentingan tertentu, atau yang takut karena ancaman kekerasan kelompok yang berkeinginan merdeka tersebut. Jangan bermimpi merdeka, jika menghidupi makan anggotanya saja serba kekurangan. Tidakkah kita semua merindukan Papua damai tanpa adanya berita penembakan dan penyerangan lagi?

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Tinggalkan Balasan