Pembentukan DOB Papua Meningkatkan Pelayanan Kepada Masyarakat

Tak Sesuai Penyampaian MRP, Mayoritas Masyarakat Papua Ternyata Dukung DOB

Oleh : Alfred Jigibalom )*

Masyarakat diminta untuk menerima pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua yang saat ini terus diupayakan Pemerintah. Pembentukan DOB Papua diyakini akan memperpendek rentang birokrasi, meningkatkan pelayanan masyarakat, dan mempercepat kemajuan Papua.

Di Papua hanya ada 2 provinsi padahal wilayahnya jauh lebih luas daripada Jawa, sehingga masalah geografis malah menyulitkan pengaturan program-program pemerintah. Untuk itu maka masyarakat meminta penambahan daerah otonomi baru. Pemerintah pun mengakomodir aspirasi tersebut karena sebentar lagi akan ada 3 provinsi baru, yakni Papua Tengah, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan Tengah dan RUU-nya akan disahkan.

Yan Permenas Mardenas, Anggota DPR RI dari Papua menyatakan bahwa seluruh elemen masyarakat Papua, baik warga sipil maupun elite politik yang berada di Papua atau luar Papua untuk mendukung daerah otonomi baru. Provinsi baru akan membawa kemakmuran dan demi masa depan Bumi Cendrawasih. Oleh karena itu masyarakat diminta menerima saja 3 RUU pemekaran wilayah, daripada ikut demo yang ada di luar sana.

Pembentukan provinsi baru memang disetujui oleh masyarakat Papua, tetapi ada oknum yang belum memahami dan menghasut warga agar berdemo. Ditengarai oknum tersebut adalah anggota KST (kelompok separatis dan teroris) yang memang membenci program-program pemerintah, termasuk pemekaran wilayah.

Padahal rakyat Papua sendiri yang meminta pemekaran wilayah dan beberapa waktu lalu perwakilan masyarakat Papua beraudensi langsung dengan Presiden Jokowi untuk menyampaikannya. Penambahan DOB juga merupakan perjuangan selama 20 tahun. Setelah ada provinsi Papua Barat maka dirasa butuh provinsi lagi, karena wilayah Bumi Cendrawasih terlalu luas jika hanya ada 2 provinsi.

Oleh karena itu masyarakat memang tidak boleh terprovokasi oleh selentingan panas di luar sana. Tidak usahlah berdemo, apalagi hanya ikut-ikutan dan tidak tahu apa masalah yang sebenarnya. Pemekaran wilayah jelas membawa manfaat karena dana APBD bertambah dan dimanfaatkan untuk fasilitas masyarakat Papua. Tidak mungkin pemekaran akan merugikan karena masyarakat asli Papua sendiri yang memintanya.

Provokasi dari oknum untuk berdemo menentang penambahan DOB memang disengaja dan mereka suka jika masyarakat terpecah-belah. Jangan sampai warga Papua terbagi jadi 2 kubu karena perpecahan akan membawa banyak kerugian. Yakinlah bahwa pemekaran wilayah akan baik bagi masa depan Bumi Cendrawasih dan provokasi dari oknum hanyalah angin lalu.

Yan Permenas melanjutkan, ketiga RUU DOB merupakan perhatian pemerintah terhadap masyarakat Papua. Pemerintah juga telah melanjutkan otonomi khusus (Otsus) sebagai bukti bahwa Papua masih diperhatikan.

Pada masa pemerintahan Presiden Jokowi, Papua memang sangat diperhatikan, dan beliau tercatat sebagai Presiden yang paling sering mengunjungi wilayah Bumi Cendrawasih. Presiden Jokowi memantau langsung keadaan rakyat di sana. Masyarakat juga langsung curhat dan meminta ini-itu kepada beliau, termasuk pemekaran wilayah.

Sudah jelas bahwa pemekaran wilayah demi masa depan Papua karena jika ada banyak provinsi maka banyak pula fasilitas yang akan dibangun, seperti sekolah dan fasilitas umum lain. Nantinya anak-anak Papua akan belajar lebih semangat karena bisa sekolah sampai SMA tanpa jauh-jauh berjalan ke kabupaten lain. Apalagi mereka mendapatkan beasiswa Otsus sehingga bisa belajar tanpa mengkhawatirkan biayanya.

Pemekaran wilayah jelas demi kemajuan Papua dan bukannya pemaksaan program dari pemerintah pusat. Masyarakat wajib memahaminya dan melihat jauh ke belakang, serta melihat perjuangan untuk mendapatkan provinsi baru. Jangan malah berdemo seenaknya sendiri dan terkena hasutan.

Masyarakat Papua diminta untuk tenang dan tidak terbakar oleh provokasi oknum lalu melakukan demo menentang RUU pemekaran wilayah. Penambahan DOB membawa banyak kemajuan bagi rakyat dan diyakini menjadi berkat dari Tuhan untuk kemajuan Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Tinggalkan Balasan