Kelompok Separatis Membalas Dendam Kematian Lesmin Walker dengan Menyerang dan Menghilangkan Sopir Truk di Puncak Papua

Ilustrasi Kelompok Separatis Papua Balas Dendam

suaratimur.id – Sebuah pola berulang kembali ditunjukkan oleh kelompok separatis Papua sebagai bagian dari eksistensi sekaligus teror kepada pihak manapun yang dirasa menghalangi jalan dan tujuannya. Sayangnya, pola berulang berupa tindakan balas dendam tersebut sering menyasar kepada warga sipil, terutama kepada pendatang.

Untuk diketahui, bahwa melalui sejumlah pemberitaan pada tanggal 10 Mei 2022 lalu aparat TNI-Polri telah berhasil menembak komandan operasi kelompok separatis dan teroris Papua bernama Lesmin Walker. Ia disebut sebagai komandan operasi yang paling diandalkan dan merupakan bagian dari kelompok Panglima Lekagak Telenggen. Lesmin menemui ajal ketika tempat persembunyiannya di Wulomi disergap oleh aparat TNI-Polri. Akibat penyergapan tersebut, kini Lekagak Telenggen juga harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran dari aparat TNI-Polri. Semasa hidupnya, Lesmin termasuk paling diincar karena terlibat dalam sejumlah tindakan kriminal. Salah satunya adalah menembak mati aparat Brimob bernama Prada I Komang Wiranata pada akhir April 2022 dalam serangan ke pos keamanan di Puncak Jaya. Kini, tewasnya anak buah Lekagak tersebut diperkirakan semakin melemahkan kekuatan militan separatis Papua.

Seorang Sopir Truk di Puncak Hilang

Namun, hanya berselang satu hari dari kejadian tewasnya Lesmin Walker, publik kembali dikejutkan dengan adanya berita hilangnya seorang sopir truk di Puncak. Sopir yang diketahui bernama Nober Palintin tersebut diduga kuat menjadi korban penembakan Kelompok Separatis pada Rabu 11 Mei sekitar pukul 10:30 WIT di Kali Ilame, Kampung Wako, Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Papua. Korban dinyatakan hilang setelah sebelumnya diketahui sedang mencari material pasir kemudian terdengar suara tembakan sebanyak total 7 kali. Saat aparat datang dan melakukan penyisiran hanya ditemukan truk yang dibawa korban. Hingga saat ini aparat masih melalukan penyisiran mencari keberadaan korban.

Dalam keterangannya, Diresktimum Polda Papua, Kombes Faizal Rahmadani menduga kuat bahwa pelaku merupakan bagian dari kelompok Selena, bukan kelompok Numbuk Telenggen. Hingga saat ini, Tindakan biadab terus dilakukan oleh kelompok separatis terutama kepada warga sipil. Sebelumnya, kelompok separatis di Kabupaten Puncak telah menembak mati seorang pria bernama Samsul Sattu pada 25 April 2021 lalu dengan luka di bagian rusuk sebelah kanan saat sedang berada di teas rumahnya. Dari hasil identifikasi kepolisian, pelaku penembakan merupakan kelompok separatis pimpinan Numbuk Telenggen.  

Pola Balas Dendam Kelompok Separatis yang Berulang

Setiap akibat merupakan sebab dari akibat sebelumnya. Pola tersebut seperti lingkaran setan yang tak pernah habis menemui titik akhir. Hampir dipastikan bahwa sebagian besar tindakan kejahatan yang dilakukan kelompok separatis Papua selalu berkaitan dengan sebab yang dialami sebelumnya. Setiap adanya bagian dari kelompok tersebut yang terluka atau tertembak, berbuntut dengan kejadian penyerangan yang dilakukan di kemudian hari. Mirisnya, sebagian menyasar pada warga sipil yang tidak tahu menahu akar masalahnya.

Dalam kurun waktu sepanjang Januari-Maret 2022, tercatat kelompok separatis Papua telah melakukan tujuh kali tindak pidana dengan korban tewas sebanyak 13 orang. Terakhir, Rabu 17 April 2022 lalu, prajurit TNI di Pos TK Quari Atas Yonif R 431/SSP Distrik Kenyam berhasil menggagalkan upaya aksi kekerasan dari kelomppk separatis di Kabupaten Nduga, Papua.

Pengamat kebijakan Publik, Jerry Massie mendorong persoalan di Papua diselesaikan dengan cara humanis. Pasalnya, jika dilakukan dengan cara sporadis dan bersenjata, maka sorotan pelanggaran HAM di Papua terus terjadi. Perlu pendekatan dan lobi agar situasi dan kondisi di Papua stabil, aman, dan kondusif. Pendekatan melalui aspek budaya bisa dilakukan melalui para kepala suku dan tokoh agam untuk membantu sosialisasi. Pemerintah harus mengevaluasi dan mengkaji kembali mengapa terjadi gejolak dan pergolakan di Papua.

Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua dan Papua Barat, Frits Ramandey juga memiliki penilaian bahwa saat ini Tentara Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) terfragmentasi menjadi tiga kelompok besar, yaitu kelompok sipil bersenjata, kelompok yang dipelihara oleh korporasi, dan kelompok yang berjuang untuk suksesi politik. TPN OPM sebelumya tidak menyerang guru, mantrim bahkan melindungi sekolah dan rumah sakit. Namun, saat ini gerakannya memiliki pola baru yang menyasar warga sipil.

Setiap adanya penembakan yang menewaskan warga sipil oleh kelompok separatis merupakan aksi balasan apabila mendapat tekanan dari aparat keamanan. Demikian juga bila terdapat anggota kelompok tersebut yang tewas usai adanya operasi penegakan hukum oleh aparat. Mereka akan mencari sasaran kalau bukan anggota aparat maka warga sipil dan sedikit menyasar non-Papua. Kelompok separatis disebut memiliki masalah dimana jika anggota mereka dibunuh namun tidak membalas, maka akan terkena sanksi. Pola yang mengarah ke hubungan adat tersebut yang kini digunakan oleh kelompok separatis Papua.

Memutus Pola Balas Dendam

Berangkat dari adanya setiap kejadian yang telah terbaca polanya namun masih saja terdapat letupan penyerangan yang dilakukan oleh kelompok separatis Papua. Menjadi momentum bagi aparat hingga pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi kebijakan dan strategi yang digunakan dalam penyelesaian permasalahan Papua. Kita tentu tidak berharap adanya korban dari pihak manapun yang berjatuhan. Tanah Papua damai menjadi harapan kita semua. sa ja ko, ko jaga sa

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Tinggalkan Balasan