Waspadai Hoax Terkait Covid-19

Oleh : Savira Ayu )*

Sudah dua tahun pandemi tetapi hoax Covid-19 masih berkeliaran. Masyarakat masih diminta untuk mewaspadai hoax karena bisa menggagalkan program vaksinasi nasional dan memperparah kondisi pandemi.

Mungkin kita masih ingat awal-awal pandemi, beredar hoax bahwa Corona (Covid-19) adalah penyakit buatan pihak asing? Hoax-hoax seperti ini makin liar, terlebih di media sosial yang pemilik akunnya seolah-olah bisa bebas meng-upload apa saja. Keberadaan hoax juga makin banyak ketika bergabung di grup WA keluarga dan terlalu mudah percaya berita tanpa mengecek kebenarannya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menemukan ada lebih dari 6.000 unggahan di media sosial mengenai hoax Corona. Sementara hoax Corona ada lebih dari 2.000 buah. Peredaran hoax paling banyak adalah di Facebook dan sisanya di Medsos lain.
Temuan Kemenkominfo menunjukkan bahwa masih banyak hoax Corona yang ada di masyarakat dan sangat meresahkan karena bisa memperlambat proses perbaikan akibat pandemi covid-19.
Misalnya hoax tentang vaksin haram karena dibuat oleh China. Padahal status vaksin sudah dinyatakan halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan banyak ulama yang mengawasi langsung proses pembuatannya, serta dijamin tidak tercampur dengan bahan-bahan yang tidak halal.

Selain itu ada pula hoax yang menyatakan bahwa Corona bisa hilang hanya dengan mengkonsumsi herbal seperti rebusan kunyit atau jahe merah. Memang herbal menyehatkan dan meningkatkan imunitas tubuh. Namun jika ingin sembuh dari Corona tentu butuh obat khusus dan perawatan yang intensif dari tenaga kesehatan.

Masyarakat perlu mewaspadai peredaran hoax terutama di media sosial. Jangan terlalu mudah percaya ketika ada berita mengenai Corona dan bisa saja itu salah. Apalagi jika berasal dari website abal-abal yang kredibilitasnya dipertanyakan. Jika ada yang membagikan hoax maka jangan mudah dipercaya, dan saat ternyata itu salah, tegurlah orang itu agar ia menghapusnya.

Kemenkominfo sudah men-take down lebih dari 5.000 postingan yang berisi hoax. Upaya ini dilakukan agar peredaran hoax di dunia maya tidak makin menyesatkan. Penyebabnya karena masyarakat awam bisa saja percaya hoax lalu tidak percaya Corona dan tidak mau divaksin. Hal ini juga sangat berbahaya, karena bisa menggagalkan program vaksinasi nasional.

Selain hoax di media sosial, masyarakat juga wajib mewaspadai hoax yang ada di grup WA. Penyebabnya karena hoax tersebut di-broadcast ke banyak grup dan makin banyak yang membacanya. Padahal sudah jelas bahwa beritanya palsu, jangan sampai malah memakan korban. Apalagi di grup WA keluarga yang pesertanya sudah tua, mereka tidak tahu bahwa ada media online abal-abal yang berisi hoax dan mengiranya sma seperti koran biasa.

Untuk mengetahui bahwa sebuah berita hoax atau tidak maka bisa mengeceknya di internet (biasanya di situs Kemenkominfo). Akan terlihat bahwa berita tersebut hoax atau tidak. Teliti sebelum meng-klik suatu berita karena bisa jadi itu hoax dan jangan asal di-share sebelum membacanya terlebih dahulu dari awal sampai akhir.

Ciri-ciri berita hoax biasanya judulnya menghebohkan karena biasanya hanya bersifat click-bait untuk menarik banyak pembaca. Padahal isinya tidak seperti judul dan hanya sampah yang mengotori internet. Masyarakat perlu diedukasi agar tidak terjebak hoax seperti ini.

Masyarakat wajib mewaspadai hoax terkait Corona dan jangan sampai jadi korban. Pandemi masih berlangsung dan Corona masih ada, jangan mudah percaya dengan berita yang tidak diketahui kebenarannya. Dengan adanya kewaspadaan bersama, masyarakat diharapkan dapat terhindar dari bahaya hoax dan penanganan pandemi Covid-19 dapat terwujud sesuai target.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Tinggalkan Balasan