Tidak Ada Kedamaian bagi Papua selama Masih Ada KSTP

Rentetan Aksi Biadab KSTP Sengsarakan Masyarakat Papua

suaratimur.id – Aksi teror yang dilakukan oleh Kelompok Separatis Teroris Papua (KSTP) masih terus terjadi. Tiap pekan, bahkan hampir tiap hari, KSTP melakukan serangan bukan hanya kepada pasukan TNI-Polri namun juga kepada masyarakat sipil. Terbaru, KSTP lepaskan tembakan di Gereja Protestan Okbibab, Distrik Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, pada Minggu (1/5), dan menyebabkan luka tembak bagi satu personel Polri dan satu personel TNI yang sedang melakukan pengamanan rumah ibadah saat insiden tersebut.

Sebelumnya, dalam kurun waktu yang tidak berjauhan, KSTP melakukan penghadangan dan penembakan terhadap personel Satgas Kodim Yonif R 408/SBH di depan Kantor Kampung Kimak, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, pada Sabtu (30/4) sehingga menyebabkan dua anggota Satgas Kodim Yonif R 408/SBH mengalami luka tembak. Selain itu, KSTP pimpinan Numbuk Telenggen juga menembak seorang warga bernama Samsul Sattu di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, pada Senin (25/4).

Sudah sepatutnya rentetan aksi biadab KSTP tersebut mendapat kecaman dari semua pihak. Keberadaan KSTP sama sekali tidak memberikan manfaat bagi perkembangan Papua, yang ada justru menghambat pembangunan yang sedang digencarkan oleh pemerintah dan membuat masyarakat Papua hidup dengan ketakutan.

Teror KSTP Menyedihkan dan Menyengsarakan

Anggota DPR RI, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, menyatakan dirinya secara pribadi merasa sedih atas perilaku gerakan KSTP yang melakukan teror kepada aparat hukum dan masyarakat setempat. Menurutnya, KSTP seharusnya mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo yang membangun infrastruktur luar biasa di Papua. Perhatian pemerintahan Presiden Jokowi cukup besar terhadap pembangunan infrastruktur Papua, seperti jalan tol, bandara, waduk, kesehatan hingga pendidikan dan lainya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Pembangunan infrastruktur itu dipastikan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dengan daerah lainnya.

Sementara itu, ulama kharismatik Kabupaten Lebak yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Banten, KH Hasan Basri, menegaskan pemberontakan kepada pemerintah yang sah dalam ilmu fiqih disebut ‘bughot’, hukumnya haram karena dapat menimbulkan kemudaratan dan kesengsaraan. Gerakan KSTP tentu secara jelas ingin memisahkan diri dari NKRI, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap anggota TNI, Polri dan masyarakat.

‘Bughot’ tidak memberikan kemaslahatan kepada umat manusia, sehingga perlu diperangi. Diharapkan semua komponen masyarakat agar mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang telah menjadi hasil perjuangan para alim ulama serta para pejuang lainnya dalam meraih kemerdekaan dari penjajah. Serta menghindari segala bentuk provokasi dan tidak terpancing untuk melakukan aksi inkonstitusional terlebih mengarah pada ‘bughot’.

Aksi KSTP Bukan Solusi bagi Papua

Anggota DPR asal Papua, Yan Permenas Mandenas, menegaskan bahwa aksi kekerasan yang kerap dilakukan KSTP bukanlah solusi bagi Papua, apalagi dengan tujuan ingin merdeka. Untuk itu, dirinya meminta agar KSTP menggunakan jalur komunikasi untuk menyampaikan aspirasi, dan tidak lagi menggunakan kekerasan dan senjata karena menimbulkan banyak kerugian.

Yan Permenas melanjutkan, Papua tidak akan damai sampai kapan pun apabila cara kekerasan terus-menerus dilakukan. Di samping itu, pasukan TNI di Papua tidak akan berhenti didatangkan selagi KSTP masih terus melakukan aksi teror. Namun, saat ini sudah ada langkah persuasif yang dilakukan oleh aparat gabungan untuk menghindari kekerasan verbal, yakni melalui pendekatan teritorial yang lebih mementingkan bagaimana untuk memberikan kesejahteraan melalui berbagai program kemasyarakatan.

Melihat hal ini, tentu mengundang sebuah keprihatinan sekaligus kecaman atas insiden ulah KSTP yang membuat warga sipil tak berdaya turut menjadi korban. Masyarakat Papua inginkan KSTP menghentikan aksinya agar bisa menikmati pembangunan serta kesejahteraan seperti daerah lainnya. Jelas bahwa teror dan kekerasan KSTP yang terus-menerus tak akan mendapat simpati dari publik.

__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)

Tinggalkan Balasan