Motif Ekonomi di Balik Aksi Teror KST Papua

Oleh : Saby Kosay )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua merupakan musuh rakyat yang selalu menghambat pembangunan. Mereka ditengarai memiliki motif ekonomi sehingga mau melakukan serangan brutal dan tega menghabisi saudara sukunya sendiri.

KST adalah kelompok pemberontak di Papua, yang merupakan anak buah OPM (Organisasi Papua Merdeka). Mereka adalah kelompok perusuh yang kerap menyerang aparat keamanan maupun warga sipil. Bahkan tidak jarang ada korban luka-luka hingga korban jiwa, padahal korbannya juga sesama orang asli Papua.

KST membuat onar dengan menembak 10 warga di Nduga pada bulan Juli 2022 lalu, dan salah satu korbannya adalah seorang pendeta. Mereka tak peduli status korban, masyarakat biasa atau seorang pendeta, tetap dihabisi dengan kejam. KST juga bertindak brutal dengan membunuh seorang pendulang emas di tambang ilegal, dan memamerkan kepala korbannya yang dipenggal.

Tokoh adat Papua Yanto Eluay menyatakan bahwa anggota KST juga anak adat Papua wilayah pegunungan. Mereka seharusnya tidak melakukan kekejaman seperti pembunuhan dan lain-lain. Yanto menduga ada motif ekonomi di balik aksi teror KST, karena saat ini keadaan finansial banyak orang sedang sulit. Aksi KST bukan murni pembelotan, tetapi lebih cenderung ke ekonomi.

Dalam artian, bisa jadi karena pandemi dan ada kegoncangan ekonomi, maka KST mendatangi pemukiman warga dan menyerbu suatu toko di Nduga sebelum melakukan pembunuhan massal. Toko kelontong itu diacak-acak dan bisa jadi mereka berniat untuk merampok isinya. Namun malah berubah haluan menjadi penyerbuan besar-besaran.

Motif ekonomi yang ditengarai menjadi penyebab KST makin brutal, adalah sebuah kewajaran. Mereka merasa hidup makin sulit, terlebih di masa pandemi. Belum diketahui bagaimana cara mereka untuk bertahan hidup di hutan, entah dengan bertani atau cara lain.

Ada sebuah video yang viral di Papua, dimana seorang anggota KST yang masih baru memalak kepala kampung (yang tidak disebutkan daerahnya). Anggota KST itu pura-pura meminta minum, lalu mengancam dan meminta bantuan berupa beras dan uang, yang akan diberikan kepada teman-temannya yang sedang berjuang di hutan. Dia berjanji akan kembali lagi untuk mengambilnya. Kepala kampung yang pura-pura menyetujuinya lalu menghubungi aparat keamanan.
Setelah itu, di hari yang dijanjikan, ia dan warga mengungsi dan meletakkan kardus di depan honainya. Anggota-anggota KST tertipu karena kardus itu berisi sampah, bukan makanan. Mereka tidak bisa menyerbu karena sudah diserang oleh aparat yang bersembunyi.

Dari video tersebut terlihat bahwa KST benar-benar terdesak saat hidup di dalam hutan. Video tersebut bukan berdasarkan skenario film, tetapi kejadian nyata. Terbukti KST makin kesulitan untuk makan dan berusaha survive di masa pandemi, dan semakin sering merampok masyarakat.

Motif ekonomi yang dinyatakan oleh Yanto Eluay juga terlihat ketika KST membunuh seorang pendulang emas di tambang ilegal. Mereka marah karena mengklaim bahwa tambang tersebut adalah milik KST, dan menganggap orang lain adalah saingan dan harus dilenyapkan. Padahal sudah jelas bahwa tambang tersebut ilegal dan bukan milik perseorangan, apalagi milik KST.

Dari kasus-kasus yang melibatkan KST maka terlihat bahwa hidup mereka makin mengenaskan di hutan. Entah panennya gagal atau sudah tidak ada penyokong kegiatannya. Selama ini diduga ada dalang di balik KST yang menyuplai mulai dari senjata api hingga uang/dana tunai. Namun bisa jadi sumbangannya berkurang, gara-gara pandemi yang melanda Indonesia.

Sumber dana KST memang masih diselidiki dan ketika mereka tertangkap, ada bukti transfer dari Lekagak Telenggen, untuk dibelikan senjata api. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Humas Satgas Damai Cartenz AKBP Arief Fajar. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan dan penyidikan, dan polisi berusaha menangkap siapa penyumbang dana utama untuk KST.

Namun pengamat politik Al Chairi meragukan siapa penyumbang-penyumbang KST, karena bisa jadi mereka terpaksa melakukannya, karena takut kehilangan nyawa. Jika memang penyumbang terungkap maka seharusnya mereka lapor ke aparat keamanan. Bukannya terus menyumbang, karena ini justru menyuburkan aksi KST di Papua.

Motif ekonomi KST memang masih ditelusuri, apakah benar mereka semakin merana di hutan, atau penyumbangnya mulai mengundurkan diri satu-per satu. Yang jelas mereka merasakan sendiri sengsaranya bergerilya sehingga untuk sekadar minum air putih harus meminta ke penduduk setempat.
Lebih baik KST bertobat dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, daripada menenteng senjata api, kelaparan dan akhirnya merampok harta warga sipil dengan brutal. Sudah saatnya aparat keamanan tegas menindak kelompok yang terbukti tidak memiliki komitmen untuk memajukan sesama rakyat Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan