Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Masyarakat dan stakeholder terkait diharapkan dapat mewaspadai lonjakan kasus Covid-19 yang dapat menggangu transisi pandemi ke endemi. Dengan adanya kewaspadaan dengan selalu berperilaku sehat, maka ancaman kenaikan kasus Covid-19 setelah libur Lebaran dapat dihindari.

Kasus Corona di Indonesia sudah melandai jika dibandingkan dengan tahun lalu. Jika pada 17 Desember 2021 jumlah pasiennya mencapai 3.750, maka tanggal 16 Mei 2022 ini jumlah pasien hanya 182 orang. Menurunnya kasus Corona menjadi kurang dari 10% jika dibanding dengan 5 bulan lalu adalah sebuah prestasi karena pandemi bisa berakhir lebih cepat dan bertransisi jadi fase endemi.

Endemi adalah keadaan ketika ada suatu penyakit tetapi penyebarannya terbatas di daerah tertentu. Misalnya malaria di Papua dan Papua Barat. Indonesia sudah siap bertransisi ke masa endemi karena ada penurunan kasus Corona. Namun jangan gembira dulu karena semua orang harus tetap disiplin protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi. Jika tidak maka akan ada lonjakan kasus Corona yang akan mengganggu transisi ke endemi.

Lonjakan kasus Corona bisa saja terjadi karena saat ini anak-anak sudah sekolah seperti biasa dan orang tuanya bekerja kembali di kantor, tidak lagi work from home. Ketika banyak yang tak disiplin dalam menaati protokol kesehatan dan tak mau vaksin maka bisa terbentuk klaster Corona baru. Bisa dari klaster perkantoran, klaster keluarga, atau klaster sekolah.

Klaster perkantoran bisa terbentuk ketika ruang kerja terlalu sempit sehingga tidak bisa menjaga jarak. Selain itu masyarakat juga patut waspada akan sirkulasi udara dan kebersihan AC atau kipas angin. Penyebabnya karena virus Covid-19 bisa menular lewat udara yang bersih dan ruangan yang sempit. Apalagi jika para pegawai tidak pakai masker, jika 1 saja yang kena Corona tertularlah semuanya, karena mereka juga tidak vaksin.

Penataan tempat di kantor harus diperhatikan agar tidak ada pegawai yang kena Corona dan bisa menyebabkan lonjakan kasus Covid-19, serta menggagalkan transisi ke fase endemi. Selain menjaga jarak per meja atau kubikel, perhatikan juga ventilasi, jendela, dan sirkulasi udaranya. Tiap pegawai juga wajib pakai masker di dalam ruangan, jangan hanya mengenakannya di perjalanan.

Klaster perkantoran wajib diwaspadai karena bisa menular jadi klaster keluarga. Ketika ada satu saja pegawai yang kena Corona karena ketularan oleh orang tanpa gejala, maka ia bisa menularkannya ke seluruh anggota keluarga. Yang paling rawan adalah balita karena mereka belum divaksin dan lansia karena punya komorbid, serta imunitasnya lebih rendah.

Pencegahan sejak dini harus dilakukan agar tidak terjadi klaster keluarga, tujuannya agar tidak ada lonjakan kasus Corona dan menggagalkan transisi ke fase endemi. Selain memakai masker, ayah dan ibu harus mencuci tangan atau pakai hand sanitizer. Saat pulang kerja juga wajib mandi, keramas, dan ganti baju. Baru bisa mencium pipi anak-anaknya. Semua dilakukan agar tidak menularkan Corona.

Perbaiki juga imunitas keluarga dengan rajin minum air putih 2 liter sehari, makan sayur, buah, dan makanan sehat lainnya. Rutinkan juga berolahraga agar seluruh anggota keluarga sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang bagus. Pastikan semuanya divaksin sampai 3 kali.

Masyarakat wajib mewaspadai agar tidak terjadi lonjakan kasus Corona di Indonesia. Jumlah pasien Covid-19 memang terus menurun tetapi bisa naik lagi jika banyak orang tidak disiplin dalam menjaga protokol kesehatan. Tetaplah pakai masker dan mematuhi poin lain dalam protokol kesehatan agar tidak kena Corona dan mensukseskan transisi ke fase endemi.

)* Penulis adalah Kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Aprilia Ambarwati )*

Presiden Jokowi telah mengumumkan bahwa masyarakat boleh tidak pakai masker dengan syarat beraktivitas di ruangan terbuka dan jarang ada orang. Pelonggaran ini pantas untuk diapresiasi seiring keberhasilan pemerintah mengendalikan laju penularan Covid-19 yang semakin membaik.

Sejak awal masa pandemi tahun 2020, seluruh warga negara Indonesia wajib untuk menaati Protokol Kesehatan dan yang paling utama adalah memakai masker. Bahkan saat kasus Covid-19 sedang tinggi-tingginya, dianjurkan oleh WHO (world health organization) untuk mengenakan masker ganda. Masyarakat pun akhirnya memborong baik masker sekali pakai maupun masker kain.

Namun peraturan ini berubah ketika Presiden Jokowi pada tanggal 17 Mei 2022 mengumumkan bahwa masyarakat boleh untuk tidak pakai masker, dengan syarat beraktivitas di area terbuka dan tidak dipadati orang. Dalam artian, ketika jogging di pinggir pantai yang sepi atau jalan-jalan di perumahan setelah subuh, boleh untuk tidak mengenakan masker sama sekali.

Pernyataan Presiden Jokowi patut diapresiasi karena izin lepas masker hanya di area terbuka dan sepi, sehingga sirkulasi udaranya bagus dan tidak akan ada penularan Corona. Kemudian, ketika masker boleh dilepas maka menunjukkan pengendalian Corona yang baik. Lagipula untuk sesi olahraga, memakai masker malah menyesakkan dada karena tidak bisa bebas menarik nafas.

Indonesia menyusul negara-negara lain yakni Jepang, Swedia, dan lain-lain yang sudah memperbolehkan masyarakatnya untuk tidak memakai masker di area publik. Pelepasan masker menandakan pandemi global sebentar lagi berakhir dan akan transisi menuju fase endemi. Penyebabnya karena jumlah pasien Corona di Indonesia terus menurun, per 17 Mei 2022 hanya ada 275 orang yang terjangkiti.

Anggota DPR RI Luqman Hakim mengapresiasi kebijakan pemerintah yang memperbolehkan masyarakat untuk tidak pakai masker di ruangan terbuka. Kebijakan ini menunjukkan kepiawaian pemerintah dalam mengendalikan penularan Corona. Pemerintah tetap konsisten, sistematis, dan terukur dalam mengatasi pandemi di Indonesia. Pemerintah juga memiliki persiapan matang dan tidak terburu-buru, dan mengutamakan kesehatan rakyat.

Luqman melanjutkan, kebijakan untuk boleh melepas masker juga menunjukkan ketaatan masyarakat dalam aturan-aturan pemerintah selama pandemi. Dalam artian, mayoritas rakyat taat protokol kesehatan dan memakai masker dengan disiplin sehingga mengurangi penularan Corona.

Masyarakat merupakan garda terdepan dalam pengendalian kasus Covid-19 di Indonesia. Ketaatan publik terhadap aturan pemerintah menjadi kunci pengendalian pandemi Covid-19, karena tanpa hal tersebut aturan seideal apapun akan tidak membuahkan hasil. Oleh sebab itu, kebijakan pelonggaran pemakaian masker di tempat umum akibat penurunan kasus Covid-19 patut disyukuri.

Namun di sisi lain, masyarakat juga perlu memperhatikan pengumuman dari Presiden Jokowi dengan seksama. Pembolehan untuk tidak pakai masker hanya di area terbuka dan sepi. Jika ada area terbuka misalnya lapangan sepak bola tetapi dipadati orang, wajib untuk tetap pakai masker. Pasalnya amat susah untuk menjaga jarak sehingga masker bisa melindungi tubuh dari penularan Corona.

Selain itu, masyarakat yang beraktivitas di dalam ruangan juga wajib pakai masker karena lebih banyak orangnya daripada di luar ruangan. Dalam artian, ketika berada di dalam kantor, Bank, atau kelas, masih harus pakai masker. Para guru juga mengingatkan murid untuk tetap pakai masker di sekolah. Sementara murid yang kena pilek, batuk, dan penyakit lain juga harus pakai masker.

Ketika pemerintah memutuskan untuk memperbolehkan lepas masker maka patut untuk diapresiasi. Dengan adanya kebijakan tersebut, aktivitas akan berangsur normal dan pemulihan ekonomi dapat segera berjalan dengan optimal.

)* Penulis adalah Kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Made Prawira )*

Indonesia bersiap untuk transisi dari fase pandemi ke endemi. Kendati demikian, masyarakat tetap wajib taat Prokes agar tren positif pengendalian kasus Covid-19 dapat terus terjaga.

Tidak terasa kita sudah menjalani masa pandemi selama lebih dari dua tahun. Virus kecil bernama Corona telah memporak-porandakan kehidupan banyak orang. Keadaan finansial masyarakat agak terguncang walau akhirnya pulih perlahan-lahan. Semua orang jadi memakai masker saat keluar rumah dan menaati poin-poin lain dalam protokol kesehatan.

Namun saat ini situasi sudah membaik dan jumlah pasien Corona terus menurun. Menurut data dari Tim Satgas Penanganan Covid-19, jumlah pasien Corona per tanggal 10 Mei 2022 ada 454 orang. Angka ini jauh lebih sedikit dibanding akhir tahun lalu yang jumlahnya mencapai ribuan pasien.

Jika keadaan ini terus terjadi maka kita bersiap transisi dari fase pandemi ke endemi. Juru Bicara Tim Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan bahwa Indonesia sudah tidak dalam fase kedaruratan dalam respons pandemi Covid-19 dan mulai bertransisi ke fase endemi. Terjadi penurunan kasus Corona dan juga perawatan di Rumah Sakit. Mobilitas masyarakat juga mulai meningkat.

Endemi adalah kondisi di mana ada suatu penyakit di daerah tertentu. Misalnya malaria di Provinsi Papua. Jika Indonesia masuk ke dalam masa endemi maka Corona tetap ada tetapi hanya ada di daerah tertentu dan terbatas sekali penularannya. Jumlah pasiennya juga amat minim dan virusnya bisa dikendalikan.

Jika Indonesia bertransisi jadi fase endemi maka masyarakat jangan merasa aman dulu, karena Corona masih ada. Fase endemi bukan berarti virusnya hilang 100% walau bisa dikendalikan. Oleh karena itu masyarakat diimbau untuk tetap menaati protokol kesehatan dan menjaga gaya hidup bersih dan sehat.

Protokol kesehatan wajib ditaati, terutama memakai masker. Sayangnya saat ini masyarakat sudah mulai malas-malasan pakai masker karena mengira pandemi sudah selesai, padahal belum. Jangan hanya pakai masker hanya karena takut ditegur oleh petugas. Namun pakailah masker atas kesadaran sendiri, demi keselamatan pribadi dan kesehatan bersama.

Terutama bagi anak-anak, mereka wajib pakai masker karena sudah sekolah seperti biasa. Untuk mencegah terbentuknya klaster Corona baru maka harus pakai masker dan jangan dilepas saat di dalam kelas. Masukkan juga masker cadangan ke tas milik anak karena selembar masker hanya efektif dipakai selama maksimal 4 jam saja.

Selain pakai masker, taati juga prokes lain seperti mencuci tangan atau memakai hand sanitizer. Ketika sampai rumah juga wajib untuk mandi, keramas, dan ganti baju. Semua ini dilakukan agar lebih higienis dan tidak mudah terkena virus Covid-19, virus lain, dan juga bakteri.

Protokol kesehatan seperti menjauhi kerumunan dan menjaga jarak juga wajib dilakukan. Terutama kerumunan, karena saat ini pasar, supermarket, dan tempat lain sudah dimasuki pengunjung dengan bebas. Untuk menghindari pengunjung yang berjubel maka datanglah di pagi hari saat supermarket baru buka. Akan lebih nyaman untuk belanja karena masih lengang dan antrean di depan kasir relatif sepi.

Indonesia masih dalam fase transisi dari pandemi ke endemi. Jumlah pasien Corona menurun dan ruang perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit mulai lengang. Walau keadaan sudah relatif aman tetapi jangan lalai dan melupakan protokol kesehatan agar dapat hidup berdampingan dengan Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Abdul Haris )*

Pemerintah terus mencermati dan mengantisipasi lonjakan Covid-19 pasca Lebaran 2022. Masyarakat pun diimbau untuk selalu taat Prokes dan mengikuti vaksinasi agar lonjakan kasus Covid-19 dapat diredam.

Lebaran tahun 2022 amat istimewa karena pemerintah memperbolehkan masyarakat untuk pulang kampung. Mereka bergembira karena bisa mudik dan bersilaturahmi ke orang tua. Namun sebelum mudik, untuk antisipasi penularan Covid-19, maka semua orang wajib untuk suntik booster alias vaksinasi dosis ketiga.

Setelah Lebaran maka pemerintah mengantisipasi agar tidak terjadi lonjakan kasus Corona. Kepala Badan Intelijen Negara Jendral Pol (Purn) Budi Gunawan menyatakan bahwa pemerintah siap dengan segala skenario. Meski percaya bahwa pelonggaran kebijakan saat mudik adalah kebijakan tepat, tetapi Pemerintah terus mencermati dinamika tersebut agar risikonya bisa terukur dan termitigasi dengan baik.

Jendral Pol (Purn) Budi Gunawan melanjutkan, saat Lebaran masyarakat melakukan interaksi sosial sangat tinggi. Akan tetapi mitigasi resiko penularan Corona sudah sangat baik. Dalam artian, pemerintah memutuskan masyarakat boleh mudik karena mayoritas sudah divaksin (dan memang syarat pulang kampung harus vaksin sampai 3 kali) dan ada penurunan jumlah pasien Corona.

Sementara itu, untuk mengantisipasi ledakan kasus Corona maka pemerintah menyiapkan setidaknya 70.000 ruang isolasi dan lebih dari 1.000 ICU. Ruang tersebut disiapkan karena pasien Corona tentu butuh tempat isolasi yang representatif dan diawasi oleh tenaga kesehatan andal. Tidak bisa hanya isolasi mandiri di rumah karena penanganannya kurang maksimal.

Pemerintah juga terus menghimbau masyarakat untuk menaati protokol kesehatan (Prokes). Jika semua taat Prokes maka akan selamat dari bahaya virus Covid-19. Apalagi pasca mudik banyak yang kelelahan sehingga imunitas tubuh menurun. Semua orang harus taat Prokes agar tetap sehat dan tidak mudah kena Corona.

Apalagi saat ini orang tanpa gejala (OTG) ada di mana-mana dan ketika lalai (tidak pakai masker) maka bisa tertular. Ada pasien Covid-19 yang tidak sadar bahwa ia sakit karena hanya kena gejala ringan. Mereka umumnya hanya mengira hanya pilek ringan, ternyata setelah dites swab positif Corona. Ketika tidak dites maka ia akan beraktivitas seperti biasa dan bisa menularkan virus Covid-19 dengan cepat, ketika orang-orang di sekitarnya tidak pakai masker.

Untuk mengantisipasi ledakan kasus Corona maka memang harus tetap pakai masker sebagai protokol kesehatan prioritas pertama. Malah dianjurkan untuk memakai double masker dengan posisi masker sekali pakai di bagian dalam dan masker kain di bagian luar. Gunanya untuk memperkuat filtrasi jadi 90%.
Masker juga dipakai maksimal selama 4 jam, jadi bawa masker cadangan ketika bepergian.
Taati juga Prokes lain seperti mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Pastikan juga lingkungan terjaga higienitasnya dan kalau bisa disemprot dengan cairan disinfektan secara teratur. Semua upaya harus dilakukan untuk mencegah penularan Corona dan tidak terjadi lonjakan kasus setelah Lebaran.

Selain memakai masker dan menaati protokol kesehatan lain maka masyarakat juga wajib divaksin. Mereka yang tidak mudik tetap harus vaksin sampai 3 kali untuk memperkecil resiko penularan Corona. Jika semua sudah divaksin maka akan aman dari virus Covid-19, selama taat Prokes, dan kondisi pandemi bisa diakhiri secepatnya.

Pemerintah bekerja keras untuk mengantisipasi lonjakan kasus Corona setelah Lebaran. Dengan adanya antisipasi tersebut, maka potensi lonjakan kasus Covid-19 dapat diminimalisasi, sehingga pemulihan ekonomi dapat terus berjalan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Prita Mulyasari )*

Vaksinasi Covid-19 tidak menyebabkan kasus hepatitis akut yang saat ini berkembang. Oleh sebab itu masyarakat diminta untuk mewaspadai hoax, karena vaksin Covid-19 yang ada di Indonesia saat ini aman dan halal digunakan.

Belakangan sempat terjadi sebuah kasus yang cukup menghebohkan yakni mengenai kemunculan hepatitis akut, terutama menjangkiti anak-anak. Sejauh ini sama sekali masih belum diketahui secara pasti mengenai penyebab dan asal-muasal terjadinya hepatitis akut tersebut. Namun satu hal yang jelas, bahwa Prof. dr. Hanifah Oswari selaku Lead Scientist menyatakan sama sekali tidak ada kaitan antara kasus Hepatitis Akut dengan vaksinasi Covid-19.

Pernyataan tersebut dibuatnya lantaran ternyata beberapa diantara masyarakat menghubung-hubungkan seolah pemberian vaksinasi Covid-19 menjadi penyebab terjadinya Hepatitis Akut. Ditegaskan oleh Hanifah bahwa sama sekali tidak ditemukan bukti konkrit yang sesuai dengan dugaan tersebut.

Awal mula penyebaran berita hoax tersebut terjadi di media sosial, yang mana terdapat klaim bahwa vaksinasi COVID-19 merupakan penyebab pemicunya Hepatitis Akut yang menjangkiti ratusan anak di dunia. Lebih tepatnya klaim tersebut menyatakan bahwa kandungan vektor adenovirus dalam beberapa vaksin, termasuk diantaranya merk Johnson & Johnson lah yang menjadi biang keladi masalah.

Sontak pihak ahli medis pun langsung memberikan bantahan akan berita hoax tersebut dan menyatakan bahwa adenovirus yang terdapat dalam kandungan vaksin ternyata sangatlah berbeda dengan apa yang ditemukan dalam kasus Hepatitis Akut. Kemudian ditambahkan oleh dr Pail Offit selaku Direktur Pusat Pendidikan Vaksin di Rumah Sakit Anak Philadelphia bahwa terdapat perbedaan adenovirus yang terkandung dalam Hepatitis dengan yang disuntikkan dalam vaksin.

Dalam kasus hepatitis akut, ternyata mengandung adenovirus bertipe 41, sedangkan untuk adenovirus yang terdapat dalam kandungan vaksin Covid-19 seperti pada merk J&J adalah bertipe 26. Selain itu ditambahkan olehnya bahwa ternyata adenovirus yang terdapat dalam vaksin sama sekali tidak mampu untuk memperbanyak diri dan menyebar di dalam tubuh manusia, sangat berbeda sifatnya dengan yang terdapat pada Hepatitis.

Fakta selanjutnya yang diungkapkan oleh dr. Mark Slifka selaku Profesor mikrobiologi dan imunologi di Oregon Health & Science University menunjukkan bahwa ternyata terdapat beberapa kasus hepatitis akut yang menjangkiti anak padahal sama sekali dirinya masih belum menerima vaksinasi Covid-19 sebelumnya. Oleh sebab itu,  memang sama sekali tidak ada bukti yang mendukung klaim berita hoax itu.

Hal yang bisa diupayakan bersama adalah terus meningkatkan kewaspadaan, pencegahan dan juga pengendalian infeksi Hepatitis Akut itu. Pemerintah sendiri telah mengupayakan beberapa hal, termasuk diantaranya adalah dengan segera menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/2515/2022 tentang kewaspadaan terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya.

Saat ini mmemang masih belum diketahui secara pasti etiologinya, maka memang masih diperlukan pemeriksaan secara lebih lanjut, untuk itu pihak Kemenkes juga telah menetapkan beberapa tempat seperti pada Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso dan Laboratorium Fakultas Kedokteran UI sebagai tempat pemeriksaan spesimen lebih lanjut. Selain itu pencegahan dan pengendalian infeksi juga terus dikerahkan dari penyediaan tenaga kesehatan dan juga fasilitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Masyarakat diharapkan bijak dan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Selain itu, masyarakat juga diharapkan melakukan pengecekan silang terhadap sebuah informasi dengan merujuk kepada media-media mainstream. Dengan adanya kesadaran tersebut, maka beragam hoax tentang vaksinasi Covid-19 dapat diberantas.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute 

Oleh : Deka Prawira )*

Pemerintah menegaskan akan terus menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga Covid-19 terkendali seratus persen. Masyarakat mengapresiasi keputusan tersebut karena merupakan bentuk kehati-hatian Pemerintah ditengah menurunnya kasus penularan Covid-19.

Meski memang tidak bisa dipungkiri bahwa pengendalian pandemi COVID-19 di Indonesia sudah sangat bagus, bahkan bisa dikatakan jauh melebihi negara ASEAN lainnya, namun sebagai bentuk kehati-hatian, maka Presiden Joko Widodo mengatakan akan tetap memberlakukan PPKM. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa nantinya PPKM akan dilanjutkan hingga setidaknya pemerintah yakin bahwa 100 persen kondisi pandemi sudah bisa aman.

Sejauh ini langkah kehati-hatian tersebut memang merupakan hal yang perlu dan penting untuk diambil karena nyatanya kasus pasien positif Covid-19 juga masih terus terjadi meski angkanya terbilang kecil dan kurvanya juga sudah melandai. Menurut laporan, setidaknya pada hari Minggu (8/5) lalu masih ada sebanyak 227 kasus yang terkonfirmasi.

Dengan melihat masih adanya kasus positif, tentu sama sekali masyarakat tidak bisa langsung lengah begitu saja. Maka dari itu kewaspadaan mengenai penularan pandemi masih terus digaungkan oleh Pemerintah. Sejauh ini Presiden sendiri mengaku masih akan terus memfokuskan seluruh jajarannya untuk bisa benar-benar membuat pandemi Covid-19 hilang dan terkendali secara 100 persen.

Pengumuman secara resmi yang dilakukan oleh Presiden tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan beberapa masyarakat yang merasa bahwa pandemi memang sudah sangat mereda dan masih penasaran serta bingung mengenai kelanjutan kebijakan PPKM.

Penanganan pandemi yang baik juga akan berpengaruh cukup signifikan terhadap beberapa sektor lainnya seperti ekonomi. Apabila penanganan pandemi kurang baik, maka secara otomatis pemulihan perekonomian negara juga akan lama untuk bangkit, maka dari itu Presiden terus berupaya dan mengerahkan jajarannya terus berkonsentrasi mengenai permasalahan pandemi dan juga ekonomi global.

Sebagaimana arahan dari Presiden Jokowi, Luhut Binsar Pandjaitan selaku Ketua Koordinator Penanganan Covid-19 Jawa-Bali langsung memberikan pengumuman serupa, bahwa PPKM akan terus diberlakukan oleh Pemerintah di seluruh Indonesia meski sejauh ini trend pembaikan terus terjadi di Tanah Air.
Dilaporkan oleh Luhut bahwa sejak 25 hari terakhir ini kasus Covid-19 di Indonesia terus berada di bawah 1.000.
Termasuk juga angka pasien rawat inap terus mengalami penurunan dan angka kematian juga berhasil terus ditekan hingga sebanyak 98 persen.

Apresiasi patut kita berikan pada Pemerintah karena telah menyelenggarakan mudik aman dan sehat, sehingga beberapa hari setelah Idul Fitri kasus Covid-19 tetap terkendapi.
Hal ini sama sekali berbeda dengan kenyataan yang terjadi 2 tahun belakangan, bahwa ketika setelah ada hari libur maka otomatis kasus langsung kembali melonjak.

Kebijakan mengenai perpanjangan PPKM ini juga akan terus mengikuti bagaimana hasil evaluasi regular yang akan terus dilakukan oleh Pemerintah. Oleh sebab itu, apabila nanti hasil evaluasi tersebut menyatakan bahwa PPKM sudah tidak diperlukan lagi karena pandemi sudah secara 100 persen tertangani, maka tentu saja secara otomatis kebijakan ini akan dihentikan.

Trend pembaikan pandemi, penurunan kasus positif, berkurangnya pasien rawat inap hingga turunnya angka kematian akibat Covid-19 menurut Luhut juga tidak bisa dilepaskan dari bagaimana upaya pemerintah untuk terus mengupayakan penyebaran vaksinasi termasuk dosis kedua dan juga booster secara menyeluruh ke semua wilayah di Indonesia termasuk wilayah-wilayah yang masih tertinggal sekalipun.

Kemudian mengenai sampai kapan kebijakan PPKM ini diperpanjang, dikatakan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa setidaknya kebijakan PPKM ini akan diperpanjang hingga 2 minggu ke depan sembari terus menunggu dan menyesuaikan dengan evaluasi terbarunya.

Masyarakat mendukung keberlanjutan PPKM dalam rangka mengendalikan kasus Covid-19 di Indonesia. Dengan perpanjangan PPKM tersebut, kasus positif Covid-19 dapat terus ditekan dan pemulihan ekonomi nasional dapat berjalan sebagaimana mestinya.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Muhammad Yasin )*

Pemerintah menegaskan bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akan terus diberlakukan hingga penanganan Covid-19 terkendali seratus persen. Kebijakan PPKM pun patut mendapat apresiasi banyak pihak karena terbukti efektif mengendalikan Covid-19 di Indonesia.

Pandemi telah membuat kegiatan masyarakat berubah karena harus menaati protokol kesehatan dan mengurangi mobilitas. Mereka juga wajib menaati PPKM karena hal ini sudah aturan dari pemerintah. PPKM bukan untuk menyengsarakan rakyat karena ada pembatasan kegiatan, tetapi justru untuk menyelamatkan mereka dari bahaya Corona.

Berdasarkan data Tim Satgas Covid-19 per tanggal 9 Mei 2022 kasus Covid-19 berjumlah 254 dan cenderung lebih sedikit dibandingkan periode-periode sebelumnya. Kendati demikian, tetap diperlukan kewaspadaan mengingat hingga saat tetap terjadi transmisi Covid-19 di Indonesia. Oleh sebab itu, ketaatan terhadap Prokes dan penerapan PPKM tetap dibutuhkan dalam mengendalikan kasus Covid-19.

Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa PPKM masih diberlakukan selama ada kasus Corona di Indonesia. Payung hukumnya adalah Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 24 Tahun 2022 tentang aturan PPKM Level 3, Level 2 dan Level 1 Covid-19 di Jawa-Bali. PPKM adalah instrumen kebijakan yang penting dalam pencegahan penularan Corona di daerah, sehingga perlu mendapat dukungan semua pihak.

Presiden Jokowi menyatakan bahwa PPKM masih akan berlanjut di Indonesia sampai pengendalian Corona 100%. Sebelumnya masyarakat menunggu apakah PPKM berhenti atau diteruskan. Namun pemerintah terbukti meneruskan PPKM hingga pandemi selesai dan Corona hilang.

Mungkin masyarakat awam menduga bahwa PPKM sudah selesai karena saat libur Lebaran lalu diperbolehkan untuk pulang kampung. Padahal pelonggaran juga dengan banyak syarat, yakni harus vaksin booster, taat protokol kesehatan, dan jaga jarak. Aturan itu senada dengan aturan saat PPKM yakni berkendara dengan aman dan tetap menjaga jarak. Walaupun sudah tidak ada penyekatan di perbatasan antar kota.

PPKM wajib dilanjutkan karena terbukti ampuh dalam menangani Corona. Pada pertengahan tahun 2021 lalu, ketika kasus Covid sedang tinggi-tingginya, maka diadakan PPKM ketat dan juga penyekatan di berbagai daerah. Tujuannya untuk mengurangi mobilitas. Hasilnya adalah adanya penurunan kasus Corona yakni sebanyak 59%.

Bayangkan jika PPKM diperpanjang selama masa pandemi, maka akan ada penurunan kasus Corona di Indonesia. Bisa saja bulan depan pasien ‘hanya’ tinggal 100-an, dan akan terus menurun. Dengan cara ini maka kita optimis semua pasien Corona lekas sembuh dan tidak ada penularan lagi, salah satunya berkat penerapan PPKM secara ketat.

PPKM memang harus diperpanjang lagi karena bisa menurunkan risiko penularan Corona. Penyebabnya karena jika ada PPKM maka mobilitas masyarakat dibatasi, terutama yang bepergian keluar kota. Memang tidak ada penyekatan tetapi warga diharap sadar dan hanya keluar kota jika ada hal yang urgent, misalnya dinas kantor, takziah, dan lain sebagainya.

Masyarakat wajib diingatkan bahwa salah satu penyebab penularan Corona adalah mobilitas massal. Oleh karena itu PPKM wajar jika terus diperpanjang, karena bisa mengurangi pergerakan warga. Aturan ini diberlakukan demi kesehatan bersama.

Selain itu, ketika PPKM diberlakukan maka kegiatan warga juga dibatasi. Jangan hanya karena kasus Corona menurun malah mengadakan pesta pernikahan atau konser yang mengundang banyak orang. Ingatlah saat ini masih pandemi dan taatilah aturan PPKM dan juga protokol kesehatan.

Masyarakat mendukung keberlanjutan PPKM karena memang pandemi belum dinyatakan selesai, meskipun jumlah pasien Corona terus menurun. PPKM wajib dilanjutkan selama pasien Covid-19 masih ada. Dengan penerapan PPKM tersebut tren pengendalian Covid-19 akan tetap terjaga dan transisi pandemi ke endemi dapat segera diwujudkan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Lisa Pamungkas )*

Pengendalian pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi yang terbaik di negara ASEAN. Bukti bahwa strategi Pemerintah selama ini memang sangat efektif dalam meredam penularan kasus aktif di Indonesia.

Keputusan yang diambil oleh Pemerntah mengenai pelonggaran aktivitas masyarakat, khususnya diperbolehkannya masyarakat melakukan perjalanan mudik Lebaran pada tahun 2022 ini tentu bukanlah hal yang sembarangan. Pasalnya itu semua sudah melalui perhitungan yang matang dari Pemerintah.

Dengan diambilnya kebijakan tersebut, memang sudah tidak bisa diragukan lagi bahwa penanganan pandemi yang dilakukan oleh Pemerintah RI selama ini bisa dikatakan sangat baik. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia sendiri memang semakin hari kian menunjukkan tanda yang terus membaik.

Sebagaimana data yang disampaikan oleh Menko Airlangga, bahwa Angka Reproduksi Kasus Efektif di Indonesia terus menunjukkan trend membaik, yakni di angka 0,99 atau di bawah 1,00 yang berarti memang pandemi sudah terkendali. Kendati demikian, memang bukan berarti bahwa seolah potensi risiko terpapar Covid-19 hilang begitu saja, masyarakat sendiri juga harus terus dan tetap waspada dengan menggunakan protokol kesehatan di mana pun serta kapan pun.

Menko yang juga menjadi Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) tersebut juga mengaku bahwa Pemerintah saat ini tengah melakukan kewaspadaan dan antisipasi pasca Lebaran. Pasalnya tentu seluruh pihak tidak menginginkan bahwa kurva penularan Covid-19 tiba-tiba kembali melonjak setelah libur Lebaran 2022 ini.

Maka dari itu pemerintah akan terus menetapkan kewajiban dengan melakukan perpanjangan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai suatu strategi yang ternyata sejauh ini terbukti ampuh juga untuk mengendalikan penularan virus. Tidak hanya diimbau untuk terus taat kepada protokol kesehatan, masyarakat juga dihimbau untuk segera melaksanakan vaksinasi khususnya mereka yang masih belum memperoleh dosis kedua dan juga bagi mereka yang belum memperoleh dosis ketiga atau booster.

Per tanggal 24 April 2022 sendiri, dikabarkan oleh Menko Airlangga bahwa kasus harian Covid-19 yang terjadi di Indonesia berada pada angka 382 kasus, yang mana jumlah tersebut sudah berkurang sebanyak 99,4 persen pada puncak Omicron di sekitar bulan Februari dengan kasus harian mencapai angka lebih dari 64 ribu. Kemudian untuk kasus aktifnya sendiri juga sudah mengalami penurunan sebanyak 96,99 persen dari yang sebelumnya mencapai lebih dari 586 ribu kasus, kini menjadi hanya sekitar 17 ribuan kasus.

Bahkan tren penurunan kasus COVID-19 ini tidak hanya berada di Pulau Jawa dan Bali saja, melainkan juga sudah merata termasuk di luar Jawa-Bali. Adanya trend penurunan angka penyebaran pandemi tersebut, ternyata selaras dengan capaian vaksinasi yang terus dilakukan oleh Pemerintah secara merata ke seluruh masyarakat.

Hal senada juga disampaikan oleh Juru Bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi bahwa pandemi di Indonesia memang sudah terkendali sehingga berbagai pelonggaran mulai tampak nyata bisa dilakukan oleh masyarakat termasuk melakukan perjalanan mudik pada lebaran tahun ini, yang mana berbeda dengan keijakan lebaran pada tahun-tahun sebelumnya ketika Pemerintah memberlakukan pembatasan yang ketat.

Keberhasilan Pemerintah dalam mengendalikan pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa sejauh ini semua strategi yang telah dilakukan memang benar-benar efektif dan sangat berpengaruh. Masyarakat pun diimbau untuk selalu mematuhi kebijakan Pemerintah agar tren positif pengendalian Covid-19 dapat terus terjaga dan transisi pandemi ke endemi dapat segera terwujud.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Insititute

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa pengendalian dan situasi Covid-19 di Indonesia lebih baik dari negara lain di ASEAN, termasuk Malaysia dan Singapura. Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan selalu menerapkan Prokes ketat seiring adanya mutasi Covid-19.

Status pandemi di dunia ini memang masih belum berakhir, dalam artian Covid-19 masih saja berpotensi untuk mengancam siapapun, terutama mereka yang tidak mematuhi protokol kesehatan dan juga mereka yang memiliki imunitas lemah. Meski begitu, sejatinya Indonesia sendiri telah berhasil mengendalikan pandemi dengan sangat baik.

Siti Nadia Tarmizi selaku Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 menyatakan bahwa pengendalian pandemi yang ada di Indonesia bisa dikatakan lebih baik daripada negara-negara ASEAN lainnya. Data tersebut bukanlah isapan jempol belaka karena memang menurut laporan di Malaysia sendiri, mereka masih memiliki sekitar 4 ribu kasus hingga tanggal 24 April 2022 lalu.

Kemudian untuk Singapura sendiri mencatatkan sekitar 2 ribu kasus per hari. Bahkan yang jauh lebih parah adalah Thailand yang masih harus berjuang dengan sekitar 15 ribu kasus dan juga Australia dengan sekitar 33 ribu kasus per hari. Sedangkan seluruh data tersebut apabila dibandingkan dengan Indonesia, bisa dikatakan sudah sangat jauh perbandingannya.

Pasalnya tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini hampir semua provinsi di Indonesia sudah berada dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 1, yang mana berarti sudah tidak terjadi lagi peningkatan kasus Covid-19 secara signifikan. Bahkan data menunjukkan, pada tanggal 25 April 2022, Indonesia memiliki hanya 317 kasus. Tidak tanggung-tanggung, Positivity rate yang dimiliki oleh Indonesia mencapai kurang dari 1 persen yakni 0,52 persen.

Mengenai angka kematian di Indonesia sendiri, dilaporkan hanya sebanyak 33 kasus, bahkan pada kejadian tertingginya mencapai 220 kasus ketika puncak Omicron terjadi. Selanjutnya untuk angka reproduksi dari virus tersebut sendiri, di Indonesia sudah mencapai kurang dari 1, yang mana berarti sudah bisa dikatakan bahwa pandemi sudah sangat terkendali di Tanah Air.

Jelas sekali angka tersebut jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain di atas dan juga kita sendiri sudah jauh lebih berbenah apabila dibandingkan dengan meledaknya kasus puncak Omicron dengan puncaknya varian Delta yang memang cukup telak hingga membuat angka kematian menjadi tinggi. Menurunnya angka positifitas tersebut juga berkorelasi dengan menurunnya pula tingkat keterisian rumah sakit hingga dilaporkan pada 23 April 2022 hanya sekitar 3 persen saja dari total kapasitas.

Beberapa pekan terakhir memang status pandemi yang berada di Indonesia kian hari semakin menunjukkan perbaikan dan mengarah ke arah yang lebih baik. Sudah terlihat bagaimana penurunan angka kasus positif harian kita hingga bagaimana akhirnya pihak pemerintah mencoba untuk memberikan kelonggaran masyarakat dalam melakukan mobilitas.

Seluruh perbaikan yang terjadi ini merupakan hasil dari sinergitas yang baik antara peran Pemerintah dengan masyarakat sendiri. Dijelaskan oleh Siti Nadia bahwa peran masyarakat tak kalah pentingnya hingga sekarang kita berhasil di titik ini.
Masyarakat sendiri sangat tertib untuk melakukan vaksinasi mulai dari dosis pertama bahkan hingga dosis ketiga atau booster.

Di pihak pemerintah sendiri, seluruh aturan juga sudah diberlakukan mulai dari kewajiban untuk melakukan vaksinasi, usaha untuk meratakan adanya vaksinasi di setiap wilayah, kewajiban protokol kesehatan, hingga penggunaan PeduliLindungi dan sebagainya. Kolaborasi dan partisipasi dari seluruh pihak tersebut memang merupakan hal yang terbaik untuk bisa segera mengentaskan situasi pandemi.

Keberhasilan penanganan pandemi Covid-19 Indonesia yang terbaik diantara negara-negara ASEAN, hendaknya tidak membuat masyarakat terlena, mengingat saat ini terjadi lonjakan mobilitas pada momentum mudik Lebaran 2022. Oleh sebab itu masyarakat diimbau untuk selalu taat Prokes untuk menjaga tren positif pengendalian pandemi Covid-19 sekaligus mempercepat transisi pandemi ke endemi.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Muhammad Zaki )*

Idul Fitri kita rayakan dengan bahagia karena bisa mudik lalu bersilaturahmi dengan keluarga dan kawan-kawan. Namun saat bertamu atau menerima tamu harus tetap ingat untuk memakai masker dan menaati protokol kesehatan lai karena Corona masih ada di sekitar kita.

Semaraknya Idul Fitri diwarnai dengan silaturahmi, mulai dari keluarga inti, kerabat jauh, tetangga, hingga kawan lama. Semuanya seolah larut dalam kegembiraan dan mengobrol secara asyik karena lama tidak bertemu. Tamu-tamu datang silih berganti dan menikmati kue kering serta hidangan lain yang tersedia.

Namun di momen bahagia berhari raya ini kita harus tetap taat protokol kesehatan karena pandemi masih ada dan belum selesai. Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Corona mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan menaati protokol kesehatan saat beraktivitas, termasuk di hari Idul Fitri. Apalagi jika ada komorbid atau lansia, maka akan lebih rawan kena Corona jika tidak berhati-hati saat silaturahmi.

Para lansia memang lebih rentan terkena Corona karena rata-rata punya komorbid, apalagi jika mereka belum divaksin sama sekali. Ketika menerima tamu maka harus hati-hati dan jangan mau jika diajak bersalaman. Bukannya tidak sopan tetapi dari sentuhan kulit bisa membawa droplet yang bisa saja mengandung virus Covid-19. Terlebih di masa pandemi kita sudah biasa untuk salaman jarak jauh dan hal itu dimaklumi.

Memang saat ini kasus Corona sedang menurun dan jumlah pasiennya hanya berkisar 300-an per hari. Namun kita tidak boleh lengah dan melupakan protokol kesehatan saat silaturahmi lebaran. Penyebabnya karena ketika banyak yang lalai maka takut akan terjadi kenaikan kasus dan pandemi bisa lebih lama lagi durasinya.

Prof Wiku menambahkan, ketika silaturahmi lebaran maka waspada juga akan tamu yang berstatus orang tanpa gejala. Apalagi jika kena Corona gejala ringan maka hanya terlihat seperti flu biasa padahal ia sedang diserang oleh virus Covid-19.

Oleh karena itu meskipun menerima tamu saudara dekat, tetaplah memakai masker untuk proteksi. Bagikan juga masker di dalam paket angpao agar para tamu mengenakannya. Jangan sepelekan masker karena bisa memproteksi diri dari droplet yang mengandung virus Covid-19.

Patuhi juga protokol kesehatan yang lain seperti jaga jarak. Jika sebelum pandemi kita bersilaturahmi dengan bertamu ramai-ramai maka sekarang tidak bisa karena tidak ada jaga jarak. Untuk mengakalinya maka di ruang tamu kursinya dipindah dulu ke tempat lain dan diganti dengan karpet. Para tamu bisa lesehan dan berbincang-bincang dengan lebih lapang tetapi juga wajib jaga jarak dan tak boleh berdempetan.

Untuk memproteksi diri maka setelah ada tamu yang pulang, semprot dulu ruang tamu dengan cairan antiseptik. Ketika ada tamu lagi maka berikan mereka sebotol kecil hand sanitizer agar langsung digunakan untuk membersihkan tangan. Nanti saat mereka pulang maka ruangan disemprot lagi, dan seterusnya.

Setelah selesai menerima tamu atau bertamu maka tutuplah rumah dan langsung mandi, keramas, dan berganti baju. Sedangkan pakaian yang kotor dicuci dengan air panas agar lebih higienis. Kebersihan rumah juga wajib dijaga agar tidak ada virus apapun saat lebaran, yang bisa menghancurkan kebahagiaaan saat berhari raya.

Idul Fitri harus kita jalani dengan hati yang bahagia karena bisa silaturahmi dengan sanak saudara dan kawan. Namun jangan lengah dan melepas masker serta melanggar protokol kesehatan. Ingatlah bahwa saat ini kita masih dalam masa pandemi sehingga wajib menaati protokol kesehatan, demi keselamatan bersama.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini